Ciherang Bikin Girang

oleh -487 views
Panen padi varitas Ciherang. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – “Ndino seduluuurrr, panen padi Ciherang. Ini lawuh jangan lombok. Sesuk menune gudangan gerih besekan niwul, jossss!”

Ungkapan ceria dari pak Dukuh Muji di FB ini ikut melegakan dadaku. Aku merasa sangat senang dan nge-like postingannya. Rupanya, beliau tengah memanen padi jenis Ciherang. Beliau memosting foto wajah ceria, senyum gigi mengkilat kontras dengan kulit hitamnya.

Sepertinya, pada siang terik tadi, ia sedang leyeh-leyeh rolasan di ladang bersama seorang ibu dan dua laki-laki sebaya yang membantunya lalu menunjukkan nikmatnya “Jangan Lombok”, sayur khas Negeri Kahyangan. Tampak dalam foto tangan kiri ibu itu memegang piring yang diangkat, sedangkan tangan kirinya memegang sendok dan mulutnya siap ngemplok. Kakinya diselonjorkan. Penuk banget.

Aku ikut lega? Kenapa ikut lega? Sederhana saja, pasalnya di tengah, kiri, dan kanan seakan sudah tak ada berita sukacita. Pageblug. Semua buram dan seakan tanpa pengharapan. Panen adalah buah harapan para petani. Bukankah sukacita para petani juga sukacita bersama? Hal yang sama juga diungkapkan para warga FB.

“Panen-panen Pak Dukuh!”

“Thiwule niku sing damel ngiler”

“Gerrrr pokoke!”

Perasaan sangat lega yang hampir sama kutemukan sore tadi ketika melayat seorang kerabat di Giri Panggung. Kebetulan aku duduk jejer di kursi besi bersama Pak Ratmin. Beliau kukenal seorang tokoh masyarakat dusun itu, juga sebagai petani.

Obrolan ngalor-ngidul di tengah menunggu upacara pemakaman itu seputar ulat pohon alpukat. Lha, depan mata tampak sebuah pohon alpukat yang buahnya sangat lebat, namun anehnya tak ada satupun daun tersisa. Semua dimakan ulat! Tiba-tiba, “Lha, niku kula pendeti pak!”

Mak tratab. Wah, jebul ulat yang memakan habis daun pohon itu kena batunya, pak Ratmin yang mengambili ulat lalu mengisahkan proses memasak dan menyantapnya dengan nikmat. Wadaww.

Akhirnya sampai pada kisah kronologis saat mendengar kabar lelayu. Pagi ini ia sedang memanen padi. Ia dibantu mas Sukar, seorang tetangganya. Hari ini terdukung dengan kesempatan cuaca panas, jadi dari pagi sampai rolasan mereka bisa ngarit 20 kresek. “Mengko tekan sore bisa 30 kresek ya, Lik?” Lik Sukar menganggukkan kepala. Mereka sepakat dengan target itu. Namun alangkah kagetnya mereka, ketika pulang untuk makan siang ternyata tetangganya meninggal. “Lha, dereng sempat makan…”

***

Hari ini para petani di Negeri Kahyangan sedang merayakan buah kesabaran. Mereka memetik buah pengharapan. Hari ini mereka sedang memberi teladan tentang ketangguhan.

Hari ini mereka sedang girang bukan karena kemenangan atas ringkihnya sektor wisata atau lainnya. Atau tersenyum seperti sedang mengejek pada pisang raja yang kehilangan makna simboliknya jadi sekadar pelengkap empat sehat lima sempurna.

Bukan itu. Mereka itu tetap lekat dengan tanah tanda rendah hati dan bersahaja. Hari ini mereka girang karena Ciherang. Itu saja.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.