Suntik Bikin Bergidik?

oleh -272 views
Presiden Joko Widodo (tengah) bersiap disuntik dosis pertama vaksin Covid-19 produksi Sinovac oleh vaksinator Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Abdul Mutalib (kanan) di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Penyuntikan perdana vaksin Covid-19 ke Presiden Joko Widodo tersebut menandai dimulainya program vaksinasi di Indonesia.(Foto: Setpres/Agus Suparto/Kompas.com).

SEPUTARGK.ID – Ada yang pernah membayangkan rasa ngeri dicoblos jarum? Kala tak sengaja tercoblos duri mungkin tak mengapa, namun sengaja dicocok dengan jarum menembus kulit? Ohhh, ngeriiii.

Saya ingat waktu masih bocah. Kalau tidak salah ingat, saat duduk di kelas 3 SD, waktu itu ada program vaksin cacar. Program itu bagaikan truk yang lewat yang akan mengangkut para bocah lalu, entah siapa, mencungkili mata. Sebagai bocah, saat itu aku diajak membayangkan bahwa jarum suntiknya akan dibakar pakai cairan spritus lebih dahulu lalu dicobloskan ke lengan anak. Jadi jarum suntiknya disediakan bukan masing-masing satu tapi satu digunakan bergantian. Luka bekasnya pun digambarkan akan membentuk seperti bekas luka bakar, meleleh dan menghitam. Peristiwa itu sungguh sangat kelam dalam bayangan seorang bocah.

Dugaan saya, narasi ngeri itu yang dulu membentuk alam bawah sadar anak. Bahkan dalam situasi meriang ada banyak persediaan tenaga untuk menolak berobat, paling tobat kalau disuntik. Tak mau ke mantri bukan takut antri, tapi takut jarum suntik yang bikin ngeri.

Sekarang situasinya berbeda. Saat dewasa, kupahami lewat logika bahwa suntik adalah salah satu penemuan yang sama sekali tak menyiksa. Tajamnya jarum tak terlihat ngeri namun justru seperti penipis nyeri. Bahkan jarum yang cukup besar, sepertinya beberapa kali lipat ukurannya dari jarum suntik biasa, untuk donor darahpun sudah terbiasa menghujam kulit. Ingatanku hanya, “setetes darah sejiwa manusia.”

Namun “takut disuntik” itu kenyataannya ada. Saya ingat pada suatu hari saat sosialisasi donor darah di Negeri Kahyangan. Beberapa pemuda berbadan kekar takut jarum suntik. Angkat tangan karena takut dicoblos. Begitu pula tergambar pada beberapa tayangan lucu beredar di sosial media. Ada polisi yang teriak-teriak, “siap!” tapi menjerit histeris saat jarum hampir sampai di kulit. Atau foto pria atau perempuan di medsos yang tak sengaja karena reflek ketakutan berpegang pada “barang berharga” dari dokter yang menyuntiknya atau perawat yang memegang tangannya. Bikin geli setengah mati.

Hari-hari ini, rasanya bukan vaksin yang menakutkan namun cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh yang lebih menakutkan. Coba ditetes, dihisap, dioles, ditenggak, atau diuntal kaya kapsul. Atau dijilat hiii.

Saya berpikir lebih dari itu, sih. Dicoblos jarum sesungguhnya tak hanya untuk memasukkan vaksin, namun sangat berguna untuk berpahala, misalnya menyedot darah untuk donor bagi sesama yang membutuhkan segera. Jadi jika memang takut tak perlu mencari aneka alasan, lebih baik mengingat sesama yang sungguh sangat membutuhkan.

Saya kira yang diperlukan khalayak bukan hanya vaksinasi, namun dekonstruksi suntik yang bikin bergidik.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.