Pengaruh Pepohonan terhadap Pengisian Air Tanah dan Mata Air

oleh -214 views
Pohon bulu (ficus annulata). Foto: Tugi.

Sang Penunggu atau Dhanyang yang menghuni pepohonan resan sekitar sumber air itulah yang melindungi dan menjaga mata air tetap mampu mengalir sepanjang tahun. Demikianlah cara masyarakat tradisional mengungkapkan alasan mengapa sumber air di dekat permukimannya tetap mengeluarkan air meski memasuki musim kering.

Manusia-manusia modern juga generasi milenial barangkali bakal mengalami kesulitan menangkap makna dari pernyataan masyarakat tradisional yang “semu” dan tidak “thok-leh” itu. Penjelasan yang diambil dari buku “Pohon Sahabat Air” (Balai Litbangtek SDA, Balitbang Kemen LHK) berikut dapat menjadi jembatan yang baik untuk memahami ungkapan-ungkapan “semu” dan “simbolik” masyarakat tradisional tentang pepohonan resan, upacara bersih kali, dan sebagainya terkait dengan kelestarian mata air.

Menurut pakar Hidrogeologi La Moreaux (2001), munculnya air dari dalam tanah ke permukaan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut di adalah: curah hujan, kemiringan lereng, kondisi geomorfologi, formasi litologi, struktur geologi, topografi, permeabilitas, besarnya daerah imbuhan dan jenis tanah setempat termasuk kondisi vegetasinya. Berbagai faktor itulah yang menjadikan ada banyak klasifikasi jenis mata air yang ada di muka bumi ini.

Pentingnya Melindungi Mata Air

Upaya perlindungan mata air merupakan hal yang lumrah dan sangat diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Yang perlu dipahami secara mendasar, perlindungan mata air tidak hanya dilakukan pada mata air (spring protection) atau mudahnya hanya perlu dilakukan pada lokasi titik mata airnya saja, tetapi juga pada area sekitar mata air (springshed protection). Yang dimaksud area sekitar mata air adalah cakupan area yang luas, yang mana area tersebut merupakan daerah imbuhan air tanah.

Lebih lanjut, dalam riset yang dilakukan Hendrayana (2013), perlindungan mata air dapat dilakukan dengan menggunakan sistem zonasi, yaitu: 1) zona perlindungan air dari semua zat pencemar dengan radius 10-15 m dari sumber air; 2) zona perlindungan sumber air baku dari bahaya pencemaran bakteri pathogen; 3) zona perlindungan sumber air baku dari pencemaran kimiawi dan radioaktif.

Menariknya, karena hal ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat dan bersedia, salah satu cara atau teknik perlindungan mata air yang dapat diterapkan adalah dengan teknik vegetatif. Langkah nyata operasionalnya adalah dengan bentuk penanaman berbagai jenis pohon. Adapun perlindungan mata air secara vegetatif dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu penanaman di sekitar titik mata air (radius 10-15) sebagai spring protection; dan penanaman di area imbuhan air tanah (recharge area) sebagai springshed protection.

Tujuan penanaman di sekitar mata air lebih pada melindungi titik mata air (spring) dari semua zat pencemar dan kerusakan akibat adanya aktivitas manusia/binatang. Sedangkan penanaman di area imbuhan air tanah diharapkan membantu meresapkan air hujan ke dalam tanah yang dalam jangka panjang dapat mengisi akuifer, dan tidak menjadi limpasan permukaan. Diharapkan dengan adanya penanaman pohon tersebut mampu melindungi mata air dari zat pencemar, bakteri, dan zat kimia berbahaya. Dengan demikian kelestarian mata air akan tetap terjaga, sehingga kualitas, kuantitas serta kontinuitas aliran air terpenuhi.

Pengaruh Pohon terhadap Mata Air

Penanaman pohon ini akan memberikan dampak kelestarian mata air. Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang pengaruh pohon terhadap mata air, di antaranya:

1) Pengaruh Pohon dalam Pengisian Air Tanah

Pengisian air tanah berupa air hujan yang jatuh ke permukaan tanah sangat dipengaruhi oleh vegetasi atau tutupan lahan di atasnya. Keberadaan pohon atau suatu vegetasi akan memberikan pengaruh yang menguntungkan terhadap proses meresapnya air ke dalam tanah atau dalam bahasa hidrologi disebut proses infiltrasi. Perlu diingat, pohon beserta ekosistemnya memiliki lapisan tajuk yang berstrata, serta ekosistem lantai hutan (serasah, tanaman bawah dan lapisan humus), akan kondusif bagi air hujan untuk meresap ke dalam lapisan tanah.

Kemudian, tajuk pohon berfungsi sebagai penahan air hujan yang jatuh ke permukaan tanah (presipitasi) melalui proses intersepsi. Proses ini dapat melindungi permukaan tanah dari energi kinetis butir air hujan yang dapat menyebabkan erosi percik. Setelah tajuk jenuh air, air hujan akan menetes sebagai air lolosan dan sebagian mengalir melalui batang pohon sampai ke tanah (aliran batang). Selanjutnya air akan meresap ke dalam tanah secara perlahan-lahan melalui akar pohon dan pori-pori tanah menjadi air simpanan. Pada proses ini serasah mempunyai peranan penting dalam mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi (suplesi air).

