Lupa Jangan Mengundang Lara

oleh -349 views
Lupa mengunci jendela. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – Sekitar jam 10.30 WIB, kami pulang dari kolam renang Dian Tirta. Kami sudah merasakan sengatan surya ke kulit sehingga meninggalkan tempat yang berada dua ratus meter dari rumah itu. Cuaca Negeri Kahyangan pada angka sepuluh memang sudah terasa terbakar. Sejak pukul 07.30 WIB, kami menemani Kidung nyemplung di kolam dan belajar berenang gaya punggung.

Kami sedang menikmati kemewahan suasana sepi di kolam karena masa puasa. Dengan satu lembar duapuluhan dan satu lembar puluhan ribu, kami sudah bisa merayakan family time di tempat berjarak saplintengan itu. Tentu, tak selalu kami agendakan begitu.

Tiba di halaman rumah segera kuparkir motor matic lalu istriku bergegas ke teras dan membuka pintu. Pintu pun terbuka. Mak plenggong ia melihat jendela kamar belajar terbuka dan laptop ada di atas meja. “Wah, pak, untung ndak ada orang yang masukk!” nadanya datar menanjak.

“Wooo…”

Aku merasa bersalah. Lha, iya baru ingat, tadi laptop Asus yang berusia empat tahun itu kupakai buka file satu data words yang langsung kuprint. Celakanya, bar nge-print terus tak tinggal begitu saja karena kepikiran renang. Aku nguyak jam pagi biar berenangnya tutug dan tak gosong terkejar panas matahari.

Untung tak ilang, ingat berharganya data dan yang pasti harga laptopnya. Mungkin tak seberapa bagi orang lain, tapi pasti bikin mumet bagi kami. Untungnya, aku lupa tapi tak mengundang lara.

*

Beberapa hari ini di Negeri Kahyangan santer terdengar berita kehilangan. Motor di parkir di ladang digasak si tangan panjang. Entah hobi, entah kebutuhan si maling itu. Hei, rupanya ada satu benang merah dalam pemberitaan curanmor itu yaitu motor ditinggal tak terkunci stang dan si pemilik jauh darinya.

Ya ini namanya merangsang si tangan panjang untuk menyatakan niatnya. Sepertinya rumus sederhana yang diungkapkan Bang Napi berlaku di sini, “Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!”

Tampaknya mekanisme keamanan perlu dilakukan secara berlapis bak bawang Bombay. Motor bisa dikunci stang atau setidaknya bisa dikunci dobel atau jendela bisa ditralis.

Haning ya yang namanya lupa itu ya lupa alias tak ingat. Ya, to? Nah, semoga lupa tidak mengundang lara.

**

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.