Rasionalisasi

oleh -174 views
Aktivitas produksi di industri otomotif. Dok: citra indonesia.

Dulu, waktu menjadi pekerja pabrik komponen otomotif pada 1998 di Kelapa Gading, Jakarta Utara, saya mengalami yang namanya dilema kerja. Bagaimana tidak, minggu-minggu di bulan Mei mulai terasa kerja seminggu masuk dan seminggu libur. Padahal biasanya, boro-boro libur sehari, lha wong Sabtu dan Minggu pas tanggal merah saja harus over time sampai tak ada jeda. Itu kujalani sejak 1995-1998.

Sebagai pemuda belasan tahun, itu tak terlalu berat, apalagi saat terima slip gaji lembur yang rata-rata angkanya melambung di atas angka gaji bulanan. Sebagai bujangan, kujalani itu dengan membayangkan aneka barang yang bakal kepegang tangan, jeans, kaos team bola idola, walkman, kamera pocket, gitar, tape recorder, tipi, dan aneka barang idaman pengisi kamar kontrakan.

Minggu-minggu pada Mei itu terasa lengang. Mesin-mesin yang mirip robot tak lagi beraksi, suara alarm tanda mesin trouble tak lagi memekakkan telinga, dan tentu juga tak ada lembur. Dan, tiba pada suatu waktu, kepala seksi bagian maintenance datang dan membawa penawaran yang dinamakan “rasionalisasi”.

Setiap karyawan ditawari sejumlah angka apabila ia mau mengundurkan diri dari perusahaan, mengingat situasi. Jadi bukan di-PHK tapi istilahnya mengundurkan diri. Entah aku lupa bagaimana detail bedanya, namun kemudian aku bersama teman-teman menandatangani hal pengunduran diri dan menerima sejumlah angka pesangon.

Setelah hampir tiga tahun membanting-tulang jadi karyawan, aku berhenti menjadi buruh dan membawa pesangon yang jumlahnya cukup membeli satu motor baru. Kuputuskan pulang kampung dengan status PHK. Langkah kakiku berat meninggalkan ibukota, namun agak tegak karena pulang kampung membawa penanda hasil kerja: walkman, tipi, tape recorder, honda Astrea Prima second dan masih ada saldo tabungan di tangan seorang bujangan. Hehehe lucu.

***

Hari ini, kurenungkan peristiwa itu kembali. Kemarin ada seorang ibu yang menyampaikan berita, “Anak saya mulai September di-PHK”. Sontak mata saya menerawang ke langit silam. Situasi hari ini terasa kembali ke 22 tahun yang lalu. Sepertinya bakal ada banyak pengurangan kerja atau yang di-PHK. Dulu, karena perubahan politik nasional namun kini karena pandemi global. Tampak beda tapi dampaknya hampir sama.

Saya pernah merasakan pemutusan hubungan kerja dan menerima pesangon yang lumayan bagi seorang bujangan usia 20-an. Saya membayangkan saudara-saudara yang diputus hubungan kerja dan tak mendapat bekal selayaknya. Ada anak, suami atau istri, dan tanggung jawab yang tak ringan seperti bujangan.

Hari ini di macam-macam bidang mau tak mau mesti dirasionalisasi. Tapi bukan itu saja obatnya, rasanya perlu juga motivasi dan kreasi.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.