Gertam Bambu: Upaya Konservasi Sekaligus Memasok Bahan Industri Rakyat

oleh -265 views
Gerakan tanam bambu di Dusun Ngepoh, Semin, Gunungkidul. Foto: RY/Dpp-Gk.

Kelompok Tani Hutan Dusun Ngepoh Kalurahan Semin didukung Dinas Kehutanan dan Lingkungan DIY dan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul telah melaksanakan gerakan tanam bambu wuluh pada awal Desember 2020 lalu. Gerakan ini dilakukan sebagai upaya nyata konservasi lingkungan sekaligus menyediakan pasokan bahan industri rakyat di masa mendatang. Sebagaimana diketahui, di wilayah sekitar Semin terdapat pelaku usaha aneka kerajinan rakyat berbahan baku tanaman bambu.

Sebagaimana diketahui, bambu ( Bambusa sp) merupakan tanaman serbaguna. Bagi masyarakat Jawa khususnya, bambu mempunyai fungsi pada tiap tahap kehidupan sejak dulu kala, mulai lahir sampai akhir.

Saat bayi lahir untuk memotong tali pusar masyarakat tempo dulu menggunakan bilah bambu, anak sunat juga menggunakan bilah bambu, juga saat membangun rumah dan lain lain. Selain itu rebung bambu merupakan makanan khas masyarakat pedesaan.

Bahkan bambu juga menginspirasi filosofi kehidupan masyarakat dengan sifat yang lentur namun sangat kuat. Juga ada kosa kata bambu adalah sama dengan “deling” yang berakronim kendel lan eling (berani tapi tetap ingat).

“Oleh karena itu, bambu perlu dilestarikan keberadaannya dan fungsinya di dalamnya termasuk untuk konservasi air DAS (daerah aliran sungai) dan penanggulangan longsor,” ungkap Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul Ir. Bambang Wisnu Broto, saat ikut menghadiri gerakan tanam seribu bambu di Poktan Hutan Tunas Lestari tersebut.

Acara gerakan konservasi lingkungan tersebut dihadiri juga Plt Kepala  Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup DI Yogyakarta Ir.Hananto, dari pihak DPP Gunungkidul, Panewu Semin Drs.Witanto,MSi., Lurah Semin Tri Sunarto, dan anggota Poktan hutan Tunas Lestari.

Gerakan tanam bambu tersebut dilaksanakan di sepanjang bantaran sungai sekitar air terjun Ngelo. Jenis bambu yang ditanam adalah Bambu Wuluh.

Lurah Semin Tri Sunarto menjelaskan,  kebutuhan Bambu Wuluh sebagai bahan baku industri kerajinan rumah tangga di Ngepoh sangat besar. Menurutnya, produk kerajinan bambu dari Dusun Ngepoh Semin telah menyebar ke luar DIY, bahkan sampai ekspor ke luar negeri terutama negara negara Eropa.

Tri menambahkan, saat ini industri kerajinan bambu telah menjadi mata pencaharian juga sumber pendapatan masyarakat Dusun Ngepoh. Hampir semua rumah tangga di Ngepoh menjadi pelaku industri kerajinan bambu. Ia berharap semua pihak dapat memberikan dukungan untuk mengembangkan tanaman Bambu Wuluh di Ngepoh.

Lurah ini juga menambahkan, bahwa di Dusun Ngepoh juga terdapat air terjun Ngelo yang cukup indah. Ia menyatakan masih butuh pengembangan, agar selanjutnya agar dapat menjadi salah satu destinasi wisata di zone utara Gununkidul

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Poktan Hutan Tunas Lestari Ahmat Jujur melaporkan, kebutuhan bahan baku bambu wuluh di Ngepoh masih sangatlah kurang. Ketersedian bahan baku lokal dari  Ngepoh saat ini hanya memenuhi 30% untuk kebutuhan bambu kerajinan, selebihnya 70% bahan baku bambu wuluh didatangkan dari Klaten, Boyolali, Jawa Timur dengan harga Rp 20 juta setiap satu truk.

Ia mengungkapkan, apabila hanya mengandalkan panen dari pertanaman bambu lokal hanya satu tahun sekali, sedangkan kebutuhan bahan baku setiap saat. Di sisi lain, ekspor kerajinan bambu ke Eropa sudah berjalan hampir 15 tahun.

Ahmat juga melaporkan, masyarakat saat ini telah menyiapkan lahan seluas 30 ha untuk pengembangan bambu wuluh. Tahap pertama memintakan bantuan bibit 1.000 batang bambu wuluh untuk 5 ha ke DLHK DIY, dan sudah direalisasikan saat ini.

Pelaksana Tugas Kepala Dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Ir. Hananto, dalam sambutannya berharap gerakan tanam seribu bambu di Ngepoh bisa memberikan multiflier efek peningkatan perekonomian lokal di tengah suasana pandemi ini. Ia juga berharap industri kerajinan bambu di Dusun Ngepoh ini juga mendapatkan dukungan dari OPD lainnya yang terkait.

Dalam temu wicara selepas acara gerakan tanam tersebut, Ir. Bambang Wisnu Broto menaruh harapan besar agar Dusun Ngepoh bisa berkembang menjadi KAMPUNG BAMBU. Ia meyakini, dengan kolaborasi antara industri kerajinan, kehutanan, pariwisata dan pertanian bisa mewujudkan impian menjadikan potensi di desa ini menjadikan destinasi wisata terpadu di zone utara Gunungkidul.

Dalam kegiatan gerakan tanam tersebut, DPP Kabupaten Gunungkidul juga telah memberikan bantuan bibit tanaman kelengkeng 400 batang. Sebanyak 500 bibit kelengkeng sebelumnya telah diberikan pada tahun 2019. (Dpp-Gk/RY/Bara).

***

Tentang Penulis: Basuki Rahmanto

Basuki Rahmanto
Toekang photo segala acara dan jurnalis KabarHandayani. Hobby jalan-jalan dan kuliner. Tinggal di Wonosari Gunungkidul.