Puputan

oleh -462 views
Kenduri di salah satu keluarga di perdesaan Gunungkidul. Dok: KH.

Tadi sore ada yang datang ke rumah mengundang kenduri ke tetangga punya hajat “puputan”. Pak mangke bibar isyak pun aturi kenduri wonten daleme Pak Muji, dumugi sepekenan larene utawi puputan.

Puputan atau sepasaran adalah salah satu tradisi kenduri yang masih dilestarikan di kampung saya. Bagi saya dan generasi seumuran saya puputan bukan suatu hal yang aneh, namun bagi generasi milenial sudah tak banyak yang paham.

Berikut ulasan saya tentang “puputan”. Rangkaian tradisi kelahiran dalam adat budaya Jawa, salah satunya adalah kenduri puputan. Puputan adalah pupak puser, yaitu mempunyai makna bahwa tali puser bayi puput. Jadi acara ini diadakan pada saat tali puser si bayi lepas. Puputan dilakukan untuk memberi nama dan memotong rambut pada bayi yang baru terlepas ari-arinya, tradisi ini dilaksanakan pada waktu ari-ari bayi terlepas dari sendi usus perut, biasanya sesudah lima (5) atau tujuh (7) hari dari bayi lahir atau sepasar.

Kenduri puputan adalah untuk memberi nama pada bayi yang baru terlepas ari-arinya dan berdo’a memohon keselamatan dan keberkahan untuk si bayi yang baru lahir. Dalam acara ini biasanya keluarga, saudara, dan para tetangga sekitar di undang datang. Mereka bersama-sama mendo’akan si jabang bayi bahkan ada yang nyumbang seperti pada acara hajatan.

Acaranya biasanya kenduri mengikrarkan nama bayi dan juga bisa diisi dengan mengadakan pengajian dirumah yang berhajat. Acaranya berlangsung sekitar jam sehabis shalat magrib atau isyak. Acaranya seperti memberi nama bayi, memotong rambut bayi, melakukan aqiqah (bagi yg mampu), membagikan makanan/ bancakan.

Waktu kenduri mereka lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, tuan rumah membuka acara dengan sambutan ramah atas kedatangan para tamu, yang dilanjutkan oleh perangkat RT ataupun RW yang isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama daerah setempat) memimpin doa yang berisi permohonan maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Doa di sampaikan oleh ulama kampung setempat biasanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Setelah dibacakan doa, mereka menikmati makan / minum kenduri yang telah disediakan oleh tuan rumah.

Khusus Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tidak hadir diberi besekan yang masih tersisa sesuai mandat dari tuan rumah yang diberikan secara distribusi ke rumah warga yang tidak dapat hadir tersebut.

Demikian trimakasih

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.