Handel Tutup Panci

oleh -225 views
Handel tutup panci. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – Hari ini saya benar-benar merasa sangat lega. Semua itu terjadi karena berhasil mengatasi perkara sederhana yaitu handel tutup panci telah kembali.

Gambaran persoalannya begini. Jika handel bulat hitam itu diibaratkan tuan maka setidaknya ada empat panci tak bertuan tergeletak di rak piring dapur. Benda hitam kecil yang biasa menempel di tengah-tengah tutup panci itu copot semua. Rata-rata masalah terjadi sebab mereka tak bisa dipertahankan kedudukannya karena ulir sekrupnya dol. Meski demikian, kami tetap menggunakan panci beserta tutup tak berhandel itu, ya eman-eman gitulah.

Namun gara-gara hal itu, semua pemakaian panci jadi serba tak nyaman. Contohnya, ketika kami merebus air untuk mandi, biasa menggunakan jenis panci bertutup kaca. Nah, ketika sudah kemrengseng api kumatikan lalu harus menggeser tutup dengan ujung sendok baru diangkat tutupnya dengan celemek tebal. Repot.

Juga ketika kami menggunakan panci lainnya, panci ukuran kecil biasa untuk merebus mie atau panci yang agak besar yang biasa untuk mengukus ubi atau makanan sejenis. Seringkali cara membuka tutup panci itu dengan mencukil bolongan dengan sendok atau pisau lalu memegang dengan alas serbet tebal supaya tak tembus panas ke tangan. Kadang mrucut lalu tersenggol tangan.

Gara-gara membiarkan tutup panci tetap bolong tengahe, urusan ini jadi tak sepele.

Sebagai laki-laki, saya kadang merasa agak gimana gitu. Ini urusan siapa sih? Urusan dapur dan perbaikan alat-alatnya jadi urusan laki-laki? Pertanyaan itu menjadi sangaat tidak pentiing. Saya lupa bahwa yang jadi persoalan utama sepertinya tentang perbaikan tak perlu ditunda terlalu lama. Sialnya tak pernah kusempatkan untuk segera menangani.

*

Hari Kartini telah berlalu. Momen itu setidaknya menjadi alarm bahwa urusan domestik tak identik dengan para putri. Tidak begitu.

Siang tadi kusempatkan berburu handel tutup panci. Kidung menemaniku. Kami menanyakan barang yang sangat istimewa itu di beberapa toko. Akhirnya, kami menemukan di Toko Serba Lima Ribu di Negeri Kahyangan.

Kami membeli empat buah. Satu lembar dua puluh ribuan cukup untuk membawa keempatnya pulang dan langsung kupasang.

“Wah, ternyata kurang satu pak, ini satu lagi tutup panci yang bolong tak ada handelnya!” Kidung menemukan satu tutup panci lagi yang tak ada handel hitamnya.

“Ok, besuk langsung kita cari lagi!”

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.