Kisah Pak Bekti Mendaki Bukit Candi Serut Patuk

oleh -506 views
Hijau royo-royo kawasan Gedangsari saat ini, buah dari program penghijauan Gunungkidul tahun 80-90an. Dok: KH.

SEPUTARGK.ID – “Dampak kepemimpinan Pak Bekti yang unik yakni manajemen keroyokan terpadu disertai etos kerja serta disiplin tinggi dapat meningkatkan spirit dan prestasi kinerja luar biasa.”

Tatkala bicara tentang Desa Serut Kecamatan Gedangsari (dulu masih masuk Kecamatan Patuk), ada pengalaman unik yang tak pernah terlupakan.

Ketika itu Bupati Gunungkidul Pak Soebekti Soenarto, bupati “gila” lomba dan penghijauan yang familiar dengan panggilan Pak Bekti.

Sambil checking kesiapan lomba budidaya ternak di rumah salah satu Kontak Tani Pak Harto Wiyono  namanya, beliau juga kepingin melihat kegiatan penanaman bibit penghijauan di bukit Candi yang cukup tinggi.

Ketua kelompok tani melaporkan bahwa penanaman bibit pohon penghijauan komplit satu bukit dari bawah hingga puncak dengan berbagai jenis tanaman pioneer.

“Ra mungkin Pak Bupati kersa bersusah payah mendaki bukit terjal dan tinggi untuk ngecheck tanaman penghijauan ,” celetuk salah satu warga.

Dilapori baik-baik saja oleh kelompok tani penghijauan ternyata “nyolong pethek” alias meleset dari dugaan semula. Eh ternyata pak Bupati menantang naik bukit Candi untuk ngecek tanaman.

“Ayo kita mendaki bukit sampai puncak,” ajak Pak Bekti sambil lari kecil sekaligus melihat kanan kiri ada tidak bibit tanaman penghijauan yang baru saja ditanam sebagaimana laporan yang diterima.

Ajakan Pak Bekti siapa berani menolak? Anggota, pengurus bersama Ketua Kelompok Tani, Lurah, Camat, Pembantu Bupati, pejabat Pemkab lainnya serta para pejabat instansi nivo komplit tak terkecuali ikut serta mendaki kendati dengan nafas terengah-engah.

Oleh karena saking semangat dan komitmennya terhadap pembangunan lingkungan hidup termasuk pertanian dalam arti luas, bupati yang satu ini mampu menggerakkan semua elemen masyarakat dan penyelenggara pemerintahan di tingkat Kabupaten Gunungkidul secara terkoordinasi dan terpadu.

Gaya kepemimpinan yang demikian dipopulerkan dengan istilah “manajemen keroyokan terpadu “. Disertai dengan etos kerja dan disiplin tinggi dalam prakteknya, tidak kenal wayah dan lelah. Tidak jarang setelah seharian bekerja malam hari dilanjutkan dengan rapat koordinasi di pendopo lama.

Bagi aparat yang terbiasa leha-leha, santai dan tidak disiplin biasanya sulit dan merasa berat mengikuti gaya kepemimpinan Pak Bekti.

Implementasinya baik di forum-forum rapat yang diadakan secara rutin, berkala, maupun dalam sikon emergensi. Demikian pula pada kegiatan di lapangan sebagaimana yang terjadi di bukit Candi Desa Serut Kecamatan Gedangsari itu.

Semuanya cemas, jangan-jangan laporan yang disampaikan kelompok tani tidak sesuai dengan kenyataan atau familiar dengan laporan Asal Bapak Senang (ABS) dan di atas ternyata gundul plinthis.

Jika demikian adanya pasti kena marah mulai dari kadis, pejabat instansi nivo yang berkompeten, Camat, Lurah, petugas lapangan dan tak terkecuali ketua kelompok taninya.

Kuat juga ternyata Pak Bupati mencapai puncak. Terlihat seperti tidak punya rasa lelah, sementara yang lainnya gobyoooos dengan nafas terengah-engah sambil menahan nafas menunggu apa yang akan terjadi.

Kejadian langka dan tidak lazim ini terjadi tahun 1991. Sewaktu saya mewakili Kepala Cabang Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) Opak Progo Kabupaten Gunungkidul yang merupakan instansi nivo kepanjangan tangan dari Kanwil Departemen Kehutanan sekaligus selaku Koordinator PLP Kecamatan Patuk.

