Sabak dan Grips

oleh -252 views
Sabak, alat tulis jaman sekolah tahun 50-60-an. Dok: Netherlands Fotomuseum/salamyogyakarta.com.

Bagi para Bapak dan Ibu yang mengalami Sekolah Rakyat era 60-an sampai dengan 70-an atau sebelumnya pasti tidak asing lagi dengan alat tulis legendaris bernama Sabak dan Grips. Saya yang mengalami sekolah dasar kurun waktu 1972 sd 1977 saja masih mengalami menggunakan alat tulis sabak dan grips pada awal sekolah SD, yaitu di kelas 1 sampai kelas 3.

Baru setelahnya, sepantaran saya mengenal penggunaan buku tulis “Letjes ” dan pensil. Setelah saya cari tahu, nama “Letjes” pada buku tulis yang bersampul ungu, sehingga disebut buku gadung itu ternyata buku bikinan Pabrik Kertas perusahaan milik negara yang berada di Leces (ejaan lama tertulis Letjes) di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur.

Kembali ke awal, tahukah Anda apa itu Sabak dan Grips ??? Menurut Wikipedia, “sabak” adalah papan tulis kuno yang digunakan untuk menulis sebelum digunakannya buku tulis secara luas. Sabak terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak menjadi lempengan segi empat. Cara menulis di sabak adalah  menggunakan grip, perkakas mirip pensil.

Sebelum digunakannya buku tulis yang terbuat dari kertas, sabak merupakan alat tulis wajib yang harus dimiliki siswa sekolah di Indonesia pada tahun 1960-an.  Sabak dan grip adalah alat bantu belajar tulis menulis. Karena mahalnya peralatan tulis-menulis waktu itu, sabak bukanlah peranti menyimpan berkas atau tulisan atau gambar yang permanen.

Alat ini hanya digunakan sementara waktu untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru yang kala itu menuntut siswa harus punya kemampuan menghafal. Setelah selesai, sabak dapat dihapus dan ditulisi dengan materi pelajaran lainnya, begitu seterusnya.

Sabak untuk bisa digunakan harus selalu berdampingan dengan grip. Sabak sebagai media untuk menulis, sedangkan grip adalah alat tulisnya. Maka itu, sampai sekarang tempat menyimpan pensil atau bulpen disebut doos-grip.

Jaman dulu, kalau mengerjakan tugas atau ulangan ya sabak itulah yang digunakan. Dengan menggoreskan grip yang runcing di permukaan sabak, akan menghasilkan berkas seperti menulis pada kertas menggunakan pensil, tetapi agak lebih jelas dari pensil. Menulis huruf, membuat angka pada pelajaran berhitung dan menggambar pun dengan menggunakan sabak dan grip.

Anak sekolah jaman dahulu tidak mempunyai catatan. Mereka mau tidak mau dituntut untuk menghafal dan memahami pelajaran. Ingatan dan pendengaran sangat memegang peranan penting bagi seorang siswa, maka tak jarang seorang guru harus menghukum muridnya jika sang murid tidak menghafal. Saat diterangkan guru, siswa harus mendengarkan dengan seksama dan menyimpan semua penjelasan guru dalam ingatan sebagai catatan.

Di alam bawah sadar, metode pengajaran menggunakan sabak dan grip ini justru menumbuhkan kemampuan pada siswa untuk menghafal apa yang diajarkan oleh guru. Karena tulisan atau gambar yang dibuat di sabak harus dihapus untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Itulah salah satu keistimewaan para siswa tempo doeloe berkat penggunaan sabak dan grip.

Yang masih mengesankan dalam ingatan saya tatkala memakai sabak dan grip adalah cara membersihkan atau mencuci sabak dari goresan (tulisan) grips. Membersihkan sabak caranya dengan cara dicuci pakai air dicampur arang. Sedangkan untuk meruncingkan grips dengan cara digosok gosokkan secara melingkar pada pecahan sabak atau genting.

Kenangan tak terlupakan jika pas ulangan mendapatkan nilai bagus 8 sd 10 oleh guru dinilai dengan kapur, maka sebelum dihapus saya tempelkan dulu di pipi kanan atau pipi kiri saya.

Karena sabak dan grips nya cuma satu, maka setiap ganti pelajaran atau tema pelajaran, sabak harus dibersihkan. Karena itun siswa dituntut harus hafal apa yang tadi ditulis pada sabak.

Lantas, apakah waktu itu belum ada buku tulis? Sebenarnya buku tulis sudah ada, tetapi harganya sangat mahal. Maka itu, memakai sabak dan grip adalah solusinya.

Pada jaman penggunaan sabak dan grips, murid ke sekolah tak perlu membawa tas. Cukup membawa sabak dan grips saja.

Berbeda dengan anak sekarang, di jaman now, ke sekolah harus bawa tas yang berisi berbagai buku mata pelajaran, buku gambar, pulpen, spidol, laptop, atau notebook, atau IPAD.

Jadi, Anda para siswa jaman sekarang itu sangat amat beruntung. Alat tulisnya lengkap dari alat tulis manual sampai dengan digital sudah dangat tersedia.

Berbeda masa dulu, siswa tak perlu pakai tas sekolah. Sekolah cukup membawa sabak dan grips sudah lebih dari cukup. Jika dipikir-pikir, sekolah jaman dulu itu memang ngrekasa dan nelangsa. Namun demikian, anak-anak sekolah di jaman dahulu itu punya kelebihan, yaitu pemahaman dan hapalan terhadap apa yang diajarkan itu memang thooookcerrrr. Berani diadu, tak kalah dengan siswa jaman milenial.

Karena sabak dan grip justru membuat proses internalisasi pelajaran sangat istimiwir pada siswa yang mau mengikuti pelajaran dari Pak atau Bu gurunya. Itulah pengalaman saya pelaku sekolah dengan sabak dan grip. Ada yang mau menambahkan atau melengkapi sumangga!

***

Nglebak Katongan, 19 Januari 2020.

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.