Lebah Klanceng

oleh -825 views
Budidaya madu klanceng. Foto: Woro.

Berawal dari rasa ’eman-eman’melihat bunga jambu Madu Deli yang melimpah di kebun, muncullah gagasan untuk memelihara lebah yang nanti diharapkan akan menghisap sari bunga (nektar) dan ‘mengolahnya’ menjadi madu.

Pilihan saya jatuh kepada lebah klanceng (ada yang menyebut lanceng) yang di beberapa daerah punya sebutan yang berbeda. Di Sumatera disebut Klulut, di wilayah Timur Indonesia populer dengan nama kale-kale. Adapun nama ilmiahnya adalah Trigona.

Saya milih lebah jenis klanceng karena tak bersengat dan ‘ndilalah’di sekitar kebun ada beberapa koloni yang membangun sarangnya di bebetuan yang berongga dan di pohon-pohon bambu yang sudah mati.
Setelah sukses memindahkan koloni dari batu dan bambu ke kendil gerabah, saya mulai menggiatkan berburu koloni klanceng ke cempluk-cempluk dan hutan-hutan di wilayah Tanjungsari. Sebenarnya di alam liar Gunungkidul masih cukup mudah menemukan lebah klanceng, namun karena rata-rata mereka membangun sarangnya terlalu dalam di bebatuan bledes yang sangat susah dijangkau maka hasilnya terlalu sedikit, bahkan terkadang tak mendapat sama sekali.

Akhirnya bersama seorang kawan saya memilih berburu ke persawahan di daerah Bantul dan Kulonprogo. Di sana lebah klanceng membangun sarang di tempat yang jauh lebih terjangkau yaitu di usuk-usuk bambu yang sudah lawas dan sedikit lapuk. Caranya mengambilnya tak terlalu susah, cukup gergaji sebagian usuk tersebut dan menggantikan dengan potongan usuk baru.

Kesulitannya justru terletak pada ijin pemilik gubuk/kandang dimana lebah trigona bersarang. Tak terhitung berapa kali kami mendapat penolakan dari pemilik kandang. Bahkan pernah pula kami dicurigai sebagai maling yang akan mengincar sesuatu di kandang mereka. Kalau tak disemangati kawan saya, bisa jadi mental saya akan jatuh dan segera mengurungkan perburuan.

Setelah sekian bulan melakukan perburuan, kini ada ratusan kendil (berisi koloni lebah klanceng) menggantung di gubuk tengah-tengah kebun jambu.

Semoga apa yang saya dan kawan saya lakukan selain bisa membantu ekonomi keluarga juga bisa melestarikan kelangsungan hidup salah satu serangga endemik Jawa yang juga telah hidup di Gunungkidul sejak masa lalu.

***

Bersambung (Nanti saya akan menuliskannya lagi). (Kusworo)

 

Tentang Penulis: Aisworo Ang

Aisworo Ang
Guru SMK Muhammadiyah Tepus, nyambi jadi petani lahan kering di Dusun Menthel, Hargosari, Tanjungsari. Senang menulis dan mendokumentasikan seputar masyarakat desa.