Kerupuk

oleh -154 views
Kerupuk. Foto: Riswanto.

Hiruk pikuk tentang mengoreng krupuk tentu sangat amat berbeda dengan goreng-mengoreng ala PILKADA kali ini. Apapun tentang Pilkada Gunungkidul yang sebentar lagi akan dihelat, amat sangat nyata kata-kata MENGORENG ini lebih dominan menyeruak ke permukaan, terlebih lebih di jagat dunia maya atau juga di social media.

Begitu banyak temen-temenku yang terlibat aktif di dalam pesta demokrasi local ini, gayeng regeng dan penuh dengan kegembiraan. Temen-temenku pada ngeluarin kreatifitas masing-masing. Berbagai macam posisi teman-temanku berada di dalam PILKADA kali ini. Ada yang jadi team JURKAM, ada yang bertugas bermain-main opini di social media, dan ada juga yang senang jadi penggembira yang menang keplok, reti ra reti sing penting keplok ro sorak. Kalau ndak ya ramai-ramaiin komen di social media, mbuh apa yang dikomenin penting komen, sorak dan keplok…..hehehehe (aku banget).

Kali ini bukan gorengan hiruk-pikuknya Pilkada tapi tentang KERUPUK. Kuliner yang satu ini sepertinya wajib ada di dalam piring orang-orang Indonesia. Karena makanan ini bisa disandingkan dengan berbagai kuliner, baik itu kuliner yang berkuah maupun yang tidak berkuah, rasanya renyah dan memberikan sensasi kriuk dengan memberikan efek bunyi pada saat digigit, hal inilah membangkitkan indera pendengaran sehingga dengan sendirinya memberikan seolah-olah rasa kenikmatan tersendiri..

Pada masa kecilku dulu, yang mana daripada menjalani hidup masa kecil beranjak ke remaja di dusun Gadungsari Wonosari, aku ingat untuk pabrik kerupuk. Boleh dibilang pabrik karena sekala pembuatan kerupuknya cukup banyak. Pabrik itu tak lain dan tak bukan adalah ndalemnya pak Jaimo ini, masih satu dusun denganku, tapi sudah beda RT dan RWnya.

Seingatku, Pak Jaimo ini membuat kerupuk bermacam-macam. Ada kerupuk gambang suling atau kerupuk mie kalau orang Jakarta bilang, ada juga kerupuk yang berbentuk bulat warna-warni, kerupuk rambak dan lain-lain yang banyak sekali macemnya.

Pak Jaimo ini kebetulan adalah customer loyalnya mbah Uti, kenapa bisa begitu karena untuk kebutuhan makan keluarga dan karyawannya, mba Utilah yang mensuplay bahan pokok berupa beras. Hubungan sudah demikian baik sekali antara pembeli dan penjual.

Aku kasih sediikit bocoran inih, bahwa mbah Utiku itu tidak bisa baca tulis alias buta huruf. Namun ilmu tentang tentang menservice pelanggan mbah Uti itu adalah jagonya. Ibarat untuk jaman milenial sekarang ini, mbah Uti sudah menerapkan apa yang dibilang dengan customer satisfaction, sebab kepuasan pelangan adalah yang utama dalam hubungan jual beli ini.

Contoh paling nyata adalah saat rasulan atau bersih dusun. Tempat pak Jaimo menjadi prioritas utama untuk wehweh dalam tradisi rasulan. Wehweh itu adalah munjung atau memberikan nasi berkat komplit dengan lauk pauknya. Tentu saja hantaran atau wehweh yang diperuntukkan untuk pak Jaimo adalah yang premium punya yang disiapkan oleh mba Uti, dan sudah menjadi sebuah tradisi juga bahwa tiap tahun yang ngeterke wehweh tersebut tidak boleh orang lain harus aku.

Dengan purbo waseso yang cenderung otoriter, aku sebagai cucu kesayangan mba Uti lah yang berhak dan harus untuk ngeterke wehwehan tersebut. Janjannya ini rahasia untuk aku saja, tapi tidak apalah aku kandani bahwa setiap kali aku ngeterke wehwehan rasulan ke pak Jaimo, setelah menerimanya tidak lupa pak Jaimo nyangoni dengan jumlah yang lebih banyak dari tempat tempat yang lain. Maka dari itu sedikit otoriter aku menitahkan ke mbah Uti bahwa yang ngeterke wehwehan ke pak Jaimo harus aku.

Dah gitu aja dulu, aku mau beli kerupuk dulu….

Aku titip pesen yak, jangan jadi kaya KERUPUK. Bar digoreng ketok ramai renyah setelah jadi mlempem koyo KERUPUK keno banyu……

Tertanda: Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

***

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae