Bendung Payaman Semin: Salah Satu Bangunan Irigasi di Hulu Sungai Oya

oleh -100 views
Bendung Payaman di Desa Rejosari Semin. Foto: Kandar.

Memang benar, sebagian besar luas wilayah Gunungkidul merupakan wilayah kering berbatu karst. Namun, di zone Wonosari Basin (tengah) dan zone utara (zone Baturagung) memiliki potensi air tanah dan air permukaan tanah yang melimpah. Pada zone tengah dan utara terdapat hamparan sawah dengan sistem irigasi teknis. Ingat lho ya… irigasi, bukan drainase… karena kadang ada yang pengertiannya kewolak-walik, juga kadang dicampur, irigasi itu ya drainase….

Merujuk data Dinas Pertanian dan Pangan tahun 2016, BPS mencatat, lahan tanaman padi di Gunungkidul seluas 56.505 ha. Terdiri dari lahan ladang 42.078 ha dan sawah 15.205 ha. Jadi sebanyak 73% luasannya merupakan sistem padi ladang kering, dan 27% merupakan sistem sawah. Nah, artinya terdapat 27% lahan yang memiliki sistem irigasi teknis.

Di mana area sawah beririgasi teknis tersebut? Kecamatan Semin tercatat memiliki lahan sawah terluas yaitu 3.766 ha, disusul Gedangsari 2.510 ha, kemudian Patuk 2.494 ha, keempat Ngawen 2.074 ha, kelima Ponjong 1.569 ha, keenam Karangmojo 1.241 ha, dan ketujuh Nglipar 560 ha. Lahan sawah dengan luasan di bawah 500 ha ada di wilayah Playen, Semanu, Wonosari, Purwosari, Paliyan dan Panggang. Nah, ternyata ada juga lho lahan sawah di zone Gunungsewu (selatan).

Bendung Payaman, prinsipnya menaikkan tinggi permukaan air Sungai Oya dan mengambir sebagian air dialirkan ke saluran samping untuk keperluan irigasi di daerah pengalirannya. Foto dasar: google-earth.

Irigasi teknis tersebut memanfaatkan aliran sungai permukaan tanah atau sumber-sumber air permukaan tanah. Sungai permukaan salah satunya Sungai Oya, merupakan sungai besar, berhulu di wilayah perbatasan Semin (Gunungkidul) dan Manyaran (Wonogiri) dan melintas di beberapa wilayah kecamatan dan menyatu dengan Sungai Opak di daerah Imogiri (Bantul). Bangunan irigasi teknis tersebut antara lain memanfaatkan air permukaan tanah di Sungai Oya maupun anak-anak Sungai Oya, dan juga sungai-sungai lokal lainnya yang tidak berhilir ke Sungai Oya.

Bangunan pengambilan (intake) atau pintu air di Bendung Payaman. Foto: Kandar.

Bendung Payaman di foto berikut adalah salah satu bangunan bendung di wilayah Gunungkidul. Bendung ini berada di Dusun Payaman, Desa Rejosari, Semin. Ancer-ancernya di sebelah barat Puskesmas Semin II, posisinya di sebelah selatan jalan raya Semin – Manyaran. Menurut catatan yang diperoleh, Bendung Payaman dibangun pada tahun 1962. Saluran primer irigasi dari Bendung Payaman ini lumayan panjang, lebih dari 6 km, artinya desain luas area pengairan yang tertulis 1050 ha pada bangunan bendung ini pada awal beroperasi ada benarnya. Sayangnya, belum diperoleh data terkini berapa luas lahan yang terairi sekarang ini. Kemungkinannya sudah berkurang dengan berbagai sebab.

Apa Itu Bendung?

Bendung adalah bangunan air yang dibangun melintang sungai, yang berfungsi untuk menaikkan muka air sungai, menaikkan tinggi tekan dan atau membendung aliran sungai, sehingga aliran sungai mudah dihisap dan dialirkan secara gravitasi ke daerah yang membutuhkannya dengan jarak saluran yang relatif pendek. Ada beberapa tipe bendung, yaitu: 1) Bendung pelimpah atau bisa juga disebut bendung tetap, 2) Bendung gerak yang berupa pintu air, dan 3) Bendung gerak yang berupa bendung karet.

Bendung tetap adalah ambang yang dibangun melintang sungai untuk pembendungan sungai yang terdiri dari ambang tetap, di mana muka air banjir di bagian hulunya tidak dapat diatur elevasinya.

