Cat Putih

oleh -431 views
Semprotan pilox putih penanda kerusakan jalan raya. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – Hampir saja nyawaku melayang, itu terjadi pada Mei 2014. Kuingat persis pada siang itu, kutarik gas memacu Mio warna merah dari rumah seorang teman di Karangmojo menuju Semanu, Negeri Kahyangan.

Kulewati perempatan Karangmojo ke arah selatan, melewati jalan mulus, dengan indikator speedometer sekitar 60-70 km/jam. Entah sedang memikirkan apa, tak kunyana tak kukira, tetiba ada jalan yang krowak di depan roda. Jalan aspal yang berlubang cukup dalam sekilas terlihat tinggal dua jengkal. Tak sempat tangan kiri atau kanan menarik rem apalagi mulut mengucap doa atau mantra.

Duuk, duuk!! Suara lumayan keras ketika ban terantuk sisi aspal, tangan kiri kanan pun bergetar sangat keras terantuk stang. Motor matic Jepang itu menyeruduk aspal rusak, reflek badanku menunduk dan otot menegang. Modyar aku! Sekelebat kubayangkan badan mental dan terjungkal.

Namun detik berikutnya menggumpal rasa lega, karena ternyata stang masih terpegang kedua tangan. Roda melenceng oleng, namun tak keluar dari jalan. Untung tak ada kendaraan yang lewat dari depan maupun belakang.

Dada berdegup kencang. Lagu pujian komat-kamit keluar dari mulut. Motor melaju pelan dan tenang kembali. Kulihat telapak tangan kiri dan kanan memerah, tangan kanan terasa nyeri dan kulihat ada gumpalan darah di dalamnya. Slamet sega liwet, untungnya selamat.

***

Kisah tujuh tahunan yang lalu itu kuingat lagi siang ini. Tadi kulewat di jalan yang sama. Halah, sebenarnya ya sering melewati dan tak ada istimewanya. Namun kali ini berbeda. Ada cat putih di sana-sini kujumpai melingkari setiap aspal yang krowak dan nggronjal.

“Rusak parah jalan ini…” batinku. Mungkin karena pandemi lalu dana perawatan tak mengalir lagi.

Sepi siang tadi, namun warna putih tanda itu mengungkap tanda bahaya yang menggema, “Awas, ini bahaya, jangan diterjang!” Meski tak ada tulisan yang bisa dibaca dengan huruf tertata kalimatnya.

Tanda itu menyuarakan dengan jelas para pengambil kebijakan yang kadang kelewatan, “Hei, jangan kau makan aspal, karena krowaknya jelas memangsa jiwa!”

Tanda itu menyiratkan tak cukup satu dua coretan yang diperlukan, namun lobang berikut juga perlu penanganan.

Tanda itu mengungkap jiwa manusiawi dari seseorang yang menyempatkan diri berhenti, dan mengambil pilox menyemprot pinggir tiap sisinya.

Jiwamu seputih coretanmu.

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.