Sastra Dan Sikap Kultural Melawan Korupsi

Sumanang Tirtasujana.

PADA hari ini, saya ingin mengajak untuk merenung. Saya yakin siapapun akan setuju “Kita mesti sepakat jika Bangsa ini selalu disebut sebagai bangsa yang besar!  Yang sudah dibangun oleh fantasi bayang-bayang masa lalu. Siapapun mungkin akan mengira bahwa bayang bayang itu adalah kenyataan. Kita mengira dan menyimpulkan: Kita adalah masyarakat yang besar, bangsa yang utuh dan demikian padu dimana segala perbedaan dan kebedaan tidak dianggap fundamental.

Nuansa pikiran kita terhadap ‘kesatuan’ berbangsa,  sepertinya kita tidak pernah  berfikir, bahwa didalam Bangsa yang besar,  selalu muncul berbagai persoalan persolan yang  besar pula.

Akhir akhir ini, didalam bangsa yang besar ini, mulai tampak, masyarakat yang utuh dan padu, yang tunduk pada satu rumus dan satu kehendak,  sebenarnya sudah mulai bergeser dan  terkikis.

Ada isyarat isyarat didalam pikiran saya yang menyimpulkan. Bangsa kita kini sedang terserang berbagai penyakit

Ada bagian bangsa kita yang mulai terbelah dan terkoyak, yaitu munculnya komunalisme, isu SARA, isu isu kekerasan, bahkan intoleransi.

Mestinya, bangsa besar ini yang ditopang  oleh berbagai suku dan perbedaan budaya, perbedaan itu bukan untuk saling menyakiti, atau melukai sendi keberbangsaan kita.

Bahkan situasi kini, yang mulai nampak yaitu menguatnya indikasi disintegrasi nasional, serta ‘Budaya Korup’ yang selalu menjadi perhatian berbagai kalangan seluruh anak bangsa.

MARI KITA PERANGI

Saya mencoba mencermati, betapa hampir setiap hari, tak henti hentinya berita Korupsi terus muncul seperti menampar kepribadian kita.

Para sosiolog dan peneliti sibuk, dengan teori teorinya, juga kajian kajiannya. Menelisik apa penyebab maraknya korupsi, yang tidak henti henti itu  .

Lalu lahirlah praduga praduga penyebab perilaku korup. Diantaranya Sifat rakus manusia. Moral yang kurang kuat. Gaya hidup yang hedonis. Bahkan dimungkinkan oleh  aspek ekonomi, aspek politik, aspek organisasi yang menjadikan  korupsi sistemik berantai dan berjamaah, (Imam B Prasojo 1983)

Disisi lain juga ada yang berpendapat, lemahnya sistem pengawasan. Lemahnya sistem pengendalian. Semakin menipisnya keteladanan serta alasan alasan lain.

Maka bisa dipercayai, identitas Bangsa Indonesia yang murni, luhur penuh pesona dengan kemajuannya. Sebagai bagiaan  untuk terus maju menuju tata nilai barunya.

Dengan menguatnya budaya korup itu. Maka siapapun generasi muda perlu ambil peran di dalamnya. Untuk mengambil sikap ‘melawan’ !

Dari fakta fakta yang menyakitkan ini, kita wajib ambil bagian di dalamnya. Dalam konteks implementasi keberbangsaan  dan kebernegaraan kita,  untuk menyatakan perlawanan terhadap korupsi. Kita Perang!

Pada subtansi ini kita mesti turut mengoreksi, mendukung KPK serta penyelenggaraan pemerintahan yang mengedepankan ‘Transparasi’ mengharuskan semua lembaga mengambil kebijakan tersebut yaitu : mengedepankan  keterbukaan, kejujuran dan kepercayaan bagi publik. Serta azas akuntabilitas (kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan di setiap lembaga). Juga pentingnya azas pengawasan yang menyangkut perihal kewajaran dan  kesesuaian, untuk mencegah terjadinya manipulasi.

PERAN SASTRAWAN

Dalam anasir pikiran saya,  posisi sastrawan (Penyair, Cerpenis, Novelis, Essays dan Penulis lainnya), tentu punya cara tersendiri dalam melawan koruptor.

