Sertifikasi Produk Pertanian Organik dan Idealisme Bertani

oleh -322 views
Budi Wibowo, petani organik dari Karangsari Semin. Dok: KH Files.

SEPUTARGK.ID – Produk pertanian organik seperti beras dan sayur-mayur belakangan menjadi trend konsumsi masyarakat dengan berbagai variasi pertimbangan dan alasan. Demi alasan jaminan produk, produk pertanian organik pada akhirnya disibukkan dengan urusan sertifikasi produk.

Ada sisi baik dari sertifikasi produk pertanian organik. Namun, di sisi lain, kenyataan lapangan menunjukkan bahwa kewajiban sertifikasi produk ini berbalik malah menyusahkan pelaku pertanian organik. Akibatnya, masyarakat malah balik badan menjadi ogah bertani organik.

Budi Wibowo, petani muda dari Karangsari Semin Gunungkidul tetap bertahan menjadi petani organik. Ia juga tidak mau terjebak dalam keributan sertifikasi produk organik. Bagi dirinya, bertani organik adalah cara bertani seperti yang dilakukan para simbah-simbah dulu sebelum mereka dikenalkan revolusi pemakaian pupuk dan obat-obatan kimia untuk pertanian.

Nyatanya, dengan bertani organik skala rumah tangga, ia mampu mencukupi kebutuhan bahan pokok dan sayur-mayur untuk rumah tangganya. Bahkan, tak jarang ia masih bisa membagikan hasil pertanian organik kepada rekan dan kenalan yang meminta produk pertanian organik dari kebunnya.

KH Files berkesempatan ngobrol santai bersama Budi Wibowo. Budi tidak bersikap dan bertindak muluk-muluk dalam bertani organik. Bagi dirinya, membangun kecukupan dan ketahanan pangan kuncinya dimulai dari setiap rumah tangga, terkhusus rumah tangga petani.

Ada banyak hal seluk-beluk bertani organik utamanya gaya hidup bertani yang layak menjadi pengetahuan bersama dan menjadi inspirasi aksi nyata bersama-sama.

 

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.