Matun

oleh -324 views
Rombongan matun ibu-ibu petani Dusun Nglebak Katongan. Foto: Slametharjo.

Sebulan turun hujan sudah, seluruh pelosok Gunungkidul terlihat menjadi ijo royo-royo. Di perbukitan, hutan, perkebunan, pekarangan rumah tangga nampak semua tanaman keras sudah lebat daunnya, yang kemarin kering akibat rontok di musim kemarau.

Di tegalan, sawah tadah hujan mulai menghijau, karena tanaman tumpangsari palawija ada padi, jagung, kedelai dan lain sebagainya.

Kegiatan petani yang menonjol saat ini adalah matun. Taukah Anda, apa itu matun….?

Matun itu bahasa Jawa. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “menyiangi padi”, yaitu kegiatan menbersihkan rumput atau gulma di kebun atau di sawah yang ditanami padi.

Walau petani tak menanam rumput tapi padi, namun rumput akan tumbuh menyertai tunbuhnya tanaman padi, dan itu harus dibersihkan dengan cara di-duduh dengan gathul (alat pertanian), agar tanaman rumput tidak mengganggu pertumbuhan padi. Tanaman padi yang di-watun akan tumbuh subur dan menyenangkan yang pada akhirnya akan neningkatkan produktivitas padi.

Kegiatan matun ini biasanya dilakukan ibu-ibu petani secara berkelompok. Berangkat pagi-pagi, mereka nggendong tenggok yang berisi minuman dan makanan untuk dimakan di sela-sela matun. Ibu-ibu biasanya juga pakai caping dari bambu untuk berlindung dari terik matahari.

Ditarik lebih dalam, kegiatan petani ini penuh filosofi kehidupan. Untuk nendapatkan hasil yang maksimal, petani harus mengawali dengan mempersiapkan olah lahan, menanaminya dengan rapi, menyianginya dengan telaten, mengobat hama, baru sekitar 3 bulan kemudian akan melihat hasil kerja kerasnya berupa tanaman yang tumbuh subur dan berbuah lebat. Petani dengan sabar mengikuti proses panjang dalam menjalankan pertaniannya.

Begitu pun kehidupan ini, harus kita rencanakan, kita kerjakan dengan konsekuen. Kita belajar terus tak kenal lelah, barulah kita akan menikmati hasilnya. Jadi tidak ada yang serba instan atau ujug-ujug makbeduduk untuk sebuah pencapaian kesuksesan.

***

Nglebak Katongan, 16 Januari 2020

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.