Ngenger

oleh -250 views
Bambang Sumantri dan adiknya Sukrasana. Dok: Dongeng Simbok.

Waktu kecil dulu aku sedikit beruntung karena simbokku jualan tempe kedelai dan bapakku mandor hutan. Walau tidak kaya tetapi secara ekonomi termasuk cukup. Artinya karena simbok itu tiap pasaran pergi ke pasar aku sudah terbiasa dibelikan nasi di pasar. Nasi putih bagiku bukan lagi barang istimewa walaupun makan sehari hari tetap saja thiwul plus plus, artinya nasi thiwul yang dicampur nasi putih, dalam bahasa sehari hari disebut sega pletik (nasi thiwul yang dicampur nasi putih).

Tetanggaku yang termasuk kategori kaya adalah Mbah Iro namanya. Rumahnya limasan jajar 3 plus kampung bandhangan. Beliau punya kebo, sapi dan kambing dan tanahnya luas di beberapa tempat, sehingga wajar disebut orang kaya. Jika musim panen, panenan Mbah Iro banyak sekali. Ada gaplek, padi, jagung, canthel, sehingga setiap musim tanam dan panen selalu mburuhke atau menyuruh atau memperkerjakan orang dan diberi upah. Sesuatu yang tidak dimiliki dan dikerjakan oleh tetangga lain pada umumnya.

Selain mburuhke, mbah Iro juga punya santri yang “ngenger” di rumahnya. Orang Jawa mengenal suatu tradisi yang disebut “ngenger”. Mungkin kalau Anda bukan orang Jawa, akan jarang mendengar kata ini. Padahal sesungguhnya ngenger adalah suatu tradisi yang menurut saya luar biasa. Saya akan bercerita sedikit tentang ngenger.

Ngenger adalah ikut orang. Ada yang menyebutnya sebagai nyuwita atau nyantri kepada orang yang lebih kaya, lebih kuasa, lebih terhormat, lebih pintar dibanding dengan kondisi keluarga sendiri.
Upahnya bisa dikasih bahan makanan, dikasih ternak kambing, atau disekolahkan ke sekolah formal.

Filosofi orang Jawa, yang dipedomani, jika Anda ingin sukses maka dekatilah orang-orang yang telah sukses duluan. Makanya, pada jaman dulu, orang-orang di kampungku jika ingin sukses, pemuda akan datang ke rumah orang yang sukses untuk menjalani ngenger. Dengan harapan, kelak akan bisa mengikuti kesuksesan “bendara“ atau orang yang diikutinya.

Orang yang menjalani laku ngenger, betul-betul menyerahkan hidupnya kepada sang bendara. Hubungannya sekilas mirip-mirip antara majikan dan pembantu. Bahkan antara majikan dan budak. Pengenger pasrah dan ikhlas kepada bendara, sementara sebagai imbalan atas kesetiaannya, bendara memberikan kesempatan bagi pengenger untuk merubah nasibnya.

Budaya ngenger ternyata sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sebut saja misalnya tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada Patih Majapahit. Jaka Tingkir yang ngenger kepada Sultan Trenggana. Belakangan Jaka Tingkir berhasil bertahta di kesultanan Pajang sebagai Sultan Hadiwijaya. Kisah-kisah seperti ini memberi insprasi kepada orang-orang Jawa di kampung, yang ingin meraih sukses dengan melakukan ngenger.

Keberhasilan orang yang ngenger jika mereka bisa melakoni sikap antara lain:

Setia kepada Majikan

Kita harus total setia kepada bendara kita. Dalam pengertian yang seluas-luasnya. Seluruh tenaga dan pikiran diberikan kepada bendara, sesuai dengan perintah yang diberikan bendara.

Kita tidak mungkin mendua, atau mentiga, kesetiaan kita hanya untuk bendara. Ini untuk menunjukkan kalau kita percaya penuh bahwa bendara akan menunjukkan jalan kepada kita. Bahkan kesetiaan kita tidak bisa dibeli dengan uang. Karena para pelaku ngenger bahkan tidak boleh mengharapkan imbalan. Diterima untuk ngenger saja sudah suatu peluang buat mereka untuk sukses. Makanya dalam ngenger, aib menanyakan imbalan kepada bendara. Imbalan nanti akan dipetik ketika pelaku ngenger sudah berhasil naik tingkat menjadi bendara baru.

