Malem Selasa Kliwon Nanti Malam Pembukaan Cupu Panjala

oleh -374 views
Petani tadah hujan kawasan Gunung Sewu Gunungkidul. Foto: NR.

Malam nanti, Senin 5 Oktober atau malem Selasa Kliwon) adalah saat dibukanya Cupu Kyai Panjala. Demikian tulis Bowo Priananto, seorang kawan dari Panggang yang menginformasikan ritus tradisional di desanya pada sebuah grup facebook.

Menurut Bowo, ritual pembukaan Cupu Panjala diyakini sebagai media untuk menghubungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberikan berkah, kelancaran bercocok tanam dan kesuburan, terkait dengan musim tanam tiba. Ritual itu menurutnya lebih spesifik ditunjukkan kepada para among tani sebagai penanda apa yg harus dilakukan, kapan harus mulai bercocok tanam dan jenis tanaman yang harus di tanam di ladang-ladang tadah hujan.

Sebagai orang yang dibesarkan dan hidup dalam tradisi pertanian sisi selatan Gunungkidul, Bowo menyadari, ladang tadah hujan yang tentu saja mengandalkan curah hujan harus diupayakan waktu yang tepat dalam proses bercocok tanamnya. Karena itu, selain “membaca alam”, menurutnya masyarakat Desa Girisekar menjadikan cupu Kyai Panjala sebagai runutan dalam melakukan kegiatan pertaniannya.

Tradisi pembukaan cupu biasanya dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai kalangan. Inti ritual tradisional ini ditandai dengan pembukaan kain mori pembungkus benda yang dikeramatkan yang disebut cupu. Masyarakat meyakini, garis atau gambar yang timbul dalam kain mori pembungkus mungkin saat ini tidak saja menunjukkan kepentingan para kaum petani belaka, namun diyakini sebagai tanda-tanda atau simbol berbagai hal yang diyakini akan terjadi di masyarakat secara luas.

Acara pembukaan cupu panjala di Dusun Mendak Desa Girisekar Panggang ini adalah sebagian kecil dari ritual dan tradisi lainnya yang masih diselenggarakan masyarakat di wilayah Gunungkidul.

“Petunjuk” yang diberikan dalam lembaran-lembaran kain mori itu, menurut Bowo bisa juga dijadikan rujukan agar kewaspadaan selalu ada. Ia merujuk pada kebiasaan masyarakat Desa Girisekar dahulu yang selalu membaca tanda-tanda alam setiap akan melakukan kegiatan. Dan mungkin sekarang selain bisa membaca tanda-tanda alam, juga mesti belajar “membaca” tanda-tanda-tanda Zaman”.

Mari, sedulur-sedulur yang mau hadir nanti malam di Dusun Mendak Desa Girisekar Panggang. Jangan lupa siapkan property jas hujan, payung, dan lain-lain. Karena saat ini sudah memasuki musim penghujan.Jangan lupa tetap pakai MASKER guna jaga diri dan orang lain cegah Covid-19.

 ***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.