, , , , ,

Gunungkidul: Antara Simbol dan Liminalitas

oleh -149 views

Di sebelah barat rumahku ada sebuah resan. Resan atau tempat bersemayam sing mbahureksa, begitu konon katanya. Resan itu berupa pohon beringin yang sudah tua. Entah usianya berapa, saya tidak tahu. Siapa yang menanam, mbuh ora weruh. Resan itu berada tepat di depan masjid. Siapa yang dimaksud Sang mBahureksa? Wadhuuuuhh… Ini pertanyaan yang belum bisa saya jawab.

Di resan, saya pernah melihat orang berpakaian batik duduk bersimpuh penuh khidmat. Di resan itu, seorang berpakaian safari, yang dikawal oleh ajudannya juga pernah komat-kamit di bawah pohon beringin yang rindang itu. Kelompok reog pun membakar kemenyan dan menabur bunga sebelum mereka tampil. Entah apa yang mereka doakan atau apa yang mereka minta, tak seorang pun warga sekitar mengetahui. Mungkin hanya si pendoa dan resan yang tahu, eh… Tuhan yang tahu.

Resan itu adalah simbol. Selain resan, masih banyak lagi simbol yang bisa kita temukan di Gunungkidul. Misalnya, cupu panjala, candi, batik Tancep, reog, Dewi Sri dan sebagainya. Gunungkidul adalah kabupaten yang kaya dengan simbol dan ritual. Lha terus ngapain? Apa gunanya simbol?

Manusia pada dasarnya adalah Homo Symbolicum (Makhluk Simbolik). Dalam budaya agraris manapun, dikenal ritual dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari kelahiran sampai kematian, semisal tedhak bumi, rasulan, sunatan, pernikahan, peringatan 3 hari orang meninggal lan sak panungilipun.

Dalam semua ritual, simbol adalah unsur utamanya. Manusia menyukai simbol. Manusia tidak bisa hidup tanpa simbol. Simbol tidak memiliki arti yang tunggal. Ia multitafsir, tergantung siapa yang menafsirkan dan apa kepentingannya. Tak heran, terkadang kita menemukan arti yang saling bertentangan penafsiran (polarisasi) sebuah simbol. Misalnya, apa arti ”moksa” dalam kisah Brawijaya V? Apa arti ”rasulan” bagi para pelakunya? Apa arti bunuh diri bagi warga Gunungkidul?
Selain multitafsir dan polarisasi, ternyata simbol juga bisa menyatukan. Misalnya dalam ritual Cing-cing Goling, rasulan dan pembukaan Cupu Panjala. Dalam kedua ritual tersebut, warga hadir dan terlibat. Mungkin sekedar untuk menyaksikan, tetapi juga ada yang melibatkan diri dalam prosesi ritual. Sampai disini, saya mengutip seorang Antropolog yang bernama Victor Turner. Miturut Turner, ritual itu ada dua jenis, yaitu ritual tentang krisis hidup dan ritual tentang ”gangguan”.

Ritual yang terkait dengan krisis hidup semisal kelahiran, pubertas dan kematian. Ada proses bertahap dari ritual-ritual tersebut. Sedangkan ritual terkait “gangguan”, contohnya pulung gantung, Cupu Panjala dan seterusnya. Ritual jenis ini memiliki pengaruh dalam kehidupan religius warga Gunungkidul.

Persis disinilah locus bagi warga Gunungkidul, mereka yang bersimpuh di depan resan, mereka yang kungkum di sungai, mereka yang ngalap berkah di petilasan Ki Ageng Giring, mereka yang takjub dengan Cupu Panjala, mereka yang tepekur merenung di makam Ki Ageng Wanakusumo, mereka yang trance menari reog atau jathilan, mereka yang berjalan arak-arakan saat rasulan dan mereka yang khusuk berdoa di tempat-tempat peziarahan… Mereka, baik secara personal maupun komunal sedang berada dalam situasi dan kondisi Liminal. Liminal berarti “tidak sedang berada disana atau disini”.

Dalam kondisi tersebut, subyek ritual mengalami hal yang berbeda dengan kenyataan hidup sehari-hari. Atmosfer liminalitas adalah dunia yang kebak pangarep-arep. Ada kesadaran dan kehendak (harapan) yang dipertaruhkan disana. Dalam situasi tersebut struktur sosial menjadi tidak penting. Satu-satunya yang menjadi “kenikmatan dan gairah” adalah merasakan ambiguitas dalam ke-ambang-an, tidak disana tetapi juga belum disini. Ada transendensi yang bergelora. Tetapi juga mode-of-being-in-the-world, kata Noel Bradley.

Saat ini kita bersama sedang mengalami euforia Pilkada 2020. Ini adalah dunia liminalitas ala postmodernisme. Dalam Pilkada, simbol berhamburan. Warga Gunungkidul bermain dan “dipermainkan” oleh simbol-simbol politik, seperti stiker, kaos, bendera, gelang karet, wajan dan sebagainya. Selamat menikmati gairah liminalitas. Berbahagialah manusia yang bisa menikmati dan merayakan kehidupan melalui simbol. ***

Tentang Penulis: Wahyu Widayat

Wahyu Widayat
Fasilitator pelatihan kepemimpinan, motivasi dan komunikasi. Hobi fotografi dan menulis. Pernah bekerja di perusahaan pertambangan di Papua dibidang HRD and Leadership Development. Saat ini aktif dibidang pendidikan dan pemberdayaan sosial di Gunungkidul.