Menanti Kue Keranjang Nyah Tan

oleh -495 views
Nyah Tan setia dan ramah melayani pelanggan di toko kelontongnya di Pasar Munggi Semanu. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID –  “Pak, Si Burung Gagak datang lagi…” ujar istriku, sore itu. Matanya berbinar. Tangan kanannya memegang tas plastik kresek warna hitam. Ia baru saja mengambilnya dari gagang pintu depan rumah.

Istriku tidak sempat melihat siapa yang mencantelkannya, namun ia sudah tahu siapa orangnya. Kami kemudian membukanya. Di dalamnya ada makanan terbungkus tiga plastik bening. Satu plastik berisi tiga potong ubi rebus, terasa di tangan masih hangat. Satunya lagi berisi sayur gude, sayur berkuah yang terbuat dari biji gude, bentuknya mirip kedelai hitam. Sedangkan plastik yang terakhir berisi tahu bacem goreng, tempe kedelai bacem goreng, dan tempe mlanding. Hmmmm.

Istriku menyebut pemberi aneka makanan itu “Si Burung Gagak.” Burung yang diungkapkannya itu adalah jenis burung penolong yang tertulis di kisah Kitab Suci. Dalam kisah itu, burung-burung Gagak datang membawa roti, dan daging tiap-tiap pagi juga setiap petang lalu seorang abdi bisa merasa kenyang. Ia menebak si pemberi makanan bak burung Gagak itu adalah Nyah Tan!

Nyah Tan adalah istri dari Koh Tan, kami biasa memanggil begitu. Nama lengkapnya Tan Sjak Ay, namun konon karena sejarah bahwa “WNI keturunan Tionghoa yang masih menggunakan tiga nama untuk menggantinya dengan nama Indonesia sebagai upaya asimilasi”, ia bernama Wuryantari.

Ia seorang ibu 60-an tahun yang sudah sepuluh tahunan ditinggal suaminya yang “nama barunya” Sutantyo. Dari namanya, sudah bisa ditebak beliau bermata sipit, berambut lurus dan berkulit kuning langsat. Dirinya entah keturunan keberapa dari saudagar penyedia kebutuhan sehari-hari di sebuah ibukota kecamatan Negeri Kahyangan.

Tokonya di Pasar Munggi itu bisa dibilang besar di jamannya. Banyak yang menceritakan kesuksesan usahanya itu. Tersedia aneka kebutuhan sehari-hari, mulai dari sabun, alat mandi, makanan kecil, rokok, dan lain-lain. Boleh dikatakan, Toko Nyah Tan pernah menjadi tempat kulakan para pedagang dari pelosok-pelosok pegunungan.

Suatu hari ia ditanya, “Kapan Nyah Tan tilik ke negeri asal?” Pertanyaan itu ternyata membuatnya merasa keheranan. Ia memberi jawaban yang ungkapkan kecintaan pada tanah airnya, “Asalku, tanah airku ya di sini, kok ditanya kapan rencana tilik negeri asal, lha, wong sak jeg-e wis neng kene kok.”

*

Hari-hari ini, kuingat Gus Dur yang pada tahun 2000 mencabut Inpres Nomor 14/1967. Beliaulah yang membukakan pintu kebebasan merayakan tahun baru Imlek bagi masyarakat keturunan Tionghoa

Hari-hari ini, kunanti kue keranjang Nyah Tan sambil merenungkan bahwa tanda fisik yang diberi makna tertentu perlu selalu diuji dalam kenyataan: hitam tak selalu kelam begitu pula mata sipit tak otomatis pelit.

Gus Dur dan Nyah Tan kuhayati bak seekor burung gagak. Kehadirannya bukan penanda kematian, mereka datang menjaga irama kehidupan dan persaudaraan.

Mari kita rayakan!

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.