Inilah Mengapa Akasia Menjadi Salah Satu Tanaman Pionir Penghijauan

oleh -155 views
Tanaman akasia di wilayah Pegunungan Sewu Gunungkidul. Foto: Kiswanto.

Pada saat Inpres Bantuan Penghijauan dilaksanakan di Gunungkidul dengan sasaran lahan kritis di luar kawasan hutan negara mulai tahun 1977 hingga beberapa tahun kemudian dipilih beberapa jenis tanaman pioneer yang sesuai dengan kondisi setempat. Di antara jenis tanaman tersebut adalah pohon jati, mahoni, dan akasia.

Jati dan mahoni sebagai tanaman penghijauan memiliki daur panen yang cukup lama, hingga puluhan tahun baru layak panen. Sementara itu, akasia kurang sepuluh tahun sudah masak panen.

Tanaman akasia termasuk keluarga Fabaceae dan genus Acacia. Tanaman ini berasal dari Amerika Utara dan Australia. Akasia berasal dari kata Yunani “akis” yang berarti duri. Sampai tahun 2005 diperkirakan telah mencapai 1.300 spesies, di mana 960 merupakan flora asli Australia. Di luar itu dari Amerika yang familiar dengan sebutan Vachellia dan Senegalia.

Morfologi tanaman akasia tinggi pohon bisa mencapai 15 – 30 meter dengan diameter batang bawah sekitar 50 cm. Bentuk daun anakan akasia yang baru tumbuh dari kecambah merupakan daun majemuk dengan banyak anak daun. Setelah beberapa minggu daun majemuk tidak ada tetapi tangkai daun dan sumbu utama setiap daun majemuk berubah melebar dan menjadi phyllode. Phyllode mempunyai tulang daun paralel dengan panjang 25 cm dan lebar 10 cm.

Persyaratan tumbuh tanaman akasia pada tempat dengan ketinggian 480 – 800 m dpl. Kemudian pada rerata curah hujan 1446 – 2970 mm/tahun. Suhu 31 – 34 °C mampu toleran terhadap lingkungan dan kondisi tanah yang tandus.

Kenapa Disebut Pohon Pionir?

Tanaman akasia yang banyak ditemui di lahan masyarakat adalah jenis Akasia berdaun lebar yang familiar dengan Accacia auriculiformis. Ada sebagian petani menyebut sebagai akasia formis dan sebagian kecil jenis akasia mangium.

Akasia disebut sebagai tanaman pionir karena dapat meregenerasi secara alami di lokasi yang sudah terganggu (Gunn dan Midgley, 1991). Pohon akasia mudah tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungan, sehingga banyak digunakan untuk penghijauan lahan kritis guna mencegah erosi dan konservasi tanah.

Tanaman ini juga terkenal cepat tumbuh atau quick yielding, dengan daur panen 5 – 6 tahun di Indonesia, sedangkan di Eropa suhunya rendah mencapai 25 tahun.

Kualitas kayunya cukup baik, keras karena memiliki rendemen (galih). Di dalamnya bisa untuk bahan bangunan dengan kelas awet III, mebelair serta kayu bakar. Sedangkan daunnya untuk pakan ternak. Untuk kualitas kayu, akasia auriculiformis lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan akasia mangium.

Pohon akasia mulai diintroduksi di wilayah Gunungkidul DIY pada tahun 1970-an bersamaan dengan adanya Inpres Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Lahan Kritis.

Pohon akasia disukai petani Gunungkidul karena mampu berkompetisi dengan gulma yang agresif, seperti alang-alang. Akasia juga mampu mengatur nitrogen udara dan menghasilkan seresah yang dapat meningkatkan sifat biologis tanah serta merehabilitasi sifat-sifat fisika dan kimia tanah (Otsamo dkk., 1995). Perakaran akasia yang dangkal, padat dan tersebar sehingga cocok untuk penghijauan, konservasi tanah serta mencegah erosi.

Jenis-jenis akasia lainnya yang ada di Gunungkidul di antaranya Akasia aulacocarna, Akasia crassicarpa berada di Wanagama sebagai koleksi untuk pendidikan dan penelitian. Sedang Akasia oraria berada di Tahura Bunder.

Benarkah Akasia Rakus Air?

Ada anggapan dari sebagian masyarakat yang menilai tanaman akasia rakus air. Benarkah demikian?

Tanaman akasia berbeda dengan jati dan mahoni yang mampu beradaptasi dengan lingkungan, terutama saat musim kemarau dengan cara menggugurkan daunnya.

Untuk tanaman mahoni memiliki semacam racun disebut alelopati yang menyebabkan di bawah tegakan pohon mahoni tidak dapat tumbuh baik tanaman lainnya termasuk tanaman pangan dan hortikultura.

Barangkali karena itulah saat musim kering tiba tanaman akasia tetap membutuhkan air tanah untuk kepentingan keberlangsungan hidupnya.

Namun belum ditemukan penelitian yang hasilnya menyatakan bahwa tanaman akasia rakus terhadap air.

***

Klaten, 26-10-2020

* Ditulis dari berbagai sumber.

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.