Warung Jawatimuran

oleh -173 views
Warung Jawatimuran di Sentani Jayapura. Foto: Tugi.

SEPUTARGK.ID – Barangkali ini sulit disanggah: “Warung Jawatimuran” telah mengokupasi lapak-lapak dagangan kakilima berbagai kota Nusa Antara. Dari Lamongan, Madura, Malang, Kediri, dan sebagainya. Mereka datang “memeriahkan” pinggir jalan dan kota dengan aneka dagangan makanan. Mulai dari ayam atau ikan penyet lalapan, sate, soto, bakso bakwan, dan lain-lainnya. Bahkan tidak sedikit yang menyeberang pulau berjualan pentol bakso keliling dengan sepeda motor sekalipun.

Bosen dengan menu ayam dan mujair penyet, tadi malam di pinggir jalan raya Sentani saya nyicipi soto Jawatimuran di warung Azizah dari Kediri. “Mirasa” banget rasanya, mengobati kangen jajan Soto Tan Proyek Playen.

Dari pengalaman tugas ke pelosok-pelosok kawasan timur Nusantara, saya mendapati warung-warung “Jawatimuran” memang bertebaran di mana-mana. Sedulur dari daerah lain tentu saja juga ada. Ada Rumah Makan Padang dari Minang, ada coto juga konro Makassar, ada nasi kuning Gorontalo, bakso dari Sragen, dan sebagainya. Ada juga dari Jogja lho. Dua hari yang lalu saya sempat maksi menu gudeg Jogja di deket mesjid raya Sentani. Yang jual ternyata pendatang dari Berbah Sleman.

Entah apa yang merasuki para sedulur pendatang ini. Mereka gigih berjualan makanan dengan mendirikan “warung tenda” pinggir jalan. Apa karena fighting spirit mereka yang luar biasa buat menegakkan hidup dan merubah nasib? Yang jelas, warung2 mereka eksis dan laris manis. Pembelinya bukan melulu pendatang, masyarakat lokal pun lahap menikmati makanan model Jawatimuran ini.

Yang jelas, fakta yang ada menunjukkan, justru para perantau bakul warung tenda inilah yang “menyatukan Indonesia”. Ya, lewat sajian makanan yang bisa mengenyangkan perut beragam anak bangsa. Lha saya kok jadi berpikir, “nasionalisme para pejuang warung tenda” ini nggak kalah berkobar dengan patriotisme para aparatur negara.

Tiba-tiba saya jadi teringat promosi dan anjuran masif para pembesar di daerah asal saya. “Anak-anak muda Gunungkidul sekarang nggak perlu merantau. Gunungkidul lain dulu lain sekarang, pembangunan sudah maju, wisata sudah maju. Mbangun Gunungkidul, gak usah merantau….”

Jujur, sampai saat ini saya kok tetap yakin di sisi seberangnya. Ayo merantau, kembangkan diri, warnai Nusantara dengan karya terbaik di berbagai bidang pekerjaan. Warnai juga Nusantara dengan sambel bawang, jangan lombok, bakmi godog, puli tempe, dan aneka kuliner khas yang dipunyai.

Tahun 2008 dulu, tak disangka, saya pernah jumpa sedulur-sedulur GK yang menjadi transmigrasi di kawasan Segun Kabupaten Sorong. Ada sedulur dari Kedungkeris yang miara sapi wuokeh banget. Ia menjadi pemasok daging segar di Sorong dan sekitarnya. Tahun 2016 lalu, saya juga sempat dolan ke kompleks transmigran Tanah Miring Merauke (MIFEE: Merauke Integrated Food and Energy Estate). Kompleks tersebut dikenal sebagai wilayah produsen beras dan sayuran yang memasok ke berbagai kabupaten di Papua.

Ayo tetap semangat merantau! Merantau bukan berarti orang yang kalah tarung di kampung halaman. Apalagi merantau juga bukan dosa kok.

***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.