Nyuluh Walang

oleh -91 views
Nyuluh walang di alas Kemadang Tanjungsari. Foto: Woro.

Bagi masyarakat Gunungkidul, Walang bukan lagi dianggap hama, namun sebaliknya, sebuah berkah. Rasanya yang gurih dan khas menjadikan belalang sebagai kuliner yang bernilai jual tinggi. Tak main-main, harganya hampir setara daging sapi segar.

Maka hampir di setiap sudut, belalang akan diburu dengan berbagai macam cara. Baik ditangkap tangan langsung, dilem, dengan pulut gori, digebuk dengan ‘genter‘, dijaring dengan centhung, atau disuluh malam hari. Dari sekian cara di atas penangkapan dengan cara disuluh adalah yang paling efektik bila jumlah belalang banyak dan belalang tak bertengger terlalu tinggi.

Saya menduga, ‘nyuluh‘ berasal dari kata suluh yang artinya ‘madhangi‘, menerangi. Kaitannya dengan penangkapan belalang, ‘nyuluh‘ kurang lebih berarti memburu belalang di malam hari dengan membawa alat penerang.

Simbah-simbah dulu menyalakan obor dari bambu untuk menyuluh, lalu lampu petromax yang untuk menghidupkan cahayanya perlu dipompa dulu. Saat ini ganti dengan santer dengan teknologi LED yang amat cerah.

Saat masih anak-anak hingga menjelang remaja, saya akrab sekali dengan aktivitas ‘nyuluh‘ yang saya lakukan bersama kawan-kawan sepermainan. Menurut saya, ‘nyuluh‘ adalah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Dua-duanya saya pernah mendalaminya.

Paling menyenangkan tentu saja bila belalang buruan banyak dan tidak ‘werit‘. Atau saat menemukan burung cimblek dan kutilang bertengger dan berhasil ditangkap.

Yang menakutkan adalah saat dimarahi oleh pemilik ladang karena tanamannya terinjak-injak. Mereka dengan galak akan mengacungkan arit dan menyuruh ‘penyuluh‘ segera enyah dari ladangnya. Kami biasanya akan lari tunggang-langgang sembari menyumpahi agar tanamanya dimakan hama.

Pengalaman lain yang membuat ‘jirih‘ adalah manakala kami berjumpa dengan ular. Jika demikian biasanya kami memilih mengakhiri perburuan dan pulang.

Beberapa hari yang lalu saya menerima ajakkan seorang kawan untuk ‘nyuluh‘ walang di daerah Kemadang yang katanya walangnya banyak dan sudah bersayap. Saya merasa kembali ke masa kecil saat menginjakkan kaki ke ladang di malam hari dan berhasil menagkap seekor belalang jenis dami.

Sayangnya, saya sudah tak setangkas dulu. Berkali-kali belalang yang menjadi target saya lolos dari usaha penangkapan saya. Ternyata saya sudah lumayan tua sekarang.

****
Lokasi: Nyuluh walang di alas Mbanteng, Ngasem, Kemadang, Tanjungsari

Tentang Penulis: Aisworo Ang

Aisworo Ang
Guru SMK Muhammadiyah Tepus, nyambi jadi petani lahan kering di Dusun Menthel, Hargosari, Tanjungsari. Senang menulis dan mendokumentasikan seputar masyarakat desa.