Memanen Air Hujan: Solusi Atasi Krisis Air Bersih di Gunungkidul

oleh -336 views
Dropping air di wilayah Gunungkidul saat musim kemarau. Foto: KH.

Hampir setiap tahun beberapa desa di Gunungkidul kekurangan air bersih. Ironisnya, beberapa tahun terakhir Gunungkidul juga sempat dilanda kebanjiran. Ini membuktikan bahwa pada bulan tertentu curah hujan Gunungkidul intensitas tinggi. Hal inilah yang semestinya ditangkap oleh para priyagung yang kebetulan sedang memegang tampuk kepemimpinan.

Memanen air hujan (water harvesting) menjadi solusi sesungguhnya. Kita tidak perlu malu membikin bak tampungan air hujan, wong bukan sesuatu langkah yang keliru dan bukan pula langkah ketinggalan jaman. Di tempat lain, orang berpikiran jauh ke depan justru sudah banyak yang menerapkan teknologi pemanenan air hujan. Sudah ada banyak penelitian, bahwa kualitas air hujan juga memenuhi syarat sebagai air bersih untuk dikonsumsi rumah tangga.

Berapa sih sebenarnya kebutuhan air bersih yang kita perlukan tiap hari? Data kebutuhan air yang sudah distandarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum, untuk rumah tinggal kelompok menengah (perumahan biasa) kebutuhan air bersihnya = 180 liter/orang/hari.

Mari kita coba simulasikan. Misalkan pada kelompok rumah tinggal yang anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 3 orang anaknya, maka jumlah personilnya adalah 5 orang, dengan demikian prakiraan jumlah kebutuhan air bersihnya sebesar 180 liter/orang/hari = 5 x 180 liter = 900 liter. Jadi kebutuhan air bersihnya adalah 900 liter untuk orang per hari.

Sekarang, kita sudah mengetahui besaran jumlah air bersihnya dengan dasar tersebut. Coba kita tentukan sarana atau tempat airnya yang biasa disebut tandon atau bak air yang muat untuk cadangan 3 bulan. Kenapa 3 bulan? Ya kita asumsikan musim hujan 6 bulan, musim kemarau 6 bulan. Lha selama 6 bulan plus 3 bulan pertama anggap kita masih cukup air, tinggal sisanya yang 3 bulan masa krisis.

Dalam 1 hari per keluarga diperlukan 900 liter, dalam sebulan diperlukan 900 liter x 30 hari = 27.000 liter, atau 27 m3. Jadi, untuk setiap KK dalam waktu 1 bulan membutuhkan 27 m3 air. Apabila kita asumsikan masa krisis air dalam jangka waktu 3 bulan, maka akan membutuhkan air sebanyak 81 m3 per KK.

Itu artinya setiap KK membutuhkan tempat penampungan air hujan ( PAH ) yang mampu menyimpan 81 m3, untuk persediaan selama 3 bulan. Ini berarti bukan PAH kecil-kecil seperti sekarang yang hanya mampu menampung 2.000 – 4.000 liter. Gambaran mudahnya memang berupa Bak PAH berukuran 9 m x 9 m se tinggi 1 meter, atau 4,5 m x 9 m setinggi 2 m. Nah, kita tinggal hitung berapa jumlah KK-nya untuk kita sediakan PAH.

Caranya, yang mampu agar swadaya sendiri. Yang tidak mampu kita skemakan bantuan hibah. Misal per desa ada 500 KK akan diselesaikan selama 5 tahun. Maka pertahun harus ada 100 PAH terbangun dengan skema 20 buah tanggung jawab desa dengan ADD-nya, 30 buah tanggungjawab Kabupaten, 40 buah tanggungjawab Propinsi dan 10 buah sisanya oleh CSR dan swasta lainya. Maka dalam waktu 5 tahun ke depan kita akan bebas dari krisis air bersih.

Selain memanen air dengan cara PAH, pemda juga bisa memanen air hujan dengan cara menbuat embung atau danau buatan di daerah rawan banjir, sebagai persediaan air bersih.

Trimakasih.

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.