Hunjam di Bulan Juni

oleh -205 views
Tangan orangutan di kurungan tempat wisata. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – Bulan Juni terasa berat sekali. Khususnya menjalani hari-hari pada pertengahan sampai akhir bulan itu. Rasanya seperti seorang nenek yang berjalan dengan kaki berkulit keriput melalui tanjakan. Letih dan tertatih-tatih, bahkan untuk menuangkan gagasan dalam beberapa kata saja, rasanya cunthel. Saya tak sanggup menggerakkan jari-jari ini.

“Pak, kenapa bapak ndak nulis lagi?” Kidung bertanya terdengar pelan dan hati-hati sambil memijat punggungku. Sepertinya bocah itu merasakan keresahan dan kebuntuan bapaknya. Ia mengeryitkan dahi dan menunjukkan mata seperti sedang berbelaskasihan pada bapaknya.

“Iya, mbak, bapak baru gabut…”

Tak biasa hujan di bulan Juni ini. Air yang turun deras dari langit Negeri Kahyangan membuat sebagian warga bergirang karena bebas dari kekeringan. Tak perlu membeli air karena bisa memanennya. Tak perlu mencari bantuan droping air karena ada persediaannya. Saya pun ikut senang.

Namun deras air dari langit itu sesungguhnya menusuk perasaanku. Mereka seakan mengganti air mataku yang tertahan ketika menyaksikan beberapa sahabat dipanggil Tuhan. Seorang ibu yang sangat ramah dalam pergaulan dan mempunyai banyak teman. Ia harus meninggalkan semua diiring doa dari suami dan anak-anaknya juga ribuan sahabat dari kejauhan. Selisih lima hari kemudian, menyusul seorang laki-laki seusiaku setelah beberapa hari menjalani isolasi.

Dhuh, Gusti, berapa lama lagi kami harus menanggung beban ini?

Isolasi, ya isolasi. Saya mengulang kata-kata ini sambil unjal ambegan, teringat beberapa tahun yang lalu. Tatapan mata yang aneh dari seekor Orangutan di Waduk Gajah Mungkur. Tatapan matanya nanar, tak kosong namun warna matanya seperti tertabrak-tabrak jeruji yang memenjaranya. Dia kehabisan daya ronta, lalu pasrah dijadikan objek oleh manusia, dipajang dan dijauhkan dari habitat aslinya.

Tampaknya kini Virus Corona-lah yang menjadi kepanjangan pesan ‘Orangutan’ itu bagi manusia. Mereka memaksa manusia lepas dari habitatnya dan menegaskan siapa objek sesungguhnya.

Seakan dengan ketus ia mengatakan, “Aku ada dan rasakanlah keberadaanku!”. Kata-kata itu menusuk perasaanku.

Selain mencelikkan mataku, suara itu juga memaksaku merenunginya. Menyeretku untuk bersalaman dengannya dan membatin dengan keras, “Semoga kami bisa segera berangkulan dan tak saling memenjarakan!”

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.