Siluman Serbuk Gergaji: Penjaga Pemotor dari Risiko Kepleset Akibat Tumpahan Solar di Jalan Raya

oleh -739 views
Mereka para anonimous, turut menjadi penjaga keselamatan lalu-lintas dengan memberi serbuk gergaji pada tumpahan solar di jalan raya. Foto: SL/ist.

Siluman Serbuk Gergaji, itulah istilah yang pas buat para anak muda yang sigap meminimalkan risiko kecelakaan lalu-lintas pada jalan raya yang ketumpahan solar. Ya, mereka para anak muda tak dikenal, atas inisiatif sendiri segera menaburkan serbuk gergaji apabila menemui situasi adanya tumpahan solar di jalan raya.

Pada ruas jalan dari Piyungan sampai Wonosari contohnya. Tumpahan solar dari kendaraan sering ditemui dari tikungan Bokong Semar Patuk sampai tikungan dekat Pondok Al Muntaz Sambipitu. Tumpahan oli tersebut membuat jalan jadi licin, sehingga berisiko bagi pengendara terutama pemotor mengalami kecelakaan lalu-lintas. Untuk saat ini, tumpahan solar di beberapa tikungan ruas jalan Wonosari – Jogja biasanya langsung tertangani dengan cara pemberian serbuk gergaji. Tumpahan solar diserap serbuk gergaji, sehingga jalan tidak menjadi licin, menjadi aman bagi yang melintas.

SeputarGK berupaya mencari tahu siapa para anonimous, atau boleh disebut OTK (orang tak dikenal) yang sengaja menaburi serbuk gergaji di tumpahan oli tersebut. Mereka ternyata para anak muda dari berbagai desa di Gunungkidul yang keseharian menglaju kerja di seputar Kota Yogyakarta. Jadi, mereka juga para pemakai jalan raya. Mereka berswadaya ikut menjaga keselamatan pengguna jalan lainnya.

Melalui penelusuran di Komunitas SL (Sedulur Lajon) dan ILJ (Info Lalu Lintas Jogjakarta), SeputarGK mendapatkan kontak pemuda anonimous tersebut. Pemuda itu bernama Ferdi Sudarsono (30), dari Dusun Klepu Desa Nglegi Kecamatan Patuk. Ia mengaku, sudah sejak 2017 menaburi ceceran oli di spot-spot rawan. Ia juga meninggalkan karung berisi serbuk di sekitar tikungan yang biasa terkena ceceran oli untuk cadangan jika diperlukan lagi.

Serbuk gergaji tersebut diperoleh Ferdi dari tempat penggergajian kayu di dekat rumahnya. Karena kebiasaan yang dilakukan, ia sampai hafal spot atau tikungan mana saja yang sering ketumpahan oli. Antara lain disebutkan: Tikungan PP AlMumtaz Sambipitu, tikungan SMP Putat, tikungan Pedotan, tikungan GCD, tikungan Slumprit, tikungan bawah Gerbang Kabupaten, dan tikungan Bokong Semar Piyungan.

Penaburan serbuk gergaji pada tumpahan solar di jalan raya agar terhindar dari risiko tergelincir kehilangan kendali mengemudi. Foto: SL/ist.

“Awalnya pas saya lewat mau bekerja kok ada ceceran solar di beberapa titik tikungan. Saya pernah menjumpai ada pengendara motor yang jatuh terpeleset solar tersebut. Nah, saya berpikir dan segera mencari serbuk gergaji, lalu saya taburkan di tumpahan solar tersebut. Berikutnya, saya menyetok serbuk dari tukang gerji dekat rumah di beberapa titik rawan ceceran solar,” kata Ferdi menceritakan asal mula tindakan yang dia lakukan.

Gayung bersambut, kebiasaan menaburi serbuk gergaji pada lokasi tumpahan solar tersebut diteruskan kawan-kawan Ferdi, para pemotor yang tergabung dalam Komunitas Sedulur Lajon dan Info Lalu Lintas Jogjakarta. Tanpa ada yang memberikan komando, begitu ada tumpahan solar di beberapa titik, maka anggota komunitas yang sedang melintas melakukan tindakan menabur serbuk gergaji. Adanya saluran media sosial dari kedua komunitas tersebut sangat membantu respon dan reaksi cepat yang dilakukan anggotanya.

“Tumpahan solar pada tikungan tersebut berasal dari bermacam kendaraan. Ada truk, bis, minibus, bahkan truk pengangkut BBM juga. Saya juga pernah ngejar truk pengangkut BBM dan saya beri peringatan karena tumpahannya banyak. Pada saat saya pas tidak kerja, saya biasanya langsung beri serbuk gergaji pada lokasi tumpahan tadi,” lanjut Ferdi.

Ferdi sampai saat ini tetap menjadi pekerja harian lepas. Ia mengaku tidak ingin menjadi orang yang terkenal di komunitasnya. Apa yang dilakukan selama sebatas apa yang bisa dilaksanakan sembari berkerja. Tujuannya hanya satu, tidak ingin ada korban lalu-lintas akibat tumpahan solar di jalan raya. Karena itu, sampai saat ini ia terus berusaha selalu mengamati titik-titik rawan kejadian tumpahan solar dan segera menaburi serbuk gergaji saat mengetahui. Ia juga menyediakan stok karung berisi serbuk gergaji di dekat spot-spot rawan tumpahan tersebut.

Catur Joko Susilo (36), anggota Komunitas SL yang setiap hari bekerja di Jalan Parangtritis ini juga mengikuti apa yang dilakukan Ferdi Sudarsono. Pemuda dari Dusun Jatirejo Desa Gari Kecamatan Wonosari ini mengiyakan, bahwa penempatan serbuk gergaji ini dilakukan karena sering terjadinya kecelakaan lalu-lintas terutama tikungan-tikungan rawan kecelakaan.

“Ceceran solar ini hampir setiap mingguan terjadi di tiap tikungan. Kecelakaan terjadi saat pengendara motor tanpa sengaja menginjak ceceran solar ini yang akan membuat motor kehilangan kendali, lalu terpeleset karena kondisi menikung. Serbuk gergaji ini sangat efektif untuk menghilangkan bekas solar yang menempel pada aspal dibandingkan dengan menaburkan tanah atau pasir,” ungkap Catur.

“Sebenarnya pemberian serbuk gergaji ini sudah sejak dulu dilakukan. Tapi belakangan ini bisa dibilang Mas Ferdi yang selalu aktif menempatkan serbuk gergaji ini. Kendalanya adalah karung untuk membawa serbuk gergaji ini. Melalui komunitas SL, kami coba untuk meminta bantuan kepada teman-teman pelajon. Bagi yang punya karung bekas untuk dapat dikumpulkan, dan alhamdulillah banyak yang merespon,” imbuh Catur.

***

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.