Menikmati Sambel Bawang di Tanah Rantau

oleh -110 views
Jajan sambel bawang di perantauan. Foto: Riswanto.

SEPUTARGK.ID – Dampak pandemi Covid19 yang luar biasa akhir-akhir ini, membuat merinding bulu kudukku. Bagaimana tidak? Hampir satu tahun penuh kita telah bertahan hidup di tengah kehadiran virus Covid-19 yang memporak-porandakan aneka sendi kehidupan.

Kebiasaan sehari-hari, kegemaran, dan lain lain mau gak mau menjadi porak-poranda dengan kehadiran si virus ini. Yang terlihat sangat jelas-jelas terpukul adalah dunia usaha. Banyak usaha skala kecil dan menengah harus gulung tikar. Banyak angkatan kerja baru yang tak mendapatkan kerjaan, bahkan banyak para pegawai yang harus rela nganggur karena kena PHK.

Namun, di antara keprihatinan ini muncul fenomena lain yang cukup menggembirakan hati. Banyak para pegawai korban PHK memulai usaha dengan berjualan makanan atau minuman. Bukan untuk mencari kelebihan dalam membuka usahanya, namun hanya untuk sekedar bertahan hidup dan beradaptasi dari kondisi yang tak menentu ini.

Yang cukup banyak bermunculan saat ini adalah usaha makanan berupa ayam geprek. Ya, ayam geprek serupa ayam goreng tepung ala fried chicken dipadukan dengan berbagai sambal. Ada yang dikombinasikan dengan keju dan lain-lain. Ini yang membuat jadi lain dengan ayam goreng yang sudah lebih dulu ada.

Aku tersenyum kecut, lha wong basicnya sambel ayam geprek itu adalah sambel bawang. Perlu diketahui, kuliner ini sudah amat sangat melegenda di tanah leluhurku di Gunungkidul. Generasi milenial atau generasi X,Y dan Z mungkin tidak pernah akan tahu dengan kuliner legendaris ini.

Tapi buat aku, ini adalah kuliner asli tanah leluhur yang amat sangat legendaris. Bagaimana tidak? Aku ingat betul waktu itu, ketika ibu belum kondur dari taker-taker di pasar dan mbakyuku ada keperluan yang penting, maka untuk memasak sayur mbakyuku ndak sempat. Karena itu, mau tidak mau pilihan akhirnya adalah sambel bawang ini. Sebutannya waktu itu “Nyambel Bawang”. Terlebih lagi pada saat itu untuk nasi putih atau beras itu mahal harganya. Setidaknya hal ini aku rasakan untuk kelas ekonomi keluargaku. Makan nasi pun harus dicampur antara sega tiwul campur sega putih atau istilahnya dipletik. Intinya ya segao tiwul yang dibuat atau dimasak mbakyuku  untuk setiap harinya.

Untuk saat itu, sambel bawang made in sendiri akan lebih nikmat. Asal ada cabe, bawang putih, dan garam jadilah sudah kuliner untuk teman makan siang. Tempat makan kadang kadang di kebun depan rumah ada pohon kecipir yang sudah berbuah, dan buah kecipir bisa untuk lalapannya.

Nah, ini rahasia yang mungkin belum banyak orang tahu, supaya sambel bawang gurih dan sedep, maka perlu juga menambahkan jelantah. Jelantah adalah minyak goreng bekas untuk menggoreng. Lebih top lagi apabila bekas ngoreng gereh. Nah menikmati kuliner sambel bawang ini bisa-bisa aku sendirian menghabiskan sega tiwul pletik sak ceting, karena nikmatnya benar-benar sundul langit.

Seperti siang ini, aku mengunjungi rumah makan ayam geprek yang ada di dekat rumah di seputar Tanjung Priok. Ngandel pra? Basicnya ya cuman sambel bawang to? Cabe plus bawang putih tambah garam dan dikasih jlantah. Memang ada yang katanya mozzarella apalah gitu. Tapi, sebenarnya ya gur ayam goreng tepung dipenyet, dikasih sambel bawang plus keju gitu.

Mak jlleeenggggg…… Begitu aku ngemplok ayam geprek dan nasi. Suapan pertama membuatku melayang kembali ke masa lalu saat-saat menikmati sambel bawang orisinil Gunungkidul. Apa sing dodol orang dari bumi Handayani juga nih warung? Aahhhhh bodo amatlah. Yang penting wareg neh, sudah gembira hatiku. Apapun itu, sambel bawang telah menjadi sarana untuk bertahan hidup.

Tertanda: Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

***

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae