Goyang Maju Tak Gentar

oleh -136 views
Toples merah putih berisi keripik singkong. Foto: Iwan.

Mak Serrr… Jantungku berdetak bak ketipung yang diketuk oleh pengendang. Pagi ini, alunan dangdut dengan lagu aneh menggelegar di kantor Kapanewon atau kecamatan di negeri Kahyangan. Alunan dangdut atau campursari sih biasa distel tukang sound memecah suasana beku pada acara-acara tertentu. Namun kali ini, ada lagu yang mengutik-utik telinga, lagu Maju tak Gentar versi goyang!

Mendengarnya dari jarak 100 meter, aku njenggirat campur seneng. Suka karena ada suasana riang dalam persiapan upacara 17-an. Kali ini upacara bendera tidak dilaksanakan di lapangan namun di kompleks kecamatan. Bokongku tak terasa megal-megol, dan leherku tiba-tiba lentur bak pohon bambu terkena angin kencang. Namun belum masuk syair, intro lagu nasional itu diganti lagu lain, kini irama keroncong Rayuan Pulau Kepala, eh kelapa. Yeeee…

Baiklah… Gara-gara pagebluk, kali ini saya tak ikut panas-panasan upacara. Tak ikut menghayati perjuangan para pahlawan eh, malah ngadem di rumah. Meski begitu, aku menyimak upacaranya, setidaknya lagu-lagu perjuangan yang distel… hehehe.

Lagu Maju tak Gentar tadi sempat menyalakan emosi ambyur di nuansa merdeka. Seakan ingatan ditempel baterai baru, nuansa tuk keluar dari kaki penindas, hati berkobar. Kaki lalu kaku bak binatang siap menyeruduk lawan, pokoknya iklimnya militeristik gitu. Nah, kemasan goyang tadi sempat menggeret ingatan akan situasi paska pembacaan teks proklamasi, dengan pandangan berbeda.

Begini, konon, setelah Soekarno-Hatta membaca teks proklamasi hasil kompromi dengan para pemoeda, banyak kekagetan dan perebutan di sana-sini.

“Hal-hal yang mengenai pemindahan kekoeasaan dan lain-lain diselenggaraken dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatndja.” Itu tak semudah nyruput kopi. Mau negoisasi atau menusuk perut lawan dengan bambu runcing, itu pilihan singkat. Jadi ada banyak cerita perundingan dan muncratan darah perlawanan dengan spirit, “Maju tak Gentar” di sana-sini.

Dibacakannya teks proklamasi tak berarti otomatis merdeka. Konsep bukan otomatis sudah terlaksana. Fotocopi buku tak berarti sudah membaca. Membaca tak berarti paham. Paham tak otomatis dilakukan. Seperti ketika saya disodori empat umbi ketela, tak lantas bisa disandingkan dengan secangkir kopi panas. Segera kusiapkan alat penggorengan, bumbu bawang-uyah, dan mati-matian melindungi diri dari cipratan minyak. Eh, ya ndak gitu amat sih.

Ok, kurasa yang penting yakin, menghadapi kontestasi apapun dengan gairah.Yuk, maju tak gentar.

Enak juga ditambah goyang!

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.