Ketidaksadaran Mendalam

oleh -348 views
Salah satu spot megah di YIA. Foto: Iwan.

Ibu sepuh berjilbab hitam itu berlari mengejar istriku, “Mbak, mbak, niki susuke!” Nadanya terdengar mendesak namun lembut. Istriku agak bengong menerima kepingan logam 1000-an rupiah dari tangan perempuan bertubuh tinggi itu.

“Niki wau selisih 1000 Bu, namung 13.000 kok, wau nembe 6.000…” Bu Ning namanya, dia meneruskan kelembutan kata-katanya. Rupanya penjual angkringan pasar sayur di Ketep Pass itu sedang memberikan uang kembalian.

“Oh, nggih, matur nuwun nggih Bu!” Istriku seperti tak sadar diri, jari tangannya lalu menjepit kepingan kecil uang itu.

***

Dua malam kami mengendapkan hati dan pikiran di Ketep Pass, Magelang. Nginap di homestay sederhana, letaknya di pinggir ladang di tengah-tengah empat gunung kekar yang berpasangan: Merapi-Merbabu dan Sindoro-Sumbing. Meski semalam sewanya murah, namun pemandangan yang kami dapat terasa mahal.

Hembusan angin dingin dan kabut dari empat gunung pun terasa ‘mak nyess’ bak belaian seorang ibu. Ini istimewa, ditambah deretan tanaman sawi, tomat, dan seledri yg bisa kami lihat dari sudut yang berbeda, bukan dari samping namun tampak dari atas.

Kami bangun jam 05.00 WIB bareng dengan matahari Magelang yang mulai menata cahayanya. Kami menyantap langit jingga secukupnya lalu berjalan jajan di pasar 50 meter dari homestay. Minta Bu Ning membuat secangkir kopi hitam, dan menggaet tahu susur, tempe mendoan yang masih kemebul.

Seminggu ini aku menikmati waktu cuti. Sebelumnya kami bawa Panther tua dan mengajak anak belajar ke pantai, sungai, bendungan, makam, sawah, candi, pasar, dan sudah menyantap mangut beong maupun nyruput wedang uwuh. Hmmm, kami sungguh menikmati waktu jeda, menemui saudara di Bantul sambil berwisata.

Oh, iya, sempat kutengok Bandara YIA di Kulonprogo. Ya, bukan ngomong hal penggusuran yang kontroversial sih. Kupelototi bangunan fisik yg sungguh megah. “Berapa uang yang digunakan ya? Eh, berapa ya yang diselewengkan alias ‘diuntaldhewe’?” Lepas dari pro Jokowi atau bukan, sumber dana dari hutangan atau bukan, namun prinsip “ngecakke sing tenanan” sepertinya terlihat di depan mata. Kayaknya, lho!

Jika Bu Ning mengembalikan 1000 uang kembalian pada istriku, kuduga sikapnya terbentuk sejak dari masa anak, lalu awet dan terawat hingga dewasa. Inikah ketidaksadaran yang mendalam yang terbentuk ibu itu?

Ia yang otomatis menempatkan diri sebagai subjek penjual yang terpanggil mengembalikan selisih uang kepada pembelinya. Wah, kubayangkan jika itu dimiliki oleh para pembuat kebijakan, ketidaksadaran mendalam dalam dirinya bahwa ketika melihat perbedaan angka maka dia akan terpanggil pada posisi subjek yang menaik-turunkan angka demi kekayaan sendiri adalah suatu petaka.

Ealah, ndak usah jauh-jauh, sekiranya itu terbentuk pada anak semata wayangku, istri, dan tentu diriku sendiri.

Semoga…

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.