Alhamdulillah ternyata tidak ada kata marah dari pak Bupati saat itu. Yang ada motivasi agar petani agar mau menyadari dan mengadopsi teknologi RLKT pada lahan kering marginal di lereng-lereng bukit agar menjadi hijau royo-royo dan produktif.

Semuanya lega, mak plong, sehingga bisa tersenyum dan tertawa kendati dalam hati masing-masing.

Berkat gaya kepemimpinan Pak Bekti yang dijuluki “Bupati  gila lomba dan penghijauan” dengan konsep manajemen keroyokan terpadu disertai disiplin, tertib dan tidak mau ABS bisa mewujudkan impiannya hari esok lebih baik.

Setiap padukuhan diwajibkan membuat tugu bertuliskan “Gunungkidul Handayani Hari Esok Lebih Baik”. Pak Bekti sangat kreatif dan inovatif menggagas motto Handayani Hari Esok Lebih Baik untuk pembangunan totalitas di kabupaten Gunungkidul dan diukirgaungkan ke seluruh wilayah.

Akhirnya berkat komitmen beliau khususnya di bidang penghijauan, Gunungkidul selama lima tahun prestasinya di atas angin selalu menyabet kejuaraan tingkat provinsi dan nasional.

Baik bagi kelompok tani penghijauan maupun petugas lapangan penghijauan (PL ) / Penyuluh Kehutanan yang kinerjanya bagus dan berprestasi dapat mengharumkan nama Gunungkidul di kancah nasional.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu Penyuluh Kehutanan yang termotivasi mengikuti serta mengadopsi gaya kepemimpinan Pak Bupati yang unik dan mumpuni dalam manajemen pemerintahan utamanya kerja keras, disiplin dan menguasai bidang tugasnya dengan baik.

Tahun 1991, saya ditunjuk oleh Kanwil Departemen Kehutanan DIY untuk mewakili unsur Penyuluh Kehutanan ikut temu wicara dengan Presiden Soeharto dalam acara Hari Pangan Sedunia (HPS) tanggal 16 Oktober di Karawang Jawa Barat.

Kemudian tahun 1992 diberi amanah sebagai Duta Penyuluh Kehutanan Provinsi DIY ikut upacara PPN XXXII, temu nasional Penyuluh Kehutanan serta lomba pidato Penyuluh Kehutanan di Gorontalo Sulawesi Utara

Alhamdulillah, dalam temu wicara HPS dengan Pak Harto, saya lolos seleksi dari sekitar 150 orang se-Indonesia dipilih 40 orang saja dapat penghargaan sehingga ketemu langsung dengan orang nomor satu di NKRI itu.

Sedangkan dalam acara Pertemuan Penyuluh Kehutanan Tingkat Nasional, saya didaulat menjadi ketua Tim Perumus hasilnya dibacakan kemudian diserahkan kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia Hasjrul Harahap sebagai masukan dan bahan pertimbangan penyusunan kebijakan penyuluhan kehutanan di tingkat nasional.

Sementara dalam Lomba Pidato Penyuluh Kehutanan, tim yuri memberikan nilai tertinggi di antara para peserta kemudian dinobatkan sebagai juara 1 terbaik tingkat nasional, sehingga berhak memperoleh piagam penghargaan, thropy dan uang pembinaan.

Sejumlah prestasi ini semua berkat bimbingan, motivasi dan kepercayaan pimpinan serta dukungan semua pihak terkait, untuk mewujudkan kredo di mana bumi kupijak di situ langit kunjunjung.

Juara bukanlah menjadi tujuan utama, namun merupakan wujud pengakuan atas dasar parameter serta indikator capaian kinerja seseorang dalam melaksanakan amanah yang diberikan oleh atasan secara bertanggung jawab.

Pak Bekti pencetus manajemen keroyokan terpadu terbukti menghasilkan segudang prestasi dalam berbagai aspek pembangunan selama menjalankan tugas kewajibannya dalam lima tahun, sehingga layak menjadi suri tauladan semua pihak.

Dan sebagainya “Gong”-nya, di akhir masa baktinya dapat mempersembahkan penghargaan bergengsi Parasamya Purna Karya Nugraha bagi warga masyarakat Kabupaten Gunungkidul Handayani.

Klaten , September 2021

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.