Mengenang Karya Bakti Petugas Lapangan Penghijauan

oleh -116 views
Kegiatan Karya Bakti PLP Gunungkidul tahun 80-an. Foto: Kiswanto.

Prestasi besar penghijauan lahan kritis Gunungkidul pada era 70-80-an patut dijaga keberlangsungannya. Apabila Petugas Lapangan Penghijauan atau sering disingkat PLP menjadi ujung tombak dalam memerangi lahan kritis di Gunungkidul pada era terdahulu mempunyai tugas yang sangat berat, maka tugas generasi muda penerima warisan alam tentu tidak lebih mudah.

Pada waktu program penghijauan dulu, luas lahan kritis yang mencapai tiga puluhan ribu hektar lebih dengan kondisi gundul, kering dan tingkat erosi yang sangat tinggi sehingga top soil alias lapisan tanah olah sudah tidak ada lagi. Di zona Pegunungan Sewu lazim disebut batu bertanah layaknya pot.

Dalam kondisi seperti itu bibit tanaman penghijauan harus hidup. Besarnya tantangan yang dihadapi justru melahirkan jiwa korsa di antara PLP untuk dapat memberikan layanan dan pendampingan pada petani penghijauan kian besar.

Sekitar 100 orang PLP gumregah dan menginisiasi membentuk paguyuban yang diwadahi dalam Koperasi PLP Gunungkidul. Koperasi ini dikemudian hari menjadi cikal-bakal berdirinya KPRI Rimba Lestari Sub BRLKT Opak Progo DIY plus Temanggung dan Magelang, dengan kegiatan simpan pinjam anggota serta agenda sosial kemasyarakatan.

Pada waktu itu kegiatan sosial kemasyarakatan dirancang dengan kemasan Karya Bakti. Karya Bakti mulai digagas dan diimplementasikan pada tahun 1986 berjalan seiring dengan penyelenggaraan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) baik tingkat Kabupaten Gunungkidul maupun Provinsi DIY.

Acara karya bakti PLP dilaksanakan H minus satu dari Upacara PPN yang diselenggarakan sekitar bulan Desember setiap tahun. Semua PLP wajib ikut serta dan menginap semalam di rumah warga.

Jenis-jenis kegiatan di antaranya mengadakan pertandingan olahraga persahabatan antara PLP dengan pemuda setempat, berbagai lomba seperti cerdas cermat penghijauan, lomba menulis tentang penghijauan, penyuluhan kepada masyarakat, pemutaran film , hiburan masyarakat serta memberikan bantuan bibit tanaman serta memberikan contoh teknik penghijauan lahan kritis sekitar 25 ha.

Karena lokasi PPN dan karya bakti PLP setiap tahun berganti, hal ini juga dimaksudkan agar PLP dapat melihat dan mengenal lokasi lainnya di samping wilayah kerjanya sendiri. Karya Bakti PLP ini setidaknya telah berjalan selama satu dasawarsa alias 10 tahun hasilnya positif dan disukai warga masyarakat sasaran. Sasaran lokasi karya bakti di antaranya pelestarian fungsi lingkungan sumber air, telaga, luweng, goa serta destinasi wisata.

Pada saat bupatinya Pak Sosro Hadiningrat, lokasi Karya Bakti PLP di Telaga Desa Balong Kecamatan Rongkop (1986) , Telaga di Desa Girimulyo kecamatan Panggang (1987) dan Telaga Gadel Desa Kemiri Kec Tepus (1988) merupakan PPN tingkat Provinsi DIY.

Era Bupati Pak Soebekti Soenarto di telaga Desa Semanu (1989) , Luweng Songgilap Desa Kenteng Kecamatan Ponjong , Telaga Namberan Desa Karangasem Kecamatan Paliyan, dan Goa Bribin Desa Dadapayu Kkecamatan Semanu (PPN Provinsi DIY).

Jaman Bupati Pak Harsadiningrat di destinasi wisata Pantai Kukup Desa Kemadang Kecamatan Tepus (PPN ke-34 tahun 1994 Provinsi DIY) , Luweng Desa Sidorejo Kecamatan Ponjong, Sendang/mata air di Padukuhan Natah Desa Natah Kecamatan Nglipar. Dan PPN Provinsi DIY di Puncak Clongop Desa Hargomulyo Kecamatan Gedangsari pasca Pak Harsadiningrat selesai menjabat.

Pada saat karya bakti PLP di Desa Kemadang, panitia bekerja sama dengan Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI DIY) .

Setiap acara PPN selalu ditanam tanaman monumental terutama jenis-jenis tanaman yang diyakini berfungsi untuk konservasi sumber air salah satunya Pohon Beringin. Lazimnya jika PPN tingkat provinsi Gubernur, dan tingkat kabupaten Bupati menanam bibit pohon monumental di lokasi PPN. Pohon beringin diharapkan dapat bermanfaat dan sebagai resan yang melindungi setiap mata air yang ada.

Hampir semua PLP yang pernah ikut dalam karya bakti sosial terkesan baik atas sambutan dan antusias warga untuk melaksanakan penanaman pohon penghijauan pada lahan kritis yang ada.

Itulah sedikit ilustrasi komitmen PLP Gunungkidul dalam rangka berupaya mencapai tujuan penyuluhan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) yakni perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan keterampilan) petani sehingga tahu, mau dan mampu melaksanakan penghijauan secara mandiri.

Karya bakti PLP merupakan salah satu wujud manjing ajur ajer nya seorang ujung tombak yang langsung berhadapan dengan warga masyarakat petani sasaran penghijauan untuk memberikan contoh konkret pelaksanaan penghijauan.

Kini setelah tiga puluh tahun lebih penyuluhan penghijauan dilaksanakan sebagian besar lahan kritis telah berhasil menjadi ijo royo royo dan ketugasan PLP telah selesai. Diharapkan muncul kesadaran kader-kader muda yang mandiri, peduli untuk menanam dan memelihara pohon untuk menunjang kehidupan kini dan generasi yang akan datang, menuju terwujudnya Gunungkidul Handayani.

Klaten, 11-11-2020

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.