Bendung ini juga merupakan penghalang saat terjadi banjir, sehingga air sungai menjadi tinggi dan tanpa kontrol yang baik akan dapat menyebabkan genangan air di hulu bendung tersebut. Karena itu, untuk sungai yang tidak mampu menampung tinggi luapan yang terjadi tidak sesuai dengan bangunan ini. Bahannya dapat terbuat dari pasangan batu, beton atau pasangan batu dan beton. Bendung umumnya dibangun pada bagian ruas hulu dan ruas tengah sungai.

Saluran primer pada Bendung Payaman. Foto: Kandar.

Menurut data Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Gunungkidul, terdapat 251 bangunan sarana irigari pertanian dan untuk pemanfaatan air lainnya di seluruh wilayah Gunungkidul. Rinciannnya, jumlah bendung ada 146, sumur dengan pompa ada 59 titik, dan bangunan pengambilan dari sumber air berjumlah 44. Sedangkan 2 sarana yang lain berbentuk bangunan pengambil Irigasi dan bangunan pengambil air bersih atau baku.

Bendung yang terdapat di wilayah Gunungkidul pada umumnya merupakan rekayasa bangunan air dengan memanfaatkan sungai besar dan anak-anak sungainya. Pada sungai dan anak sungai tersebut dibuatlah bendung dan pada umumnya diberi nama sesuai nama tempatnya, seperti: Bendung Payaman di Semin, Bendung Gedangrejo di Karangmojo, Bendung Beton di Ponjong, Bendung Semingkar di Patuk, Bendung Banyumoto di Bejiharjo, dan lain-lainnya. Bangunan bendung dominan berada di wilayah Semin, Karangmojo, Ponjong, dan Patuk. Diluar wilayah yang disebutkan tadi, juga terdapat bangunan bendung di Nglipar, Gedangsari, Wonosari, dan Playen.

Beda Bendung dan Bendungan

Meski sama-sama sebagai bangunan air, bendung berbeda dengan bendungan. Dalam Bahasa Belanda, bendung disebut weir (Bahasa Belanda), sedangkan bendungan disebut dam. Beda bendung dan bendungan terletak pada fungsi dasarnya yang berbeda, bentuk bangunannya yang berbeda, juga dimensi/ukuran bangunannya yang juga berbeda. Kesamaannya ya itu tadi, sama-sama sebagai bangunan air. 

Kondisi saluran primer jaringan irigasi Payaman sejauh 1,5 km dari Bendung Payaman. Foto: Kandar.

Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Bangunan ini dibangun melintang sungai untuk meninggikan muka air dan membuat tampungan air. Dengan dibangunnya waduk ini dapat berfungsi ganda, antara lain: pengendalian banjir, irigasi, PLTA, industri, air minum, perikanan, rekreasi dan lain-lain. Terdapat banyak sekali tipe bendungan yang sukar dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Jadi satu bendungan dapat dipandang dari berbagai segi yang masing-masing menghasilkan tipe yang berbeda-beda pula.

Mana yang Diperlukan: Bendung atau Bendungan?

Salah kaprahnya, masyarakat umum sering menyamakan bendung sebagai bendungan. Wis pokoke kene iki apike digawe bendungan, ben ora susah masalah banyu nggo pertanian lan air bersih nggo rumah tangga. Saya pernah menjumpai diskusi di sebuah grup WA, ide besar membangun bendungan besar di Sungai Oya, pasti beres masalah air pertanian dan juga air bersih.

Sah dan boleh-boleh saja berpendapat seperti itu, tetapi yang perlu dikaji lebih lanjut, sesungguhnya mau membangun bendung atau bendungan untuk memanfaatkan Sungai Oya? Sesuaikah karakteristik topografi bantaran sungai Oya direkayasa sebuah bendungan? Bagaimana kondisi perlapisan batuan dan tanah dasarnya? Jika ada, di titik dan wilayah mana? Berapa volume rencana waduk tampungan bendung dan bagaimana kesiapan lahan milik masyarakat baik ladang/tegalan dan permukiman yang menjadi tergenang?

Membangunan prasarana dasar wilayah biasanya disertai itung-itungan kelayakan teknis, ekonomis juga finansialnya. Sesungguhnya, yang kita butuhkan bendung atau bendungan? Atau justru yang cocok malah perbanyak bikin dam parit untuk memanem air hujan (rainwater harvesting) pada anak-anak sungai dan kalenan di wilayah kita?

***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.