Ngopi Apa Wedangan

oleh -171 views
Ilustrasi KOPIKAWI. Foto : Ris/SG

Sebagai seorang yang hidup diperantauan, seringkali terbersit dalam hati kecil ini keinginan untuk melakukan aktifitas masa lalu atau masa muda di kampung halaman. Hal-hal kecil membuat kerinduan ini semangkin memuncak membuat keindahan dalam alam pikir kita, hal-hal kecil yang mungkin saja untuk sebagian orang ndak akan direken, seperti halnya wedangan.

Tradisi wedangan di malam hari sangat lekat pada budaya masyarakat  Jawa terkhusus di Gunungkidul atau sekupnya lebih sempit lagi di Wonosari tanah tumpah darah dan tanah kelahiran aku. Wedangan adalah salah satu budaya, sebutan Wedangan merujuk pada sebuah aktifitas berjualan di malam hari pada sebuah tempat. Yang dijual di tempat itu adalah makanan dan minuman wedang [teh], beraneka ragam makanan tradisionil yang dijual di lokasi itu, seperti Puli goreng, Tempe Goreng, Jadah dan macam-macam kudapan tradisionil yang tentu saja sangat menggoda selera kita.

Dulu sekali yang amat sangat legend tempat untuk wedangan, sejauh yang aku tahu dan aku rasakan ada dua tempat yaitu tempatnya Lek Wario atau tempatnya Lek Beder. Sangking legendnya tempat itu, bisa bisa pulang kampung belum afdol rasanya kalau belum mengunjungi tempat itu untuk wedangan. Menikmati teh yang NASGITEL, sedolor pasti sangat paham akan arti dan kepanjangan NASGITEL kan, karena kata itu sudah menjadi  jargon mutlak bagi orang yang seneng wedangan.

Kadangkala orang mendatangi wedangan bukan saja bertujuan untuk menikmati teh NASGITEL yang disajikan saja, tapi juga sekaligus mencari suasana berbeda untuk sekedar hang out, mengobrol dengan teman akrab, menikmati suasana kota di malam hari.  Demikianlah, wedangan berkembang dari sekedar menjual makanan dan minuman, kemudian juga berusaha menjual suasana.

Kembali pada diriku yang merantau ini, untuk wedangan seperti di kampung halaman rasanya amat sangat sulit bahkan bisa dibilang ndak bisa sama sekali, karena suasana dan keadaan di tanah rantau amat sangat berbeda. Nah untuk mengobati rasa rindu akan aktifitas wedangan aku beralih untuk menikmati kopi sajah, mencoba mencumbu dan mengakrabbi si KOPI, jikalau sodare bilang aku sebagai penggemar kopi, ya….aku rasa belum cukuplah karena aku masih dilevel penikmat kopi sajah.

Buat aku, aktifitas ngupi paling syahdu itu, menikmati kopi di teras rumah sambil ditemani tab lalu  membuka buku elektronik serta membaca carita dari empu SH Mintardja dengan cerita “Pelangi Di Langit Singosari”, set dah…..syahdu bener,  udah endah banget dah dunia rasanya.

Seperti sore ini kopi dari Gunung Kawi telah ada di tangan, aku membeli dari toko online. Karena pengaruh sihir cerita dari empu SH Mintardja “Pelangi Di Langit Singosari”. kopi dari gunung Kawi
inih membuat aku teringat akan desa Panawijen yang terletak di kaki gunung Kawi, dimana pada waktu ituh Mahisa Agni, Ken Dedes dan Kuda Sempana membuat sejarah yang mengharu biru. Aku berharap mudah-mudahan kopi inih bukan kopi dari padang Karautan, yang mana dari pada padang Karautan terdapat hantu padang Karautan yang amat sadis dan horor, namun pada kenyataannya ternyata hantu Padang Karautan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Ken Arok yang amat sangat melegenda itu…

aaahhhh pikirankoh kok jadi mombro-mombro, malah nukil cerita “Pelangi Di Langut Singosari”, intine aku pesen kopi gunung Kawi dan kopi itu sudah datang, maafkan daku sedulur semua, karena aku telah beralih ke lain hati dengan menjadi penikmat kopi dan sudah hampir lupa untuk rasa dan gairah wedangan.

Salam ngupi……

Tertanda : Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae, prinsip hidup : "mengalir aja seperti air"