Kethek Ogleng

oleh -58 views
Peraga sendratari Kethek Ogleng pada FKY 2019. Dok: instagram nella-gonell

Kethek Ogleng adalah salah satu kesenian rakyat yang ada di wilayah Gunungkidul. Awalnya berupa sendratari yang biasanya dipentaskan di perdesaan saat warga selesai panenan, sedang menggelar hajat mantenan, atau warga yang melunasi nadzar tertentu.

Saat ini pertunjukan Kethek Ogleng sudah jarang ditemui. Kethek Ogleng sepertinya senasib dengan kesenian rakyat lainnya seperti wayang topeng, srandul, rinding gumbeng, atau bahkan kethoprak. Karena itu tidak aneh apabila anak-anak muda generasi milenial tidak mengenalinya. Bahkan ada yang menyebutkan, bahwa Kethek Ogleng itu ya pertunjukan topeng monyet naik motor-motoran yang sering keluar-masuk kampung dan digemari anak-anak.

Nama Kethek Ogleng berasal dari kata kethek dan ogleng. “Kethek” berarti kera atau munyuk. Sedangkan kata “ogleng” ada yang menafsirkan berasal dari suara “nong-gleng” bunyi saron dan demung yang dominan dari musik iringannya. Ada lagi yang menafsirkan “ogleng” berasal dari kata “degleng” yang bermakna “gila” karena memandang gerak-gerik kera yang diangap berperilaku abnormal. Terus terang saya risih dengan anggapan kedua ini. Lha kok bisa-bisanya kita menganggap perilaku kera itu tidak normal?

Saya mengenal nama pertunjukan Seni Kethek Ogleng sudah sejak lama, namun belum berkesempatan bisa melihat pentas sendratari ini secara langsung. Pengenalan nama Kethek Ogleng saya dapatkan ketika berjumpa dengan Paklek saya yang menceritakan pengalamannya menggarap tata gending rombongan kesenian tradisional dari Gunungkidul saat pentas di Provinsi DIY, di Jakarta atau mengisi undangan pentas event internasional.

Barangkali, kalau masih pengen menikmati pentas Kethek Ogleng di Gunungkidul ya mesti jeli melihat saat-saat istimewa seperti Festival Kebudayaan tingkat Kabupaten atau Provinsi. Justru di sanalah Kethek Ogleng pentas sebagai “proyek” atau kegiatan pelestarian kebudayaan. Atau jika beruntung, jelilah melihat kegiatan peresmian desa budaya atau desa wisata, terkadang masih ada desa yang menggelar pertunjukan Kethek Ogleng secara mandiri.

Tautan berikut ini adalah dokumentasi dari akun youtube Dodol Gunungkidul yang berisi pertunjukan Kethek Ogleng di kawasan Goa Gilap Kenteng Ponjong. Video diunggah pada 25/1/2019. https://youtu.be/BfgeDAVoi50. Nampak Bupati Gunungkidul dan para pejabat kabupaten menghadiri acara yang disuguhi pentas Kethek Ogleng.

Kalau kita tengok ke wilayah tetangga, seni Kethek Ogleng ternyata juga tumbuh dan berkembang di wilayah Wonogiri Jawa Tengah dan Pacitan Jawa Timur. Rupanya, sendratari Kethek Ogleng juga berkembang di wilayah Kediri Jawa Timur. Untuk wilayah DIY, setahu saya kok sepertinya belum pernah terdengar ada kesenian Kethek Ogleng di Jogja Kota, Sleman, Bantul, dan Kulonprogo. Kecuali saat rombongan Seni Kethek Ogleng dari Gunungkidul pentas di sentra seni-budaya di keempat wilayah tersebut.

Nah, adanya seni Kethek Ogleng di Wonogiri dan Pacitan lagi-lagi mengingatkan kepada peta fisiografis Van Bemmelen yang menyebutkan bahwa wilayah Gunungkidul adalah bagian dari Pegunungan Selatan Jawa (Bagian) Timur. Sosio-kultural masyarakat Gunungkidul nampaknya lebih dominan kemiripannya dengan masyarakat di wilayah pegunungan selatan Jawa ke arah timur.

