Inilah Cara Menghitung Karkas Daging Sapi

Penjual daging sapi di Pasar Argosari Wonosari. Foto: Kandar.

Nilai karkas daging sapi yang akan disembelih dan diambil dagingnya untuk dijual di pasaran menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap harga jualnya. Sebagai konsumen, tentu saja tak banyak masyarakat yang mau memperhatikan dan ambil pusing soal nilai karkas sapi. Akan tetapi, akan lebih baik apabila kita mengetahui bagaimana cara menghitung karkas sapi.

Mengetahui nilai karkas bukan hanya untuk mempertimbangkan harga daging sapi, tetapi juga untuk dapat menjadi pertimbangan saat akan memilih dan membeli hewan kurban.

Karkas daging sapi adalah nilai perbandingan antara jumlah daging dan tulang dengan bobot asli sapi hidup. Misalnya, sapi yang dipotong lalu kepala dan kakinya dilepaskan dari badannya, kemudian sapi akan dikuliti, lalu dikeluarkan isi perutnya dan dibelah menjadi empat bagian (dua paha depan dan dua paha belakang). Setelah itu, bagian-bagian daging dan tulang yang sudah dipisahkan akan ditimbang.

Contoh sapi bobot 500 kg dipotong, kemudian dipisahkan kepala dan kakinya dan dikeluarkan isi perutnya. Kemudian hasil timbang daging dan tulangnya adalah 250 kg, maka artinya karkas sapi tersebut adalah 50%.

Rumus karkas sapi = Bobot daging sapi (250 kg) dibagi Bobot sapi hidup (500 kg).

Setiap jenis sapi memiliki persentase karkas daging sapi yang berbeda-beda. Contohnya: sapi onggole, peranakan ongole, limousine, simmetal. Mereka memiliki persentase karkas yang berbeda-beda. Berdasarkan pengalaman praktis, para peternak bisa memperkirakan rentang nilai karkasnya sekitar 45-55%.

Jumlah bobot daging murni ketika nanti dipisahkan dari bagian tulangnya sekitar 30-45% dari bobot sapi hidup. Tetapi hal ini bergantung pada kondisi kondisi sapi. Secara mudah, bobot badan sapi juga akan mempengaruhi persentase karkas sapi. Semakin kurus seekor sapi maka akan menghasilkan persentase karkas yang rendah pula.

Selain itu, kualitas sapi dan tata cara penyembelihan juga mempengaruhi nilai karkas daging sapi. Sebagai contoh, kita bisa melihat adanya kasus daging glonggongan yang kadang muncul pada saat hari raya.

Apabila sapi mengandung banyak air dan lemak, tentu karkasnya akan berbeda dengan sapi-sapi yang rendah air dan lemak. Hal ini akan mempengaruhi juga pada hasil produksi daging.

***

Referensi: sapibagus.com

Loading

Facebook Comments Box
Spread the love