Perebutan Warna pada Bulan Kebangsaan

oleh -431 views
cat pagar momen hut ri
Ilustrasi. Warga di Bejiharjo, Karangmojo mengecat pagar dan Pos Ronda.

“Ayook, nglabur!” Dhawuh singkat dari pak RT ini, pada puluhan tahun yang lalu, kini terngiang kembali.

Laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak2 warga kampung pun serentak menganggukkan kepala. Semua wajah kelihatan sumringah, termasuk saya yang masih bocah. Setiap warga RT seakan memegang buku panduan bahwa ketika memasuki Bulan Delapan ada yang tak boleh terlewatkan yaitu mengecat pagar atau pager. Orang mBantul menyebutnya dengan istilah “Nglabur”.

Kami rame2 mengecat pagar di jalan-jalan kampung dengan batu kapur atau labur. Maklum barang yang terjangkau kas RT hanya itu. Jelas bukan cat merk Decolit atau semacamnya yang harganya berpuluh-puluh kali lipat dibanding dengan kapur. Cara menyiapkanya pun sangat sangat mudah. Dua plastik batu kapur dimasukkan dalam ember hitam besar lalu dituang air hampir penuh. Beberapa detik kemudian air itu akan mendidih dan batu kapur akan lebur menjadi mirip cat putih produk pabrik. Dan cat produk lokal siap dimainkan.

Waktu itu, hampir semua pagar terbuat dari bambu atau bethek. Hanya pagar rumah dan jalan pak Surojo yang terbuat dari tumpukan batu bata merah berukuran sangat besar dan telanjang, mengelilingi rumah joglo itu. Berkat labur, semua pagar baik yang masih bethek maupun yang sudah bata tercat dengan rata.

Warna putih mendominasi kampung kami pada Agustus. Kami menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia dengan menuntaskan nglabur pager-pager pinggir jalan. Tak ada makna khusus warna putih itu, eehmm, mungkin makna bersih atau suci begitu. Tapi yang paling penting waktu itu yaitu bahan kapur itu terasa murah, terjangkau, rata, dan bisa dikerjakan bersama-sama dengan becanda-gembira.

Sekali lagi, rasanya senang seakan kami baru saja pulang menang perang. Bak prajurit Indonesia yang baru saja meluluhlantakkan tank dan tentara Belanda lalu pulang dari medan juang. Itu saja. Titik.

*

Putih adalah tanda. Putih adalah jenis warna. Suci adalah sebuah makna di balik warna itu. Tanda itu pun masih bisa diperebutkan maknanya. Putih tak selalu berarti bersih, ia bisa diartikan pucat atau menyerah. Merah tak selalu diartikan berani, ia bisa diartikan habis atau situasi bahaya.

Tak usah jauh-jauh. Di dalam rumah saja, dalam satu keluarga sering terjadi perebutan makna warna. Apa warna yang dipilih oleh anak laki2 bisa diartikan berbeda oleh bapak atau ibunya. Misalnya warna sepeda merah muda yang dipilih, bisa diartikan lemah oleh bapaknya.

Begitu pula dalam kehidupan negara tercinta, warna menjadi tanda penuh makna. Namun pada situasi politik tertentu yang terasa adalah perebutan tanda itu sendiri. Pada situasi kampanye, jenis warna tertentu seakan sudah menjadi makna itu sendiri. Biru sudah mutlak bermakna partai A, hijau partai B, kuning partai C, dan merah partai D.

Lihat saja pada jaman dinamika pemegang kekuasaan negara, dominasi dan perebutan warna terjadi bak perang. Contoh kecil yang bisa dilihat terjadi di sekolahan-sekolahan negeri pada jaman kuning atau biru. Atau seragam timnas sepakbola nasional yang tiba2 berubah dari merah-putih ke dominasi hijau. Bahkan pesawat kepresidenan yang didominasi biru.

Ah, itu dinamika politik kekuasaan, wajar saja jika warnapun dimainkan untuk meneguhkan kekuasaannya.

Nah, pada situasi pandemi ini, kurasa pemilihan warna-warna apapun semestinya dimaknai karakter-karakter yang menambah bekal menopang menghadapi pageblug ini. Ia, misalnya, adalah ketabahan, ketenangan, ketangguhan, dan kesehatian untuk mengelola bencana ini.  Bukankah kenyataannya saat ini memang situasi sangat menekan hidup, terjepit? Hal ini sangat jelas tergambar dari bendera putih yang dikibarkan oleh pedagang seputar Malioboro sebagai tanda menyerah.

Perang warna? Kurasa bukan saatnya. Pada situasi kepepet ini, perpaduan warna sepertinya justru menjadi kunci. Memang sih, saya ingin menikmati perpaduan indahnya warna merah-putih saat ini, namun sebenarnya tak hanya dua warna itu. Kurasa tak perlu meninggalkan satupun jenis warna, namun merayakan perpaduan semua jenis warna. Begitu satu warna ditinggalkan, ia bagaikan nyanyian lagu “Balonku”.

Saat balon Hijau meletus, hatinya sangat kacau.

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.