Menurut catatan Kemdikbud, kesenian Kethek Ogleng termasuk warisan budaya takbenda (the intangible cultural heritage). Piagam tanda warisan budaya takbenda untuk seni Kethek Ogleng ini diberikan Kemdikbud kepada ketiga kabupaten disebutkan tadi (Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan). Warisan budaya takbenda adalah berbagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan – serta instrumen, obyek, artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya- bahwa masyarakat, kelompok dan, dalam beberapa kasus, perorangan merupakan bagian dari warisan budaya tersebut. Warisan budaya takbenda ini diwariskan dari generasi ke generasi, yang secara terus menerus diciptakan kembali oleh masyarakat dan kelompok dalam menanggapi lingkungan sekitarnya, interaksi mereka dengan alam dan sejarah mereka, dan memberikan rasa identitas yang berkelanjutan, untuk menghargai perbedaan budaya dan kreativitas manusia (UNESCO Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage, 2003).

Seni Kethek Ogleng di Gunungkidul, menurut catatan Kemdikbud dijumpai pertama kali di daerah Semanu pada tahun 1935. Dari Semanu kemudian berkembang ke wilayah Tepus, Semin, Wiladeg, dan daerah-daerah lainnya di Gunungkidul. Pentas Kethek Ogleng bermula dari pentas di lapangan desa atau halaman keluarga yang menanggap, kemudian juga diundang untuk pentas di pendapa pemerintahan atau gedung pertunjukan. Pada tahun 70-an, hampir seluruh wilayah kabupaten di DIY memiliki kelompok seni Kethek Ogleng, namun kelompok-kelompok kesenian ini berangsur-angsur menghilang, tersisa beberapa kelompok di Gunungkidul. Salah satu kelompok seni yang masih melestarikan Kethek Ogleng di Gunungkidul adalah Sanggar Tari Kendalisada yang didirikan pada tahun 2002. Menurut penelusuran, sanggar ini menyajikan pentas Kethek Ogleng pada gelar event Festival Kebudayaan DIY 2019 lalu.

Sendratari Kethek Ogleng di Gunungkidul pada dasarnya merupakan pentas yang berisi tarian, dialog, tetembangan, dan musik gamelan pengiring yang rancak mengiringi gerak tari yang enerjik. Pertunjukan Kethek Ogleng mengambil wiracarita Panji jaman Kerajaan Kediri dan Jenggala. Tokoh Kethek Ogleng mengisahkan tokoh Panji Asmarabangun yang berkelana mencari kekasihnya yaitu Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri yang hilang secara tiba-tiba. Dalam proses pencariannya, Panji melakukan penyamaran agar identitasnya tidak diketahui, begitupun dengan Dewi Sekartaji. Pengembaraan pencarian kekasih melalui penyamaran hadir dalam pertunjukkan Kethek Ogleng.

Tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam pertunjukkan ini adalah: Kethek Ogleng, Endhang Rara Tempe, Mbok Randha, Panji Asmarabangun, dan Monyeng. Endang Rara Tompe adalah anak gadis dari Mbok Randha yang suatu hari diminta untuk mengirim makanan ke ladang. Saat dalam perjalanan, ia bertemu dengan Kethek Ogleng dan seketika itu pula Kethek Ogleng terpesona dengan kecantikan Endang Rara. Kethek Ogleng terus berusaha merayu Endang Rara untuk mau menerimanya sebagai suami. Kethek Ogleng adalah sosok yang pandai melantunkan tembang dan menari sehingga dengan suara emasnya Endang Rara juga melantunkan lagu merdu dan membuat Kethek Ogleng tertidur nyenyak.

Saat Kethek Ogleng tertidur, Endang Rara lari menginggalkan Kethek Ogleng. Pada saat Kethek Ogleng terbangun, ia pun kaget karena tidak menjumpai Endang Rara dan berlari berusaha untuk mengejarnya. Saat Endang Rara berusaha kabur dari Kethek Ogleng, ia bertemu dengan satria tampan dan meminta pertolongan darinya.

Kethek Ogleng datang dengan memaksakan kehendaknya agar Endang Rara mau menjadi isterinya. Satria tampan menolong Endang Rara mengalahkan Kethek Ogleng. Perkelahian di antara satria tampan dengan Kethek Ogleng berlangsung sengit karena keduanya memiliki kesaktian yang tinggi . Akhirnya Kethek Ogleng kalah dan saat itu pula satria tersebut berubah menjadi Panji Asmaradana, yang tidak lain masih saudara dari Panji Asmarabangun.

