Membangun Akses Menuju Sehat Jiwa

oleh -167 views
World Mental Health Day, 2020. Dok: FWMD.

Hari ini, 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (WMHD, World Mental Health Day). Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dicetuskan oleh Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) dan pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992. Misi mereka adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa.

Peringatan hari kesehatan jiwa hanya setahun sekali. Tetapi kesehatan jiwa sesungguhnya merupakan perkara penting yang menyertai hidup sehari-hari setiap orang. Bukan saja bagi orang yang sedang mengalami permasalahan kesehatan jiwa, tetapi bagi setiap orang, karena sehat jiwa pasti berkontribusi pada apapun yang kita kerjakan.

Saya dan istri sangat bersyukur, karena menyambut peringatan hari kesehatan jiwa 2020 ini diajak BRSPDM (Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental) Margo Laras Pati (balainya Kemensos) untuk dapat ikut menyertai kegiatan family support di Klaten, Karanganyar dan Magetan. Saya bersyukur karena bisa belajar bareng praktik-praktik baik, sharing pengalaman bersama sedulur-sedulur yang terus berjuang untuk pemulihan anak, saudara, kakak, adik, orangtua dari problematika kesehatan jiwa yang tengah dihadapi.

Sedulur-sedulur peserta pertemuan yang sederhana, apa adanya. Mereka tak ubahnya adalah “malaikat” yang diutus Tuhan untuk setia merawat dan mendampingi pemulihan saudaranya yang sedang “nampa kamomotan ing lakuning urip“.

Dalam perjumpaan tersebut, ada sedulur yang curhat mengharu-biru. Sudah berupaya terbaik, rajin mengajak berobat ke puskesmas juga dokter agar kakaknya sembuh, namun yang dijumpai masih sering jatuh bangun. Terkadang masih terjadi pertengkaran, bahkan dikaploki sampai lebam oleh kakaknya karena salah paham, dan sebagainya dan seterusnya. Curhat kesedihan tak lagi berasa hambar, karena dibalik haru-biru itu muncul semangat menyala dan dorongan tak lelah berjuang untuk memulihkan saudara yang dicintainya.

Berbagi kisah antar sedulur yang sedang menghadapi persoalan rumit bukan semata “adol kawelasan“, atau mendidik menjadi pribadi yang “nyremimih kridha lumahing asta“. Tetapi sesungguhnya selalu menumbuhkan semangat baru, belajar hal-hal praktis sehari-hari yang dilakukan para keluarga yang berorientasi kepada pemulihan. Di pertemuan itu juga terungkap hambatan dan tantangan internal dan eksternal yang perlu terus diperjuangkan bersama.

Medikasi Bolong-Bolong

Pilar utama pemulihan gangguan jiwa kronik adalah psikofarmaka atau medikasi obat. Permasalahannya, kesadaran pentingnya rutin berobat belum sepenuhnya dipahami dan disadari dengan segenap hati. Medikasi yang bolong-bolong, terkadang rajin meminum obat, terkadang lupa atau sengaja melupakan karena merasa sudah pulih menjadi curhatan yang paling sering ditemui. Kekambuhan karena bolong-bolong atau putus pengobatan medis menjadi problema rumit yang dihadapi keluarga, karena situasi dan kondisi menjadi “ambyar” tak karuan. Kekambuhan berdampak runtuhnya kinerja sosial dan ekonomi keluarga yang sebelumnya sudah terbangun. Karena itu, medikasi yang bolong-bolong disadari sudah tidak perlu dilakukan lagi.

Social Support System

Dukungan sosial juga sangat menentukan dalam perawatan dan pemulihan sedulur-sedulur yang sedang mengalami gangguan jiwa. Percakapan-percakapan keluarga di Jatinom Klaten, Pulosari Karanganyar, dan Ngariboyo Magetan membuktikan hal itu.

