Daftar Ular Berbisa di Indonesia yang Mematikan

oleh -776 views
ular
Ular Welang. (istimewa)

Seputargk.id,– Berkaca pada peristiwa dugaan bocah digigit ular hingga meregang nyawa di Gunungkidul beberapa waktu lalu, masyarakat hendaknya lebih waspada dengan satwa melata. Sebagaimana diberitakan kabarhandayani.com, kuat dugaan seorang bocah menemui ajal karena gigitan ular. Dikutip dari Orami.co.id berikut daftar ular bebahaya karena punya bisa mematikan yang berasal dari Indonesia.

  • Ular Weling

Uar weling memang masih satu jenis dengan ular welang. Ular weling atau Bungarus candidus juga termasuk ular spesies lokal yang banyak ditemukan di Pulau Jawa.

Berbeda dengan ular welang, ular weling ini cenderung memiliki tubuh yang lebih kecil karena panjangnya hanya bisa mencapai 1 meter. Warna tubuhnya pun tidak sama, tetapi hampir mirip, yakni memiliki pola lingkaran hitam dan putih berseling.

Mengutip Jurnal Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya, ular weling ini dapat dijumpai pada habitat setengah perairan, sawah, sungai, dan daerah berair lainnya.

Namun, ular ini juga dapat dijumpai pada daerah dataran rendah dan daerah dataran tinggi hingga 1200 mdpl. Mereka memdiami berbagai habitat termasuk hutan tropis basah dan kering, hutan pegunungan tropis, hutan bakau, semak belukar, perkebunan, dan daerah perumahan.

Ular weling lebih aktif di malam hari atau nokturnal dan biasanya mereka bertahan hidup dengan memakan ikan, katak, dan hewan kecil di air.

  • Ular Welang

Ular berbisa yang biasa ditemui di Indonesia ini punya nama latin Bungarus fasciatus. Ular berbisa yang satu ini memiliki ciri warna tubuh kuning dan hitam atau putih dan hitam.

Tak main-main, ular welang bisa tumbuh hingga mencapai 2,25 meter, lho. Spesies ular ini memiliki persebaran alami di Pulau Jawa sehingga dapat disebut spesies lokal.

Mengutip Jurnal Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, ular welang sangat banyak dijumpai di daerah dataran rendah dengan habitat wilayah sedikit berhutan, sekitar rawa, sawah, dan sungai dekat dengan pemukiman warga.

Ular welang lebih aktif di malam hari dan saat siang hari, mereka lebih banyak bersembunyi di lubang bawah tanah, seperti lubang bekas tikus.

  • Ular Kobra Sumatera

Ular kobra Sumatera termasuk dalam spesies lokal Indonesia. nama latinnya Naja sumatrana. Ciri-ciri ular kobra sumatra antara lain tubuh tebal, ekor pendek, kepala elips dan tertekan yang sedikit berbeda dari leher, dengan moncong pendek bulat dan lubang hidung besar.

Spesies berdarah dingin ini umumnya mendiami kawasan hutan di dataran rendah dan pertengahan perbukitan. Selain itu, ditemukan di perkebunan kelapa sawit, sawah, dan kebun. Bahkan terkadang, memasuki tempat tinggal manusia di kota-kota dan desa-desa yang terletak di dekat tepi hutan.

Secara alami, ular kobra sumatra bukanlah makhluk yang agresif. Namun, ular berbisa ini akan dengan mudah menyemburkan racun saat merasa dirinya terancam.

Ludah atau bisa yang disemprotkannya mengandung racun neurotoksik dengan zat yang dapat merusak jaringan saraf dan mematikan sel-sel individu.

Racun bisa menyebabkan kerusakan serius jika masuk ke mata, lubang hidung atau luka kulit. Racun yang disemprotkan ke mata korban dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan di sekitar mata yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani.

Kobra sumatra juga bisa menyerang dengan cara menggigit mangsanya saat merasa terancam. Gigitannya langsung bisa berakibat fatal bagi korban.

  • Ular Kobra Jawa

Ular berbisa yang perlu diwaspadai diantaranya termasuk ular kobra jawa (Naja sputatrix). Kobra jawa biasanya berwarna hitam kecoklatan dan cenderung hidup di atas tanah.

Ketika menggigit mangsanya, ular jenis ini akan menyuntikkan bisa melalui taringnya, kemudian bisa tersebut akan masuk ke dalam pembuluh darah lawannya.

Selain melalui gigitan, ular kobra yang sangat berbahaya ini dapat menyerang mangsa dengan cara menyemprotkan bisa.

Bagian moncong ular tersebut tumpul dan berwarna keputihan. Kobra jawa juga memiliki bentuk gigi taring yang kecil dengan ujung taring yang pendek.

Ular kobra jawa dapat mencapai panjang 1,2 meter dan semprotan bisanya mampu menjangkau jarak hingga 2 meter. Sering kali, ular ini menyemprotkan bisa ke bagian wajah mangsa sehingga dapat membuat targetnya mengalami kebutaan.

Dalam kondisi terancam, ular kobra akan mengembangkan leher dan menegakkan badannya, kemudian siap menyemprotkan bisa kepada lawannya.

  • Ular Raja Kobra

Ular raja kobra atau yang populer dengan nama king cobra ini juga dapat ditemui di wilayah Indonesia. Ular ini tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa dan sekitarnya, hingga ke Sulawesi.

Ular raja kobra (Ophiophagus Hannah) adalah ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang rata-rata 3,5 meter, dan bisa mencapai panjang tubuh hingga 5,8 meter.

King cobra termasuk salah satu dari lima ular paling mematikan di dunia. Jadi, sangat patut untuk diwaspadai.

Ular berbisa ini dapat mengangkat sepertiga tubuhnya dari tanah dan berhadapan langsung dengan manusia dewasa. Mereka juga memiliki beberapa racun neurotoksik paling kuat yang diketahui manusia.

Jumlah racun yang ular raja kobra berikan hanya dalam satu gigitan sudah cukup untuk membunuh 20 orang, atau setara dengan seekor gajah. Racunnya dapat menyerang pusat saraf di otak sehingga korban gigitan king cobra mengalami gagal napas dan gagal jantung.

  • Ular Tanah

Ular Tanah atau Calloselasma rhodostoma menyebar di wilayah Pulau Jawa. Ular ini juga diketahui dengan nama-nama lokal seperti Bandotan bedororay lemahoray gibug, atau ular edor.

Seperti namanya, ular tanah ini memiliki warna tubuh cokelat kemerahan dengan beberapa corak hitam di bagian punggung. Mereka memiliki tubuh yang cukup gemuk dan pendek karena panjang tubuh rata-ratanya hanya mencapai 76 cm.

Ular tanah termasuk dalam predator penyergap, mereka diam melingkar di tanah atau di atas serasah menunggu mangsanya lewat di dekatnya.

Biasanya, ular tanah menghuni hutan belukar, semak-semak, atau lahan pertanian yang kurang terurus. Terkadang, juga ditemukan pada wilayah pemukiman.

Ular ini memangsa hewan pengerat, burung, kadal, atau kodok dan cenderung aktif di malam hari (nokturnal). Gigitan ular tanah bisa sangat menyakitkan, menimbulkan pembengkakan, bahkan kadang-kadang terjadi kematian jaringan (gangreen, nekrosis). Meskipun gigitan fatal jarang terjadi, tetapi korbannya sering kali mengalami kerusakan atau disfungsi anggota badan, bahkan harus diamputasi.

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.