2) Pengaruh Pohon dalam Menjaga Keseimbangan Air

Lahan dengan pohon-pohon yang memiliki kanopi rimbun dan rapat dapat menurunkan suhu dan meningkatkan kelembaban daerah sekitarnya (iklim mikro). Dibawah tajuk pohon yang rimbun, umumnya dipenuhi tumbuhan bawah dan serasah. Serasah pohon memiliki fungsi menyimpan air sementara dan secara berangsur melepaskannya ke tanah bersama dengan bahan organik yang larut untuk perbaikan struktur tanah dan menaikkan kapasitas peresapan.

Apabila lapisan seresah tidak ada, tetesan air hujan akan memadatkan tanah dan kapasitas peresapan berkurang (Hamilton, 1997). Dengan demikian ada keseimbangan yang diperoleh dari keberadaan pohon, meskipun sesungguhnya aliran air total berkurang akibat proses intersepsi dan besarnya penguapan air melalui proses evapotranspirasi. Berbeda halnya dengan lahan kritis atau tanah kosong, pengisian air tanah lebih kecil sebagai akibat dari besarnya air larian. Laju penguapan air tanah pada tanah kosong juga tidak sebanding dengan laju naiknya air dari bawah, sehingga tanah menjadi lebih cepat kering.

Dari penelitian lapangan terungkap sebuah fakta yang sangat sederhana namun berarti, yaitu tidak ditemukannya pohon di sekitar mata air pada beberapa mata air yang mengalami kekeringan bahkan sudah mati. Akan tetapi hal ini tidak menjadi satu-satunya alasan kekeringan mata air, karena ketiadaan pohon pada daerah sekitar mata air masih sangat diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ketiadaan pohon tersebut dikarenakan beberapa hal diantaranya adalah adanya konversi lahan menjadi lahan pertanian dan tanaman mati karena umur yang sudah tua.

3) Pengaruh Pohon dalam Perlindungan Mata Air

Penanaman berbagai jenis pohon disekitar mata air akan menciptakan kondisi ideal untuk kelestarian mata air. Penelitian yang dilakukan Trimanto (2013), penanaman pohon yang sesuai di sekitar mata air
berperan dalam menjaga kelestarian mata air dan ketersediaan air di kawasan tersebut. Pada kondisi geologis tertentu, akar pohon dapat menjadi pemicu munculnya mata air.

Akar dapat menimbulkan celah atau rekahan pada lapisan tanah atau batuan yang terhubung dengan aliran air tanah. Namun demikian pada umumnya terjadi pada mata air yang berasal dari air tanah dangkal, dimana akar tanaman masih bisa menjangkaunya. Dari penelitian Kresic dan Stevanovic (2010) juga didapati, bahwa mata air adalah lokasi pemusatan keluarnya air tanah yang muncul dipermukaan tanah karena terpotongnya lintasan aliran air tanah oleh fenomena alam.

Mengapa Keluarga Pohon Beringin?

Ada banyak desa atau dusun di wilayah Gunungkidul yang menggunakan nama pohon beringin. Sebut saja ada Dusun Ngringin, ada Dusun Ringinsari. Mengapa dan ada apa dengan pohon beringin?

Mbah Sadiman, petani desa dari Wonogiri yang dengan swadaya telah berjuang merawat pepohonan di sekitar mata air mengungkapkan pengalamannya, bahwa penanaman pohon dengan perakaran yang dalam dan banyak seperti beringin (ficus) di sekitar mata air, berhasil memunculkan/menambah titik mata air seiring bertambahnya umur pohon. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Ridwan dan
Pamungkas (2015) mengungkapkan, bahwa perakaran yang dalam dari jenis beringin (ficus) mampu mencapai lapisan air tanah dangkal dimana air tanah mengalir sehingga dapat membuka aliran baru
menuju permukaan tanah dan keluar menjadi mata air.

Peneliti sebelumnya, Soejono (2012) menyebutkan, beberapa jenis ficus dapat digunakan sebagai tanaman untuk mempertahankan mata air, mengurangi erosi dan tanah longsor. Hal ini dikarenakan perakaran, percabangan dan kanopi dari tanaman ficus dapat mengurangi percikan butiran air hujan, sehingga kerusakan pada lapisan permukaan tanah akan rendah dan infiltrasi air ke tanah lebih baik.

Demikianlah paparan singkat mengapa pepohonan mampu melindungi mata air. Simak terus SeputarGunungkidul dan KabarHandayani! Serial tulisan tentang mata air selanjutnya akan membahas jenis pepohonan apa saja yang cocok sebagai pelindung mata air terkait dengan jenis dan karakteristik mata air yang ada.

***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.