,

Pembelaan Togog: Sebuah Pidato Imajiner

oleh -59 views

“Saudara-saudariku yang saya hormati. Sebelumnya saya sampaikan rasa terima kasih kepada sampeyan semua. Cemoohan dan cibiran sampeyan tentang saya adalah bentuk perhatian dan rasa penasaran tentang keberadaan saya di Arcapada. Pada awalnya, saya memutuskan untuk diam menyikapi cemoohan dan cibiran sampeyan. Namun mengingat sumpah dan titah dari ayahnda tercinta Hyang Wenang dan ibunda Dewi Wiranti maka saya ingin menjelaskan kepada sampeyan semua”.

Pertama, saya dan 3 (tiga) saudara yang lain, Kakang Ismaya, Kakang Kanekaputra dan Kakang Manikmaya dititahkan untuk dua tugas utama. Tugas itu terkait menjadi Punakawan dan Kedewataan. Saya Togog dan Kakang Ismaya Semar mengampu tugas Punakawan. Sedangkan Kakang Kanekaputra dan Kakang Manikmaya mengemban tugas Kedewataan. Saudara dan saudariku, kami berempat lahir dari endhog-jagat yang sama. Kami berempat lahir dari satu telur. Tidaklah elok jika diantara kami dibanding-bandingkan. Betapa sedihnya hati Hyang Wenang dan Dewi Wiranti jika mendengar hal ini. Saya dan Kakang Ismaya dititahkan di Arcapada bukan untuk saling bersaing. Saya dan Kakang Ismaya memang berbeda bendhara, tapi sesungguhnya kami saling melengkapi dalam tugas perutusan ini. Bahkan tidak ada diantara kami berempat merasa paling baik dan paling mulia”.

Kedua, tuduhan yang keji jika menganggap Togog adalah pribadi yang serakah, penjilat, gila harta dan rakus. Saudara-saudariku, jika perilaku seperti itu yang saya perankan, bagaimana mungkin sarung yang saya kenakan ini begitu lusuh dan mbladhus warnanya? Selaku punakawan, pantang bagiku berperilaku semacam itu. Selaku punakawan Kaum Sabrangan, bagaimana mungkin gaya hidupku melampaui anak-anak asuhanku? Jika anak-anak asuhanku berpesta pora pun, aku tetap menjalankan titahku untuk lara lapa tapa brata. Saya dengan senang hati menahan rasa lapar. Punakawan tetaplah menjadi punakawan”.

Ketiga, sebelum lupa saya ingin menjelaskan soal penempatan tugas. Tugas saya menjadi punakawan Kaum Sabrangan. Kaum Sabarangan adalah kelompok non elit dan bukan para ksatria. Sedangkan Kakang Ismaya menjadi punakawan bagi kelas ksatria, yang berbudi luhur dan berjiwa besar. Jika karena perbedaan penempatan tugas ini sampeyan menilai tabiat saya menjadi buruk, tentu saja penilaian itu tidak adil. Sekali lagi, saya bukan pesaing Kakang Semar. Demikian pula sebaliknya. Peran saya dan Kakang Ismaya sama, tidak berbeda. Saya Togog dan Kakang Ismaya, berperan untuk MOMOT, MOMONG, MENGKU dan MANGKU. Keempat hal ini tak bisa dipisahkan. Keempat hal ini yang disebut CATUR SAGATRA. Inilah Model Kepemimpinan di Tanah Jawa. Ijinkanlah saya suatu saat mbabar model kepemimpinan ini”.

Keempat, ini yang terakhir dari pembelaan saya. Tanpa bermaksud membandingkan dengan Kakang Ismaya, tugas siapa yang lebih berat dan kompleks sebagai punakawan Kaum Sabrangan atau Para Ksatria? Togog atau Kakang Ismaya? Sampeyan mestinya adil sejak dalam pikiran, saudara-saudariku. Saya akui, saya bukanlah punakawan yang sempurna. Tetapi setidaknya, saya tak akan lelah untuk mendengarkan, bersikap sabar tanpa batas, tak lelah memberi nasihat, teguh dan kokoh mendampingi. Inilah jalan hidup saya dari Hyang Wenang. Inilah jalan sunyi yang harus saya emban”.


Demikian pembelaan saya,  Togog. Terima kasih saudara-saudariku telah mendengar pembelaan yang singkat ini. Sekali punakawan tetaplah punakawan. CATUR SAGATRA adalah darah dan daging Togog. ***

Tentang Penulis: Wahyu Widayat

Wahyu Widayat
Fasilitator pelatihan kepemimpinan, motivasi dan komunikasi. Hobi fotografi dan menulis. Pernah bekerja di perusahaan pertambangan di Papua dibidang HRD and Leadership Development. Saat ini aktif dibidang pendidikan dan pemberdayaan sosial di Gunungkidul.