Seni pertunjukan Kethek Ogleng adalah pertunjukan rakyat. Seni ini pada awalnya dimainkan oleh kalangan rakyat dan untuk hiburan rakyat. Jadi bukan seni yang dikembangkan oleh para seniman dan empu dari karaton. Oleh karena itu, orisinalitas pertunjukan Kethek Ogleng justru muncul dari para pemain yang merupakan rakyat kebanyakan dengan segala kemampuan olah tari, pemakaian peralatan pentas, dan musik pengiring yang ala kadarnya.

Kalau boleh dikatakan, daya magis pentas Kethek Ogleng justru terpancar dari gerak para penari yang merdeka, tak begitu rumit aturan seperti tarian karaton, rancak-riang gembira, dengan property pertunjukan yang seadanya, terkadang ada sorak-sorai penonton saat adegan tertentu, dan seterusnya.

Mengapa demikian? Karena kesuksesan sendratari Kethek Ogleng terletak pada menyatunya hati para pemain, pengiring dengan para penonton pertunjukan yang mampu meresapi, bahwa cintakasih, menghargai semua makhluk, berkorban (bersembunyi, menyamar menjadi orang lain, bahkan menyamar menjadi munyuk, berlari, melakukan pertempuran) adalah jalan panjang kehidupan setiap manusia dalam menggapai tumbuh-kembang hidup menjadi bermakna. Hayoo…, kita sering bangga berkata “memayu hayuning bawana”, ning lali endi lor endi kidul.

Lantas, bagaimana dengan si kethek, si kera, si munyuk tadi? Kita ternyata sering hanya mempergunakan paradigma “saya” atau “kami” sebagai manusia. Kethek, kera, munyuk sering dianggap tidak menjadi bagian dari “kita” sebagai penghuni bumi. Kita sering jumawa, hanya kita manusialah yang memiliki hak atas bumi, hak atas tanah dan alam raya. Karena itu si Kethek, Si Munyuk dengan mudah kita beri stigma sebagai makhluk yang “degleng”. Meskipun dia berjalan aneh menurut pandangan manusia, berlari-lari kadang mengendap-endap mencari air di telaga, atau mengais-ngais makanan sebagaimana fitrahnya sebagai primata, tingkah lakunya senantiasa dianggap abnormal oleh “saya” atau “kita” manusia.

Saya menjadi teringat, tahun 2014 lalu pernah menemui Mas Gunawan Setiadji, insinyur kehutanan dari Yayasan Mitsui-Sumitomo yang ditugaskan di Suaka Margasatwa Paliyan. Mas Gunawan menceritakan, ada banyak kera ekor panjang (macaca fascicularis) di kawasan Suaka Margasatwa Paliyan yang sering keluar dari hutan lindung karena cadangan pakannya habis. Ngomong-ngomong, mengapa cadangan pakan buah-buahan yang di hutan lindung habis? Karena terkadang ada masyarakat yang nekat juga mencari buah ke hutan, terkadang pula menebang pohon di hutan lindung sehingga ada banyak vegetasi tanaman buah yang mati.

Masyarakat setempat sering kali mengejar, menghalau, bahkan menembaki kawanan kera ekor panjang yang merangsek ke kebun pertaniannya untuk mencari makan. Ini yang menyebabkan masyarakat marah, merasa si kera tadi bertindak “ogleng”, atau tidak tahu diri dengan mencuri makanan di kebun orang.

Nah pernahkah kita menelisik diri, bahwa kita sesungguhnya juga pernah “ogleng” dengan semakin mempersempit ruang hidup untuk mereka? Kitalah yang “ogleng” ketika mengambil buah dan pohon di hutan lindung. Kadang kita malah bangga menetapkan persil-persil wilayah hutan lindung menjadi permukiman baru dalam Rencana Tata Ruang Wilayah kita. Alasannya jelas, munyuk gak perlu diajak rembugan atau diperhitungkan dalan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah dan pembangunan daerah.

****

  • Foto: Para peraga Pentas Kethek Ogleng Sanggar Kendalisada Gunungkidul pada FKY 2019 lalu. (instagram @nella_gonell).

 

ucapah hut GK KH

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.