Termasuk, dan tak terkecuali para Sastrawan Gunung Kidul ini. Mari kita ambil sikap, dan berkredo ‘Untuk bangsa yang besar ini, Tak bakal ada kemajuan tanpa kesatuan’. Termasuk dalam melakukan perlawanan korupsi.

Dengan bahasa sastra, kita tidak hanya bertarget ‘Mengolok olok’ para koruptor. Jauh dari itu, para sastrawan  justru jadi garda depan. Sebagai penyebar virus penyadaran, untuk mengajak kepada siapapun, termasuk generasi masa depan, untuk mengubah perilaku buruk tersebut, menuju tata nilai baru yang lebih bermutu.

Berkait dengan pergerakan kebudayaan (dalam konteks sastra) peran bahasa sangatlah penting. Karena bahasa bagian penting dari sitem kebudayaan. Bahkan bisa disimpulkan, bahwa bahasa adalah nyawanya kebudayaan. Bohong kebudayaan manusia akan ada, jika tanpa peran bahasa. Tidak mungkin kebudayaan akan berkembang kencang, dengan meninggalkan  fungsi peran bahasa.

Oleh karenanya, bahasa memiliki peran dan tugas penting dalam setiap perjuangan kebudayaan. Baik perjuangan perlawanan terhadap perilaku korup itu sendiri.

Sebagaimana dikisahkan oleh sejarah. Hanya karena tulisan, bisa kedua negara bersitegang. Bahkan sangat mungkin terjadi perang. Betapa peran bahasa tulis menjadi penting kehadirannya. Sebagai mana telah dilakukan Ki Hajar Dewantara, yang menulis ‘Seandainya Aku Seorang Belanda’ itu. (Ketamansiswaan jilid II, 1980 )

Dalam  perspektif yang sama, terhadap pergerakan melawan budaya korup. Para sastrawan sudah  semestinya tidak perlu takut takut lagi.Tidak perlu ragu ragu lagi. Kita punya cara tersendiri untuk mengganyangnya.

Apalagi sastra kita memang di kenal selalu mempunyai tradisi protes, apalagi ketika kekurangajaran muncul. Atau perilaku menindas, serta bocornya uang negara yang sengaja dikurup.

Justru sastrawan perlu ambil peran didalamnya, bahkan  jika data lengkap terpenuhi,  Sosiawan Leak mengajak untuk menyebutkan nama2 pelakunya. Sekaligus modus dan motif yang ia lakukan. Supaya keluarga pelaku juga menanggung beban malu. Menurut Leak, ini sebagai hukuman sosial yang lebih berat (Sosiawan Leak PMK IV 2015).

Maka marilah dengan semangat kolektifitas, kita gebah, kita usir perilaku budaya korup dari konteks kehidupan kita. Meskipun, sering muncul sinyalemen, bahwa sastra masih jadi barang elit bagi segelintir masyarakat. Dan tidak tiba tiba serta merta, bisa merubah perilaku manusia. Tetapi semangat dari spirit penciptaan inilah setidaknya membikin pergesekan positip. Menjadi energi yang sulit dipadamkan.

Saya mencatat, SBB Gunung Kidul adalah salah satu, dari sekian kantong-kantong kebudayaan yang potensial. Saya mengerti Gunung Kidul ini, memiliki eksistensi wilayah spirit sastra.

Kehadirannya dalam peta sastra indonesia menjadi sumber inspiratif, bahkan bukan sekedar menjadi kota imajiner belaka.

Aroma dinamika berkeseniannya telah melimpahkan sebagian hidupnya untuk penyadaran sekaligus pembangun nilai positif.

Tetapi di hamparan wilayah luas ini, jadi tempat untuk membangun mimpi, membangun  harmoni penciptaan karya sastra bagi para pendekar dan Srikandi Srikandinya.

Saya pun mencatat, sudah banyak sastrawan  yang lahir dari Gunung Kidul , seperti Andreas Sudarmanto (Indonesia Tera) juga yang lebih muda Hasta Indriyana. Umi Azurasantika.Mini GK.

Tentu siapapun berharap akan disusul generasi berikutnya. Atau terserah Anda!

Oleh: Sumanang Tirtasujana Diberikan untuk #SBB 2

Loading

Facebook Comments Box
Spread the love