Jagung dan Filosofi Hidup

oleh -548 views
Sebentar lagi panen jagung. Foto: Slametharjo.

Anda suka jagung bakar, jagung rebus, jagung goreng, nasi jagung, emplek jagung, apem jagung atau makanan lain dari bahan dasar jagung?

Ketika kita melihat pohon jagung, sebenarnya ada filosofi kehidupan yang bisa kita ambil untuk kita jadikan motivasi dalam hidup ini. Semua bisa kita ambil sisi sisi positifnya sebagai bahan instrospeksi diri.

Untuk tumbuh sampai berbuah, pohon jagung melalui suatu proses yang panjang. Proses yang sempurna menyebabkan jagung yang sebutir bisa menjadi ratusan butir.

Proses menanam jagung dimulai dari penyediaan lahan, penyediaan bibit, penyediaan pupuk, penyediaan obat-obatan dan perawatan lingkungan. Mula-mula biji jagung ditanam dalam lubang dan di timbun tanah, untuk bisa tumbuh diperlukan air, agar subur diperlukan pupuk, dan perlu dijaga dari rumput liar agar pohon jagung tumbuh subur.

Begitu juga kehidupan manusia, jagung yang berusaha tumbuh dari timbunan tanah diibaratkan manusia yang berusaha keluar dari timbunan masalah. Manusia memang harus secara terus menerus berusaha agar masalah bisa disingkitkan sehingga manusia bisa bebas beraktifitas.

Jagung yang tumbuh subur tanpa diganggu gulma akan menghasilkan buah yang besar, yang berisi ratusan butir jagung yang berjajar rapi, sehingga siapapun yang melihat akan senang. Buah jagung yang baik pasti akan dipilih untuk dijadikan simpanan benih maupun untuk dinikmati dalam bentuk jagung bakar maupun jagung rebus.

Manusia yang sudah mampu keluar dari tumpukan masalah, akan tumbuh menjadi manusia yang baik, berbudi pekerti luhur, berkarakter sehingga siapapun ingin berteman dan bergaul dengan orang baik, karena yakin kebaikan orang itu akan bermanfaat bagi banyak manusia lainya.

Pohon jagung itu berbuah hanya sekali. Hal ini perlu ditafsir atas dasar berfikir positif. Pohon jagung juga tidak bercabang. Dengan demikian, berpikir positif juga meningkatkan tingkat kepuasan jiwa dan perasaan bahagia. Orang yang berfikir positif selalu melihat segala sesuatu dari sisi positif sehingga bisa menikmati hidup lebih baik.

Selain itu orang yang berpikir positif selalu bersyukur atas apa yang ada padanya atau pengalamannya sehari-hari. Hal yang tak kalah penting adalah berpikiran positif dan meningkatkan kualitas interaksi dengan orang lain.

Yuk bakar jagung. Ini jagungku, mana jagungmu?

***

Nglebak Katongan, 26 Januari 2020.

ucapah hut GK KH

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.