Kisah Masyarakat Gunungkidul Bersatu Padu dalam Gerakan Penghijauan

Hutan Sodong Paliyan, salah satu hasil Penghijauan Lahan Kritis di Gunungkidul. Dok: KH.

Selama kurang lebih 13 tahun (1977 – 1990) Inpres Penghijauan berjalan di Kabupaten Gunungkidul, maka dampak perubahan perilaku (PSK) masyarakat terhadap penghijauan mulai nampak dan menggembirakan. Hal ini ditandai dari banyaknya kelompok tani penghijauan swadaya yang kian berkembang dan lahan kritis semakin berkurang jumlahnya. Era kemudian 1990-2000-an, Gunungkidul laksana raksasa bangkit dari tidurnya di bidang penghijauan dan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Masyarakat Gunungkidul masih memiliki kultur paternalistik, yakni percaya dan siap bekerja keras mengikuti pemimpinnya. Di bidang penghijauan lahan kritis, masyarakat Gunungkidul mengagumi dan sendika dhawuh atas perintah Pak Darmakum Darmokusumo, bupati pioner gerakan penghijauan.

Bacaan Lainnya

Kemudian disusul hadirnya Bupati Soebekti Soenarto (1989 – 1994), sosok insinyur pertanian yang memiliki etos kerja tinggi dan komitmen terhadap pembangunan kehutanan, pertanian dan lingkungan hidup.

Bupati “gila” penghijauan ini juga mampu mengkoordinasikan dan menggerakkan seluruh instansi pemerintah, baik daerah, regional maupun vertikal dengan lembaga kemasyarakatan terkait sebagai mitra kerja pemerintah kabupaten. Pak Bekti memperkenalkan dengan istilah penerapan manajemen keroyokan terpadu.

Komitmen terhadap penghijauan lahan kritis setiap Senin pagi diadakan rapat koordinasi dan evaluasi capaian kinerja yang dihadiri semua kepala instansi pemerintah daerah termasuk camat dan instansi vertikal. Dalam rapat itu juga di umumkan ranking prestasi 13 camat dalam bidang penghijauan. Tidak saja koordinasi di atas meja, namun selalu ditindaklanjuti kunjungan lapangan, karena tidak suka laporan Asal Bapak Senang (ABS). Bupati “gila” lomba ini bisa membuktikan keberhasilan penghijauan swadaya masyarakat dengan diraihnya kejuaraan lomba hutan rakyat swadaya tingkat provinsi dan nasional secara beruntun.

Disamping kelompok tani hutan rakyat berprestasi tingkat nasional, tidak ketinggalan sejumlah PLP/ Penyuluh Kehutanan juga bisa unjuk gigi di level nasional menjadi penyuluh teladan, juara 1 pidato penyuluhan kehutanan, serta berkontribusi terhadap penyusunan kebijakan penyuluhan kehutanan.

Memang patut diacungi jempol banyak PLP/ penyuluh kehutanan Gunungkidul yang bekerja keras dan berkomitmen secara total dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya demi keberhasilan penghijauan lahan kritis di Gunungkidul.

Mereka dengan senang hati mencintai pekerjaan yang menantang tapi mulia itu bukan semata-mata mencari uang, tetapi merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Jika berhasil kelak tentu akan memberikan nilai kepuasan batin yang tidak ternilai harganya.

Komitmen di bidang lingkungan hidup dengan merehabilitasi telaga, pelestarian sumber air dalam goa dengan digalakkannya penghijauan Daerah Aliran Sungai (DAS) bawah tanah seperti Bribin, Seropan dan Ngobaran.

Prestasi prestisius juga ditunjukkan dengan diraihnya penghargaan tertinggi berupa penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan (Partorejo 1994) dengan penghijauan lingkungan telaga Wota Wati Jerukwudel Rongkop yang membuat air telaga lestari, dan Warsono (1996) Penyuluh Kehutanan (PLP) Rongkop menyabet Kalpataru kategori pengabdi lingkungan yang berhasil melestarikan habitat walet di sekitar goa sarang burung walet kawasan pantai selatan Kecamatan Rongkop. Pada era itu Gunungkidul layaknya menjadi kiblat studi banding keberhasilan penghijauan lahan kritis, baik lokal, regional, nasional bahkan internasional.

Pada tahun 1989, Profesor Oemi Hani’in sang perintis berdirinya Wanagama mendapatkan penghargaan Kalpataru sebagai wujud penghargaan atas usahanya merehabilitasi lahan kritis di Wanagama.

Wanagama yang awal berdirinya pada 1966 hanya seluas 10 hektar berupa lahan super kritis untuk budidaya murbei dan ulat sutra berkembang menjadi seluas 79,9 hektar (1967) untuk mencari pola hutan serba guna dan penghijauan lahan kritis. Akhirnya Wanagama kian mendapatkan kepercayaan sehingga 3 Maret 1982 diperluas hingga 599,9 hektar.

