, ,

Sarino dan Catur Sagatra

oleh -213 views

Gelap menjemput malam. Mendung pun merenggang saat Sarino menghadap gurunya. Bertanyalah Sarino pada Sang Guru. “Guru, jelaskan padaku tentang kepemimpinan Jawa?”. Ia yang disebut Guru lalu merapikan sarungnya seraya menyulut lintingan rokok klembak menyan. Terdengar suaranya memberat agak serak.

“Sarino, pernah kujelaskan padamu tentang Hastabratha. Semoga kamu masih ingat. Hastabratha adalah delapan sifat seorang pemimpin yang mendasarkan pada sifat-sifat utama para dewa. Tetapi jika kamu ingin ilmu yang tua dari Hastabratha maka jawabnya adalah Catur Sagatra. Mengapa aku katakan lebih tua? Karena Catur Sagatra adalah dari sangkan paran, bibit kawit dan mula buka. Catur Sagatra adalah personifikasi Antaga (Togog), Ismaya (Semar), Kanekaputra (Narada) dan Manikmaya (Guru) yang lahir dari satu endhog jagat”.

Catur itu artinya empat dan Sagatra artinya ikatan, hubungan dan persaudaraan. Meskipun ada empat nilai tetapi hakikatnya satu dan tak terpisahkan. Keempat nilai itu adalah momot, momong, mengku dan mangku. Sarino…Sarino, apakah kamu masih mendengarkan?

“Sarino, camkan dan ingatlah empat hal ini agar engkau tak salah melangkah jika kelak menjadi pemimpin. Pertama adalah momot. Momot artinya akomodatif. Seorang pemimpin harus mencegah, menanggulangi dan menyelesaikan masalah. Pemimpin harus berdiri paling depan menjaga keselarasan dan harmoni di masyarakat. Pemimpin harus ajur ajer menyatu diantara yang dipimpin. Sarino, milikilah sikap luwes dan fleksibel dengan siapapun. Jangan lelah untuk mendengarkan keluhan para warga. Jika kamu bisa bersikap momot maka kamu disegani oleh para pengikutmu”.

Kedua adalah momong. Momong, berarti memfasilitasi. Memfasilitasi itu memberi kemudahan. Jadi pemimpin janganlah memperumit situasi. Sederhanakan yang rumit agar mudah dipahami. Terkadang masalahnya sederhana tetapi karena kamu tidak bisa momot maka masalah itu menjadi rumit. Demikian juga jika kamu membuat sistem dan aturan. Sistem dan aturan dibuat untuk memfasilitasi masyarakat agar mudah mengakses dan mentaatinya. Jika sistem dan aturan tidak menghormati kamanungsan, lalu untuk apa dibuat? Berikanlah kemudahan dalam segala, tetapi jangan meninggalkan prinsip utamanya, yaitu muliakan harkat dan martabat para warga”.

Ketiga adalah mengku. Mengku artinya protektif. Seorang pemimpin harus bisa melindungi siapapun yang dipimpinnya. Pemimpin tidak memihak golongan dan kelompok seraya mengabaikan kelompok lain. Masyarakat kita beraneka ragam. Tidaklah elok jika pemimpin hanya melindungi satu kelompok saja. Seorang pemimpin harus bisa menjaga, melindungi dan menjadi tempat bernaung bagi warganya. Kamu paham Sarino?”

“Ini yang terakhir, Sarino. Keempat adalah mangku. Mangku berarti tanggung jawab. Ukuran manusia yang sesungguhnya bukan derajat atau pangkat, tetapi tanggung jawab yang dimilikinya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Bertanggung jawab adalah keterampilan merespon setiap masalah yang muncul. Bertanggung jawab adalah perwujudan dari kepercayaan masyarakat yang diberikan kepada seorang pemimpin. Bertanggung jawab adalah kewajiban seorang pemimpin”.

“Sarino, Sarino… Sekali lagi lagi kutegaskan padamu, Sarino. Catur Sagatra itu ilmu punakawan. Tugas utama punakawan adalah melayani. Melayani adalah suatu kewajiban. Melayani dengan sepenuh hati untuk kemuliaan bendhara-nya. Berbahagialah jika ada pemimpin yang masih ingat, merawat dan nggula wenthah ilmu punakawan ini”.

Malam semakin larut. Hawa dingin kian menjekut. Sambil mengunyah tempe bacem hangat bikinan Yu Jiyem, pikirannya mencerna Catur Sagatra ajaran Sang Guru. ***

Tentang Penulis: Wahyu Widayat

Wahyu Widayat
Fasilitator pelatihan kepemimpinan, motivasi dan komunikasi. Hobi fotografi dan menulis. Pernah bekerja di perusahaan pertambangan di Papua dibidang HRD and Leadership Development. Saat ini aktif dibidang pendidikan dan pemberdayaan sosial di Gunungkidul.