Balada Jagung Bogang

oleh -320 views

Jagung bogang adalah sebutan masyarakat petani di Gunungkidul terhadap buah jagung yang tidak sempurna perkembangannya, yaitu dari sisi organologinya. Jagung Bogang berupa janggel yang bengkok atau biji jagung yang tidak rata atau penuh mengisi janggelnya. Morfologi bogang bagi jagung ini tidak berlaku untuk hasil pertanian lain , yang menggambarkan hasil pertanian tak bagus. Sayuran terong atau buah timun yang tidak bagus biasanya disebut bungkik. Ketela disebut nylontrot. Kedelai, krewek. Kacang tanah disebut gombong. Ubi jalar dinamai boleng; dan lain-lain. Biasanya di lain daerah atau lain desa, lain lagi istilah atau penyebutannya. Intinya, hasil olah pertanian yang semacam itu oleh petani dianggap tidak maksimal, tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Ada banyak penyebab kegagalan panen seperti di atas, misalnya: bibitnya tidak unggul, pupuknya kurang, tanaman terserang penyakit, tanaman kurang air, kondisi tanah atau lahan yang sudah kritis, atau kondisi salah mangsa atau tidak pas musim tanam, serta faktor penyebab dari alam yang lain.

Panenan jagung bogang. Foto: Padmo
Panenan jagung bogang. Foto: Padmo

Kegagalan panen acapkali membuat para petani Gunungkidul khususnya mengeluhkan betapa berat melakoni profesi sebagai petani, apalagi petani yang mengandalkan air hujan bukan irigasi  permanen. Biaya produksi pertanian yang tinggi, resiko puso atau gagal panen, diperparah dengan sering naik-turunnya harga hasil pertanian, membuat gambling petani di usaha pertanian memiliki tingkat resiko yang tinggi. Petani sekarang tidak lagi sekedar menitipkan benih kepada “Ibu Bumi” saja, tetapi harus sangat ekstra memodali dan merawat tanamannya agar bisa panen.

Coba kita tengok ke belakang mengapa hal ini bisa terjadi. Petani-petani kita dulu adalah petani-petani wutun, petani-petani bersahaja yang sangat akrab dengan alam dan lingkungannya. Istilahnya: titip wiji ing tegal kebenteran. Petani-petani menyerahkan sepenuhnya hasil usaha pertaniannya kepada Gusti dan kehendak alam. Mereka bersahaja, memiliki sifat sumeleh, dan selalu menerima hasilnya dengan rasa syukur.

Dalam kenduri budaya pertanian seperti Rasulan atau kenduri-kenduri ritual yang lain sangat kental adanya penyebutan “ibu bumi bapa angkasa”, atau Mbok Sri Sedono (Sang Hyang Sri), atau Dewi Padi, atau Mbok Dewi Pertimah (Sang Penjaga Lumbung), dan lain lain. Ini menggambarkan kondisi jaman dulu, ketika hasil pertanian tidak diproyeksikan untuk dijual atau dijadikan komoditas ekonomi langsung. Istilahnya dipangan awet.

Seiring perkembangan jaman, tingkat pertambahan penduduk yang tinggi otomatis menuntut tingkat kebutuhan pangan semakin kompleks dan berskala besar. Ini membuat pemerintah Orde Baru kala itu mencanangkan Program Revolusi Hijau. Program Revolusi Hijau bertujuan menggenjot hasil pertanian dengan cara intensifikasi dan difersivikasi pertanian. Petani mulai dikenalkan pada “bibit unggul” dan pupuk pupuk kimia untuk mengejar kuantitas hasil pertanian.

Memang program itu berhasil. Di beberapa dekade Indonesia berhasil menggapai swasembada beras. Namun apakah ada yang keliru dengan program ini? Tentu saja tidak. Berbagai kemajuan di bidang pertanian dirasakan oleh para petani. Teknologi pertanian mulai masuk ke jantung pertanian. Hasil yang maksimal pun mulai dirasakan. Keuntungan petani berlipat ganda.

