Tongkat Kayu pun Bisa Jadi Tanaman

oleh -181 views
Bertani, melatih diri meyakini sebuah pengharapan. Foto: Bilal.

Ada tembang lawas Koes Plus yang cuplikan liriknya demikian, “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Sobat semua, saya tahu keadaan semakin genting saja. Hiruk pikuk berita yang kemarin sempat menenangkan dan memberikan harapan ternyata hingga kini sebagian belum juga terealisasi. terutama hal-hal yang berkaitan dengan PERUT.

Sebagai warga negara yang memiliki dasar PANCASILA, tentunya kita masih berpegang teguh pada keyakinan yang luar biasa kuat. Tuhan tak mungkin menguji umatnya di luar batas dan kemampuan mereka. Dalam situasi dan kondisi inilah kadar keimanan kita ditimbang.

Saya pribadi mengimani kondisi saat ini adalah serpihan padang mahsyar yang diturunkan sebelum saatnya. Kenapa demikian? Mari dengan sisa-sisa tenaga melawan lapar ini kita merenungkan. barang siapa yang bekalnya banyak niscaya akan menikmati surga kecukupan, namun jika tak memiliki bekal sama sekali maka NERAKA kelaparan siap menganga menanti jatuhnya sang pesakitan di sirotolmustakim.

Lalu, adakah yang bisa menolong? Ada, yaitu:

1. Ilmu yang bermanfaat. Kemampuan yang kita miliki dari hasil berburu pengalaman baik itu pahit, getir, hingga menjadikan jiwa dan raga ini mampu bertahan melalui kecerdasan.

2. Doa dari anak soleh. Ketika kita sebagai seorang yang pernah/sedang membesarkan seorang anak, dalam kenyataannya jika salah asuh maka tak jarang seorang anak justru merengek minta ini-itu. Terkadang hanya muncul MARAH, atau bahkan hanya berkata, “KAMU GAK TAU KALAU SEKARANG LAGI KRISIS APA?” Jangan! Seperti apapun perangai anak kita, janganlah dimarahi. Itulah cermin dari didikan kita. Tetap sayangi dia dan berikan yang terbaik.

Saat ini saya sangat terharu, karena ketika anak saya beri sepotong roti, dia hanya memakan sebagian lalu bermain lagi. Kenapa Nak? “Buat besok lagi Pak” Subhanallah… di usianya yang baru 4 tahun seharusnya belum merasakan apa itu krisis, tapi Allah maha menyayangi kami. Apapun yang terjadi, urip mati ndherek Gusti.

3. Harta yang dibelanjakan di Jalan Allah. Dalam hal ini tak perlu saya tulis, karena hanya Dialah yang Maha Tahu segalanya. Alhamdulillah kami dalam keadaan cukup penuh berkah, kalaupun berlebih, jiwa dan raga ini hanyalah perantara. Mari berdoa selalu agar terhindar dari ujub yang pamer saat memberi, dan tidak berterimakasih setelah menerima.

Teman-teman yang selalu dalam perlindungan Tuhan, kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Apakah besok akan memburuk ataukah akan membaik. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah bersiap-siaplah untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

ELING LAN WASPADA, hanya itu kunci yang kita pegang untuk bisa membuka pintu dan keluar dari segala ujian ini. Menurut saya, penting untuk melihara semangat hidup dengan selalu memupuknya dengan silaturahmi.

Ayo, masing-masing dari kita dengan tenang men-survey dan menghitung segala sumberdaya yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup. Tetap lakukan sesuatu semampu kita agar Tuhan semakin sayang kepada kita.

Ayo berhenti mengeluh. Cukup dengan orang-orang yang benar-benar “sehati” saja yang tahu apa yang kita rasakan, seandainya memang muatan beban tak mampu kita pikul sendiri.

Salam hangat dari lereng pegunungan dingin Ngangkruk, Pilangrejo.

Tentang Penulis: Bilal Surahman

Bilal Surahman
Pemuda desa. Kerja apa saja yang penting halal. Sering diajak bekerja sebagai pemandu wisata. Tinggal di kampung dekat puncak bukit Pilangrejo Nglipar.