, , ,

#OraMbrebegiNingNgrampungi

oleh -297 views

Dalam politik, bahasa bisa berubah menjadi elastis, lentur dan cair. Slogan dan jargon kampanye dengan mudah dipelintir dan dirancukan. Bahkan diplesetkan seenak wudel sang empunya mulut. Harap maklum, memang lidah tak bertulang. Demikian adab bahasa dalam dunia perpolitikan kita. Bahasa sesungguhnya adalah alat komunikasi yang netral. Namun sikap netral itu berbeda dengan objektif. Netral itu tidak berpihak. Objektif itu berpihak pada yang benar. Tagar (hastag) #orambrebeginingngrampungi sesungguhnya menyimpan netralitas. Tetapi ia juga sesuatu yang objektif.

Jangan heran, tagar #orambrebeginingngrampungi anggitan Pasangan BABE menjadi salah satu “korban” permainan bahasa Pilkada Gunungkidul 2020. Tagar ini menjadi  arbitrer karena dapat disematkan pada aktifitas, kegiatan dan perilaku terkait Pasangan BABE, yang bagi kompetitor dapat menjadi bahan lelucon, sinisme dan banyolan. Contohnya, saat Pasangan BABE mendaftar ke KPUD Gunungkidul dengan mengendarai mobil VW, banyak “pengamat” memberi komentar: “Jarene ora mbrebegi kok malah konvoi? Piye to karepe?” Ya begitulah adab politik. Para badut pun berpesta pora melalui bahasa.

Jika saja kita mau membuka sedikit sikap positif, tagar #orambrebeginingngrambungi memiliki arti yang sangat luas dan kaya dengan nilai filosofi. Tagar ini ini sebanding dengan pepatah “Sedikit Bicara Banyak Bekerja”. Eskplorasi makna yang lebih mendalam, tagar ini ingin mengatakan bahwa bekerja itu perlu ketenangan, fokus pada masalah dan menghasilkan solusi yang konstruktif.

Tagar ini juga mengedepankan bahwa setiap ucapan perlu dipertanggungjawabkan dalam tindakan. Ada kesatuan antara pikiran, ucapan dan tindakan.Pujian, sanjungan dan hal-hal yang artifisial bukan menjadi tujuan utama. Kepercayaan diri, kerja keras dan bermanfaat bagi kemaslahatanlah yang menjadi ruh dalam melayani masyarakat.

Jika kita meresapi lebih mendalam maka figur yang memiliki pengandhel seperti di atas bukanlah figur yang suka tebar pesona atau gemar merebut corong mic dan mengeraskan suaranya untuk didengar di panggung kekuasaan. Ia bukan figur yang suka berbusa-busa dalam beretorika. Ia adalah figur yang menep-meneng, sabar dan senantiasa bersyukur. Bambang Wisnu Handoyo adalah figur yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Betapa bahagia jika kita memiliki seorang bapak seperti beliau. ***

Tentang Penulis: Wahyu Widayat

Wahyu Widayat
Fasilitator pelatihan kepemimpinan, motivasi dan komunikasi. Hobi fotografi dan menulis. Pernah bekerja di perusahaan pertambangan di Papua dibidang HRD and Leadership Development. Saat ini aktif dibidang pendidikan dan pemberdayaan sosial di Gunungkidul.