Seorang petani di Ponjong sedang menggarap lahannya. Foto: Keling
Seorang petani di Ponjong sedang menggarap lahannya. Foto: Keling

Hanya ada yang terlupa dan tercecer yang seharusnya menyertai Program Revolusi Hijau, yaitu menjaga budaya pertanian dan keseimbangan alam baik makro maupun mikro. Jaman telah menggiring dunia pertanian menjadi komoditas industri dan kapital. Bicara kapital, maka pemodal yang kuat akan memakan pemodal kecil, termasuk produsen kecil, dalam hal ini petani. Petani pun kehilangan kearifan lokalnya. Beberapa hal mendasar pertanian menjadi monopoli kapitalis.

Ketergantungan petani terhadap bibit unggul produk perusahaan, sekarang ini, bisa dikatakan “sudah total”. Yang disebut “bibit unggul” adalah bibit sekali tanam,tidak bisa hasil panennya ditanam lagi. Setiap musim tanam tiba para petani harus membeli  “bibit unggul” lagi. Sama halnya ketergantungan petani kepada pupuk kimia pabrik, sudah sangat tinggi. Kebutuhan pupuk setiap tahun meningkat tajam karena tiap luas lahan “meminta” peningkatan pasokan pupuk untuk mengejar hasil pertanian.

Tanah pertanian telah kehilangan unsur haranya. Tanah pertanian di jaman sekarang ibarat gelas kosong yang harus diisi pupuk kimia terus agar tanaman bisa panen. Unsur kimia dan keasaman tanah sangat tinggi (ini terkait dengan produk pangan sehat). Penggunaan pestisida kimia yang selalu dinaikkan dosis-toksinnya menyebabkan hama tanaman menjadi mutan. Petani pun mulai kesulitan mengenali hama tanaman karena setiap tahun muncul “sesuatu yang baru”. Jika ada hama baru yang harus dihadapi oleh para petani, otomatis harus disertai pengadaan pestisida produk baru dengan harga yang mahal.

Lahan Pertanian di Gunungkidul. Foto: Padmo
Lahan Pertanian di Gunungkidul. Foto: Padmo

Beberapa hal itu lah yang menjadikan modal pertanian menjadi tinggi. Tingkat resikonya pun tinggi. Belum lagi bayang-bayang alih-fungsi lahan dan program pemerintah yang tidak bisa lepas dari kepentingan politik dan investor, menyebabkan petani semakin tertekan. Masyarakat petani sebagai produsen menduduki rantai teratas pada mata rantai usaha produksi, sekaligus rantai terbawah.Tekanan ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain mengakibatkan para petani menjadi rentan. Ironisnya, petani merupakan produsen tetapi juga konsumen yang konsumtif.

Ada beberapa solusi yang mungkin bisa dilakukan. Jika solusi ini bisa dilakukan maka harus dilakukan sekarang. Jangan menunda lagi! Pertama, menggencarkan Program Petani Inovatif, yaitu dengan sungguh-sungguh mengajarkan kembali teknologi “Pemuliaan Benih”, khususnya benih lokal, serta mengonservasi lahan pertanian ramah lingkungan (pertanian organik, pupuk organik, dan pestisida organik). Kedua, melindungi petani dari kapitalis dan tengkulak. Dalam hal ini bukan berarti para petani harus anti-kapitalis dan anti-tengkulak, akan tetapi menyesuaikan dengan porsinya masing masing. Solusi ini bisa ditempuh dengan jalan memroteksi harga hasil pertanian dan membangun sarana atau pabrik pengolahan hasil pertanian sedekat mungkin lokasinya dengan petani. Harapannya, aksi ini akan memutus mata rantai tengkulak yang terlalu panjang.

Terakhir, mari kita bersama-sama menjaga budaya pertanian! Pertanian adalah benteng terakhir kehidupan. Dalam bahasa saya, mari kita menjadi petani yang bersahaja, cerdas, dan inovatif! Jika demikian, profesi petani akan menjelma menjadi profesi yang keren dan menjanjikan.

Petani adalah Penyangga Tiang Agung Negara Indonesia (PETANI).

———————

[Penulis: Edi Padmo. Edi Padmo adalah seorang perupa, berasal dari Playen. Ia pegiat konservasi sumber air di beberapa wilayah di Gunungkidul. Bersama dengan kawan-kawannya Edi Padmo membangun Komunitas Resan Gunungkidul.]