Bersih Kali

oleh -208 views
Bersih kali di salah satu dusun di Gunungkidul. Foto: Tugi.

Memasuki bulan-bulan ini adalah waktu di mana masyarakat perdesaan Gunungkidul melaksanakan tradisi “bersih desa/dusun”. Ada yang menyebutnya “merti desa/dusun”, ada punya yang menyebutnya sebagai “rasulan”. Meskipun istilah desa sekarang diganti dengan kelurahan, tetapi istilah “bersih desa” rasa-rasanya nggak mau ikut-ikutan diganti dengan “bersih kelurahan”.

Jauh-jauh hari sebelum menyelenggarakan tradisi bersih desa/dusun, masyarakat desa/dusun biasanya melaksanakan tradisi yang diberi nama “bersih kali”. Membersihkan area yang luas yang disebut desa senantiasa diawali dengan membersihkan sumber airnya terlebih dahulu. Di desa saya, bersih kali di masing-masing dusun selalu menunggu dilakukannya bersih kali di Dusun Gunungbang. Mungkin, dusun di dekat aliran Kali Oya itu yang menjadi penjuru tradisi ini, karena begitu telah digelar upacara bersih kali di dusun tersebut, maka dusun-dusun lainnya segera menyusul melakukan upacara serupa.

Bersih kali ditandai dengan kegiatan pendahuluan berupa kerja gotong-royong membersihkan sumber air komunal milik warga dusun. Ada yang berupa belik, sendang, atau kali. Kegiatan fisik membersihkan kali banyak ragamnya, mulai dari menguras lendhut dasar sungai, membersihkan kolam air dari ranting dedaunan yang mengotori, ndandani umpak sumber air, ndandani beteng, nyapu lingkungan kali, mencabuti rumput liar, dan merawat pepohonan yang tumbuh di lingkungan sungai.

Setelah selesai membersihkan sungai secara fisik, pada hari-H yang di-keramat-kan, misalnya Senin Legi, warga dusun kembali datang ke kali dengan membawa sega-gurih dan ingkung ayam untuk kenduri bersama. Inilah puncak acara yang dinamakan tradisi bersih kali.

Warga berkumpul membuat lingkaran di dekat sumber air. Hidangan sega-gurih dan ingkung ayam yang dibawa warga diserahkan kepada panitia, dikumpulkan jadi satu di tengah lingkaran kenduri. Ada panitia yang membagikan lembaran daun jati atau juga kertas bungkus makanan di depat seluruh warga yang hadir. Ada panitia mempersiapkan kembali hidangan. Proses yang cukup memakan waktu adalah nyuwir-nyuwir ingkung ayam agar dapat dibagi merata kepada seluruh peserta kenduri bersama sega-gurihnya.

Nyuwir-nyuwir ingkung untuk dibagikan ke peserta kenduri bersih kali. Foto: Tugi.

Setelah hidangan terbagi merata, pemimpin acara kenduri kemudian meminta Mbah Kaum untuk memimpin ikrar dan doa kenduri. Mengucap syukur atas berkah wulu wetuning bumi (panenan) yang diterima warga dusun. Mengucap syukur atas berkah berupa air sungai, belik, sendang yang mampu mengawal dan menjaga hidup dan kehidupan warga dusun.

Sisi lain modernitas sering memandang tradisi bersih kali (juga bersih desa) sebagai hal yang absurd (lucu, wagu, ngayawara, nggak masuk akal, konyol). Sedikit agak lembut tapi esensinya juga tak kalah menyakitkan, ada yang memandang tradisi bersih kali adalah sekadar “komoditas pariwisata”. Ini bisa menjadi “calendar of event” yang mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah dari wisatawan yang berkunjung.

Masyarakat perdesaan sering di-label-i tak berpendidikan, bodoh, murang tata murang-kawruh. Namun, mereka tetap setia menjalankan tradisi bersih kali, bahkan tanpa embel-embel “demi pariwisata dan pelestarian budaya” sekalipun. Mengapa? Karena mereka paham, mengetahui, dan mengalami secara langsung, bahwa hidup dan kehidupan beserta hasil olah tani mereka itu gantungannya adalah ketersediaan air. Ya, ketersediaan air di kali, di sendang, di belik, di kedung dan kalenan dekat ngalas, di sumur-sumur rumah mereka masing-masing.

Karena itulah, sudah sejak dahulu para leluhur senantiasa “nyengkerke” atau “mengkeramatkan” sumber-sumber air. Meng-khusus-kan atau meng-istimewa-kan air, sumber air, berikut tumbuhan rindang di seputarnya. Kelestarian mereka (air, sumber air, tetumbuhan) adalah tanda-tanda bisa lestarinya manusia.

Membasuh muka dengan air kali. Foto: Tugi.

Karena itulah, masyarakat perdesaan terbiasa berbicara dengan air, bebatuan, dan tetanaman rimbun dekat kali. Menjadi hal biasa ketika masih ada simbah-simbah yang komat-kamit bicara di pojokan kali atau belik sambil membakar aroma-therapi wewangian. “Ndherek langkung mbah, kula ajeng teng Wetan Klumpit,” itu biasa diucapkan ketika melintas di samping resan pohon bulu atau beringin di pinggir sungai. Panggilan Mbah bukankah untuk menyebut yang lebih tua dari umurnya? Bukankah resan-resan besar di pinggir sungai usianya juga lebih tua dari warga dusun?

Saat kenduri bersih kali di dusun saya 2017 lalu, dari jauh saya masih menjumpai seorang ibu yang jongkok di bibir kali. Ia segera mengayunkan tangan kanannya ke permukaan air sungai yang bening itu. Air dalam genggaman tangan itu kemudian dipakainya buat membasuh “pasuryan” si ibu petani tersebut. Terlihat raut muka yang cerah riang gembira bersegera mengikuti kenduri setelah “raup” dari air sungai itu.

Barangkali, setiap kita juga perlu “raup” dengan “toya wening” seperti tindakan ibu petani tersebut, agar tersingkirkan “belek” atau kotoran yang membuat kita sering “blereng”. Dengan demikian kita bisa jernih melihat kahanan kanthi permana, dan bisa bertindak dengan baik dan benar. Apalagi bulan-bulan ke depan semakin mendekati hiruk-pikuk pilkada.

***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.