Sabar

Ngenger sesungguhnya adalah sarana bagi bendara untuk menggembleng dan menguji apprentice-nya. Maka kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci bagi keberhasilan sang pe-ngenger. Salah satu pantangan dalam tradisi ngenger adalah, “nggersula“ atau mengomel. Apapun perintah yang diberikan bendara, pengenger harus memegang prinsip: dengarkan dan ikuti. Bahkan kadang proses ngenger berjalan cukup lama, karena bendara melihat pelaku ngenger belum pantas naik tingkat, maka pengenger harus sangat berlatih menjaga kesabarannya.

Ngenger itu Harus Disiplin

Hubungan antara pengenger dengan bendara harus dilakukan dengan disiplin. Apa yang menjadi perintah bendara harus dilakukan dengan penuh tanggungjawab, tidak boleh membantah apalagi menggurui. Itu pamali.

Pola belajar pada laku ngenger adalah langsung praktek, bukan teori-teori. Pe-ngenger bisa langsung mengamati kebiasaan-kebiasaan bendaranya, bagaimana bendara nya membuat keputusan dan bertindak.

Dengan demikian pe-ngenger akan memiliki bekal pengalaman yang cukup jika kelak bendaranya memandang ia sudah cukup pengetahuan untuk memegang tanggung-jawab yang lebih besar. Tanpa disiplin, akan sulit pengenger untuk menjadi bendara.

Di kalangan pengusaha Jawa yang sukses, sebetulnya juga banyak ditemui fenomena ngenger. Pengusaha-pengusaha tadi setiap tahunnya menerima pengenger-pengenger baru dari kampung. Mereka lambat laun akan terseleksi menjadi segelintir orang yang memiliki kesetiaan, kesabaran dan disiplin lebih dari yang lain. Jika waktunya tiba, maka pengenger terpilih tadi akan diberi kesempatan menjalankan bisnisnya sendiri.

Ngenger itu tidaklah mudah, karena dibutuhkan tadi, kesetiaan, kesabaran dan kedisiplinan. Diperintah-perintah seenaknya, dimarah-marahin, sudah menjadi makanan sehari-hari pengenger.

Namun jika Anda lulus ujian dalam ngenger, imbalan yang diberikan bendara adalah akses terhadap semua yang bendara miliki. Mulai dari bisnis, kekuasaan, jaringan pertemanan, kekerabatan, bahkan jika Anda beruntung, Anda akan dijadikan menantu. Ya, banyak kasus di mana pengenger akhirnya menikah dengan anak bendara.

Bambang Sumantri Ngenger

Dalam cerita pewayangan, kisah ngenger yang paling dramatis, heroik, namun juga ada peristiwa tragis di dalamnya adalah kisah Bambang Sumantri yang ngenger kepada Prabu Arjunasasrabahu. Kesetiaan dan kerja keras Bambang Sumantri berbuah manis, ia diangkat menjadi patih kerajaan. Nama Bambang Sumantri sering dikenal sebagai Patih Suwanda.

Dibalik kesuksesan tersebut, ada kisah sedih dan buruk yang tidak patut menjadi contoh pernah terjadi pada diri Bambang Sumantri. Ia pernah selak (tidak mengakui) dan malu, bahwa dirinya memiliki adik yang buruk rupa berwujud sebagai raksasa bernama Sukrasana. Padahal Sukrasana inilah yang sesungguhnya selalu membantu memecahkan masalah ketika Sumantri menjumpai kesulitan.

Ya, pesan moral kisah Bambang Sumantri adalah kita tidak boleh umuk (membanggakan diri) apalagi malu melupakan asal-usul diri kita dan keluarga kita. Kisah Bambang Sumantri ini sesungguhnya menunjukkan kesejatian manusia. Manusia selalu disertai karakter plus minus, gampang terjungkal apabila tidak mawas diri. Oleh karena itu selalu eling lan waspada dikatakan menjadi kunci, agar setiap orang tidak terperosok pada kenistaan. KGPAA Mangkunegara IV (1809-1880) mengabadikan kisah Bambang Sumantri ini dalam sebuah tulisan yang disebut Serat Tripama. Tiga suri tauladan yang tergubah dalam tembang Dhandanggula berikut ini:

Yogyanira kang para prajurit; Lamun bisa sira anulada; Duk ing nguni caritane; Andelira Sang Prabu; Sasrabahu ing Maespati; Aran patih Suwanda; Lalabuhanipun; Kang ginelung triprakara; Guna kaya purun ingkang den antepi; Nuhoni trah utama.

Demikian kira-kira yang saya tahu tentang “ngenger”. Yang punya tambahan penjelasan atau mungkin pandangan yang berbeda silakan nambahi sendiri.

***

Nglebak Katongan, 19 Januari 2020.

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.