Keberhasilan Wanagama sebagai miniatur penghijauan lahan kritis di Gunungkidul menjadi rujukan kebijakan pemerintah pusat c.q Departemen Kehutanan.

Pengakuan internasional terhadap keberhasilan penghijauan lahan kritis Wanagama dan kabupaten Gunungkidul adalah berkunjungnya Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris ke Wanagama tahun 1989. Sebagai kenangan Pangeran Charles dari Inggris menanam bibit pohon Jati.

Kunjungan studi banding internasional melihat keberhasilan penghijauan lahan kritis di Gunungkidul dari Afrika juga pernah dilakukan.

Lingkup kegiatan RLKT meliputi metode vegetatif dan metode sipil teknis. Metode vegetatif dalam bentuk tanam menanam pohon tahunan, penguat teras dan hijauan pakan ternak. Sedangkan metode sipil teknis tujuannya untuk mencegah erosi dan sedimentasi seperti pembuatan dam pengendali, gully plug , dam penahan, terasering, saluran pembuangan air, embung, dan lain sebagainya.

Petugas Lapangan yang pada awalnya mencapai hampir 100 orang terdiri dari PLP, PLDP (dam pengendali), dan PLP BP (pembibitan), disamping PLHKm (hutan kemasyarakatan) dan PLR (Reboisasi).

Bupati yang concern penghijauan setelah pak Darmakum Darmokusumo ini getol menanam perindang jalan baik jalan provinsi, kabupaten, desa dan lingkungan serta ruang terbuka hijau.

Disamping penghijauan Bupati Soebekti ini juga mendorong pembangunan pertanian, ketahanan pangan dan menuju peternakan tangguh Gunungkidul sebagai gudang ternaknya DIY.

Mitra kerja organisasi kemasyarakatan seperti KTNA, Kelompok Pelestari Sumberdaya Alam (KPSA) dan Pramuka Saka Wanabhakti digandeng untuk ikut serta dalam pembangunan penghijauan di Gunungkidul. Beliau juga menggagas motto Gunungkidul Handayani dan hari esok lebih baik.

H pertama pada Handayani artinya hijau, bahwa membangun Gunungkidul seutuhnya hari esok yang lebih baik harus dimulai dari keberhasilan penghijauan dan lingkungan hidup.

Diakhir tugasnya Pak Bekti dapat mewujudkan ambisinya meraih penghargaan bergengsi di bidang pembangunan yakni Parasamya Purna Karya Nugraha kepada masyarakat Gunungkidul Handayani.

Ir. Soebekti Soenarto, Bupati Gunungkidul ke-22. Dok: Bappeda Gk.

Bukan tidak mungkin melihat Gunungkidul yang kini hijau royo-royo ini merupakan hal biasa atau bahkan tidak mengapresiasi kinerja para ” pahlawan” dan “pejuang” penghijauan di masa lalu, karena tidak tahu sejarah Gunungkidul yang dulunya kering tandus, gundul, dan kritis!

Tidak berlebihan kiranya manakala kita mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada mereka yang telah berjasa dalam keberhasilan penghijauan lahan kritis di bumi Handayani Ini.

Kami yang dahulu bertugas pernah mengusulkan Taman Hutan Raya Bunder itu diberikan nama “Tahura Ir Darmakum Darmokusumo” sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya dalam penghijauan lahan kritis di Gunungkidul dan pembangunan kehutanan yang luar biasa.

Melihat keberhasilan penghijauan lahan kritis semakin besar dulu sempat terpikir dan terlontar membuat monumen lahan kritis versi Gunungkidul untuk pembelajaran generasi yang akan datang.

Kita mesti tanamkan bahwa bumi Ini bukan warisan nenek moyang tetapi pinjaman dari anak cucu yang wajib dilestarikan dan dikembalikan dalam kondisi baik.

Tamat.

Artikel ini merupakan Bagian 2 dari Artikel Menengok Sejarah Penghijauan Lahan Kritis di Gunungkidul.

***

Penulis: Kiswanto.

Pensiunan ASN, sekarang tinggal di Klaten. Dahulu pernah menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) Gunungkidul 1978-1999, Staf Seksi Penyuluhan Dinas Kehutanan Gunungkidul 1999-2000, Staf Bidang Bina Program Dinas Peternakan Gunungkidul 2000 – 2009, Kabid Bina Produksi Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Gunungkidul 2009 – 2010, dan terakhir Kabid Perekonomian Bappeda Gunungkidul 2010 – 2012.

 

Facebook Comments Box

Pos terkait