Karena Beruk Adalah Kenangan

oleh -253 views
Beruk sebagai alat takar. Foto : istimewa-Kabar Handayani/SG

Entah kenapa, setiap memandang ruangan depan rumah yang digunakan untuk gudang itu, selalu dan selalu aku tak kuasa untuk menahan derai air mata ini. Untuk kesekian ratus atau bahkan ribuan kali, aku lagi dan lagi memandang tumpukkan bagor dan ada beruk di atasnya. Hal sama yang terus bergejolak di dalam sanubari ini menyentuh melodi-memoriku terbawa melayang pada saat aku masih kecil. Waktu yang aku anggap paling membahagiakan dalam hidupku, karena simbok dan bapak masih sugeng. Lamunanku kembali terbayang, mereka seolah membiarkan diriku yang masih kecil itu untuk bermain dan bermain bebas lepas tanpa harus memikirkan apapun.

Fokus mataku tertuju pada sebuah beruk di atas bagor. Menurutku, beruk itu sendiri bukan sekadar alat ukur yang kebetulan ada, melainkan suatu produk budi dan daya, olah pikir manusia. Beruk adalah alat ukur yang terbuat dari buah kelapa ukuran besar dan pada bagian satunya dipotong sedemikian rupa  hingga membentuk seperti mangkok.

Tentang beruk yang diatas bagor  itu seolah mengikatku sangat erat dan menyeret pikiranku akan kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Pada jaman itu, beruk merupakan alat ukur yang paling vital untuk digunakan simbok untuk berdagang di pasar yang sedang hari pasaran. Simbokku adalah seorang pedagang kecil yang sering disebut orang “taker-taker”. Profesi ini diturunkan dari mbah putri yang juga berprofesi sebagai seorang “taker-taker”.

Seorang yang berprofesi demikian biasanya akan berangkat ke pasar saat dini hari. Sebelum para petani atau siapa saja yang mau menjual hasil panenannya datang ke pasar.

Entah karena apa, suatu hari beruk simbokku grimpil atau pecah atau sompal. Untuk mengganti beruk yang baru perlu proses panjang. Masalahnya, belum tentu takaran beruk baru akan menghasilkan takaran yang sama atau sesuai dan pas dengan hasil “taker-taker” dengan menggunakan beruk yang lama. Takutnya, apabila hasil “taker-taker” dijual ke toko-toko pengepul tidak mau terima karena berubah ukurannya.

Untuk itu, maka beruk yang sompal tadi dicoba disatukan kembali dengan jalan diikat dengan benang kenur. Untuk mengikatnya tentu saja harus melobangi beruk yang terbuat dari buah kelapa tadi. Cara melubanginya pada waktu itu juga tidak menggunakan peralatan modern seperti bor listrik kaya jaman sekarang, melainkan dengan alat yang namanya uncek yang mesti dipanaskan di bara api.

Nah, pada saat simbok nguncek beruknya, aku menungguinya. Tentu saja sambil bermain-main dengan beruk itu. Jelas terlihat, seolah-olah aku membantu simbok membetulkan beruknya. Pada saat simbok asyik membetulkan beruknya, aku tidak tahu asal muasalnya bagaimana bisa tiba-tiba tanpa sengaja uncek yang masih panas tersebut mlengse dan mengenai kakiku.

Tentu saja aku meraung-raung menangis menahan sakit, karena luka bakar cukup besar di kakiku. Seketika tanpa sadar, saat menuliskan kisah ini aku mengusap bekas luka di kakiku. Ternyata sampai kini masih ada bekas luka itu di kakiku yang sebelah kiri. Kini semua tinggalah kenangan. Perlahan-lahan menetes air mataku dan semakin bercuruan, dan yang tersisa hanyalah air mata yang mulai mengering di pipiku.

Masih dalam posisi duduk di teras rumah di tanah rantau sambil menikmati secangkir kopi dan menikmati indahnya matahari pagi. Perlahan-lahan aku berbisik pelan, “aku kangen Mbok.”

Tertanda : Penggemar Tongseng Pasar Argosari

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae, prinsip hidup : "mengalir aja seperti air"