September Ceria

oleh -415 views
Gotong royong memperbaiki saluran air hujan menyambut musim hujan. Foto: Iwan

SEPUTARGK.ID – “September ceria, September ceriaa… September ceria, ….. September ceria milik kita bersama!”

Lagu tahun baheula ini dinyanyikan Eyang Putri Vina Panduwinata. Lagunya menggambarkan suasana hati yang gersang dari seorang gadis, namun berubah setelah kedatangan sang kekasih. Pujaan hatinya datang saat ia berada di “ujung kemarau.” Pemuda pujaannya hadir bagaikan butiran hujan yang jatuh, menyejukkan hatinya.

Tak hanya gadis dalam lagu itu, tampaknya, saat ini pun banyak manusia menginginkan ada perubahan suasana hati. Pandemi ini seperti kemarau panjang yang membuat hati penuh kegalauan. Dan, harapan jutaan insan, pada akhir Agustus ini menjadi akhir tangisan.

Di Negeri Kahyangan, pangarep-arep itu seperti ujung kemarau yang segera tersejukkan dengan datangnya rintik hujan. Ketika langkah kaki memasuki September maka air mata akan tergantikan dengan tawa. Begitu kira-kira.

“Pak, pun dongakke supados PPKM segera berakhir nggih!” Pinta salah satu ibu saat kegiatan doa bersama, beberapa hari lalu. Perempuan ini sebelumnya bercerita tentang sepupunya yang dalam waktu dekat ini punya rencana hajatan dan mengundang sekitar 1200-an tamu. Mereka diundang untuk ikut mengungkapkan sukacita atas kebahagiaan pernikahan putra-putrinya.

Aku tercenung. Wah, PPKM sepertinya akan terus berlangsung jew. Hanya levelnya saja yang berubah-ubah, batinku. “Nggih, semoga pada hari-H sudah diperbolehkan nggih!” jawabku. Ungkapan dari seorang ibu ini sekadar contoh saja keinginan untuk segera bertemu dengan banyak handai-taulan.

Sembahyang di tempat ibadah pun sudah mulai dimungkinkan. Bagi sebagian orang, ini menceriakan. Bisa kembali menyanyi bersama di gereja, bersimpuh bersama di masjid, dan mendengar sabda bersama di wihara atau pura. Begitu pula terlihat rumah sakit tak lagi membludak. Puskesmas-pun semakin diminati warga yang datang antusias ikut vaksinasi. Ini tanda-tanda datangnya keceriaan.

Tapi tak sekadar suasana ini. Keceriaan level atas semestinya terjadi jika kita tak mendengar berita kematian dengan frekuensi tinggi lagi. Sekarang berita itu pun sudah berkurang. Sirine ambulan tak lagi mbrebegi telinga. Suasana ceria itu sudah jelas tanda-tandanya.

Namun, di Negeri Kahyangan, berita kematian “istimewa” masih saja terdengar. Ini, lho. Kematian karena bunuh diri! Pada ujung bulan delapan ini, sudah ke-35 kali manusia yang berani mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Coba bayangkan, 35 orang tua-muda. Sekarang ini angka itu bahkan dicapai belum sampai akhir tahun. Meski tak terhubung langsung dengan pandemi, “kemarau” itu nampaknya belum akan berakhir.

Pertanyaannya, lalu di mana ujungnya? Saya juga belum tahu.

Namun setidaknya selama pandemi ini berlangsung, pertanyaan itu semestinya menjadi pertanyaan bagi diri yang perlu digaungkan. Di mana posisi kita? Jika selama ini ikatan keluarga sangat tinggi dihargai, sudahkan kita menjaga ikatan keluarga itu dengan menanyakan kabar kondisi anggota keluarga?

Jika selama ini ikatan komunal warga masyarakat atau paguyuban keagamaan sangat kental, sudahkan kita mengaduknya agar semua bisa tetap menjaga kekentalannya?

Jika pada masa pandemi ini semakin sedut-senut kepala para pelaku usaha, sudahkah kita membantu sesama? Ya, jajan ke warungnya misalnya.

Ah, semoga September ceria tak hanya diimpikan dan dinyanyikan namun juga diupayakan dengan bergandengan tangan… Eh, maaf jangan bergandengan tangan, mungkin sudah cukup saling melempar senyuman meski tetap maskeran.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.