Seorang bapak sepuh berusia 70 tahun di Pulosari mengisahkan bagaimana ia membersamai anaknya yang sudah 20 tahun mengalami gangguan jiwa. Ia terus mengawal pengobatan medis dan memberikan dukungan penuh buat anaknya. Seorang bapak sepuh di Ngariboyo juga penuh semangat terus merawat anggota keluarganya. Ibu-ibu kader keswa di Ngariboyo dan Pak Camatnya juga aktif turun ke keluarga, dan terus menyemangati warganya untuk pulih.

Saya juga sempat ketemu elemen organisasi swadaya masyarakat. Ada jurnalis lokal Magetan yang terus membantu edukasi kesadaran kesehatan jiwa dengan tulisan-tulisan di medianya. Ia terkadang juga melakukan gerakan bersama mengantarkan keluarga-keluarga penyintas mengakses layanan kesehatan ke puskesmas, juga mengakses layanan rehabilitasi sosial Dinsos. Ia menyebutnya kerja bersama teman-temannya itu sebagai “bottom-up process“.

Berjuang Melawan Stigma

Mengalami permasalahan kesehatan jiwa atau mengalami gangguan jiwa bukanlah aib atau hal nista. Sayangnya, masih suka mengolok-olok dan menjadikan guyonan orang yang mengalami gangguan jiwa. Tidak sedikit pula yang masih yang berpandangan “wong edan lan ayan kudu den singkiri“. Ya, masih merasa jumawa menganggap bahwa mengalami permasalahan kesehatan jiwa atau mengalami gangguan jiwa itu adalah aib, kenistaan yang nggak layak dijalani, “ilang mukti lan wibawane“, atau “reregeting urip sing paling reget” (kekotoran hidup yang paling kotor).

Keluarga yang sudah lama bergelut dengan permasalahan kesehatan jiwa tentu sudah kenyang hinaan dan cap buruk yang sering ditimpakan kepadanya. Apapun pandangan dan cap buruk yang diberikan tidak menjadi persoalan berarti, karena sudah fokus pada upaya pemulihan. Namun, bagi sedulur-sedulur yang belum lama merawat atau baru saja merawat keluarga akan menjadi kendala berat. Menjadi “mandeg-mangu“, menjadi kehilangan semangat dan rasa percaya diri untuk sembuh dan menyembuhkan. Dampaknya bisa menjadi malas memberikan dukungan untuk penyembuhan, menjadi malas mengakses layanan kesehatan. Padahal, fasilitas kesehatan tingkat dasar yaitu puskesmas pun saat ini sudah memberikan layanan kesehatan jiwa.

Dari pertemuan keluarga di beberapa lokasi tersebut juga didapati problem dan tantangan, bahwa masih ada aib dan stigma yang dilekatkan pada keluarga dan orang yang mengalami gangguan jiwa. Ada berbagai kata dan istilah yang menggambarkan aib dan stigma tersebut, tetapi tidak perlu saya tulis di sini. Bagaimanapun pandangan aib dan stigma itu telah meruntuhkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, karena permasalahan gangguan jiwa yang tak terpecahkan oleh keluarga menjadi beban bersama masyarakat.

Karena itu, kita semua yang mengaku diri “waras” memang sudah saatnya untuk tidak “menjatuhi tangga orang yang sedang jatuh”. Tidak menambah beban sedulur-sedulur yang terus mengupayakan pemulihan dari permasalahan kesehatan jiwa. Pak, Bu, Mas, Mbak yang punya kedudukan di pemerintahan, pemimpin organisasi bisnis atau non bisnis, pemimpin non formal, pemimpin spiritual, mari bersama-sama membangun Indonesia yang maju dan kuat, dan berjuang melawan stigma yang dilekatkan pada sedulur-sedulur dan keluarga yang mengalami permasalahan kejiwaan.

***

Oke. Tetap semangat, tetap sehat, dan tetap hidup teman-teman semua. Mental health for all. Greater investment. Greater access.

***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.