Pagi Itu Kopiku Terasa Pahit

oleh -142 views
Kopi pagi. Foto: Riswanto.

Terkadang aku sangat merindukan kokok ayam jantan yang kluruk bersaut-sautan memanggil sang mentari untuk segera keluar dari peraduannya. Mungkin sudah beberapa puluh tahun aku tidak merasakan seruan merdu pithik jago yang kluruk saut-menyaut di kampung halaman.

Semua tergantikan oleh bisingnya laju kendaraan yang susul-menyusul seolah-olah dikejar setan. Namun, tetap kusyukuri, hal ini sudah menjadi hal yang rutin membangunkanku dari tidur malam.

Ada sebuah ritual yang kulaksanakan setiap pagi hari. Setelah solat subuh, maka menikmati secangkir kopi yang dibuat oleh istri tercinta menjadi rutinitasku sebelum berdandan untuk pergi glidik golek upo. Aku terkadang heran, kebiasaan ngopi sebenarnya diluar kebiasaan untuk orang-orang yang berasal dari kampung halamanku Gunungkidul.

Setahuku, sudah menjadi kebiasaan almarhum ibuku bahkan swargi Mbah Uti dan Mbah Kung tidak  ngopi, melainkan ngeteh. Ya, teh nasgitel dengan gula batu dan disandingkan dengan pacitan khas  seperti puli goreng, brangkal, tempe benguk dan kanca-kancanya. Entah dari siapa kebiasaan ngopi itu nurun ke aku. Yang jelas, setiap pagi kalau belum ngopi itu rasa nganu gitu deh.

Sambil meneguk kopi perlahan-lahan, aku masih terngiang akan kata-kata dari pimpinan perusahaan tempatku bekerja. Adanya pandemic Covid-19 ini maka rasionalisasi adalah suatu kewajaran. Perusahaan yang ikut babak belur dihajar situasi dampak pandemis corona sempat tutup total selama dua bulan. Hal inilah membuat beban terasa semakin berat, terlebih lagi semua belum tahu sampai kapan pandemi covid-19 ini akan berakhir.

Meski aku hanya karyawan kelas kroco, suasana pahit di perusahaan tempat kerja pun terbaca jelas. Keadaan perusahaaan amat sangat pahit saat ini, dan ternyata situasinya tidak jauh beda dengan perusahaan lain.

Namun, sebagaimana aku belajar dari kopi walau pahit tetap masih bisa dinikmati. Kopi tetaplah kopi dengan rasa pahitnya yang konsinsten tidak pernah berbohong. Di manapun kopi akan memberikan rasa pahit itu. Tinggal kita bagaimana bisa menikmati rasa pahit kopi tadi. Entah ditambah gula atau creamy yang kadang kala malah mengaburkan rasa kopi yang memang pahit itu.

Bagaimanapun kopi tetaplah kopi. Jika dicampur dengan kebanyakan bahan lain, bukan nikmat yang didapatkan, malahan menjadi rasa yang tidak karuan alias tidak jelas.

“Ayah sudah siang, ndak berangkat kerja?” sapa lirih istriku.

“Haaaa dah siang ternyata. Brangkat ma,” sahutku sedikit terkejut.

“Kopinya kok pahit ya ma?” lanjutku.

“Eeehhmmmmm,” suara istriku sambil mlengos.

Ayo tetap semangat kawan-kawanku semua. Ayo ndedonga semoga pageblug ini cepat berlalu. Jangan lupa penerapan protokol kesehatan tetep perlu dan harus!

Yang jelas, pagi itu kopiku berasa lebih pahit dari biasanya.

***

Tertanda: Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

 

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae