Politik Uang

oleh -187 views
Suji: Piranti (lidi yang dilancipi) untuk Nyoblos Bungkus Daun
Suji: Piranti (lidi yang dilancipi) untuk Nyoblos Bungkus Daun

Video pendek seorang anak muda saat menerima dan menunjukkan amplop berisi uang lembaran merah dan kertas bergambar paslon ternyata bikin gerah sebagian besar netizen di Gunungkidul. Besaran uang yang diterima anak muda yang murah senyum itu setara dengan honor sebulan seorang guru GTT/PTT. Dengan gamblang dan spontan, kita mengatakan video tersebut berkisah tentang politik Uang.

Ditengah situasi ekonomi yang sulit karena pandemi Covid 19, harap maklum bahwa semua orang butuh uang. Namun dalam konteks Pilkada Gunungkidul 2020, video tersebut sungguh melukai para pemilih pilkada. Politik uang terjadi karena pilkada Gunungkidul kali ini terjadi persaingan yang sangat ketat. Selain itu, iming-iming dari paslon berlangsung secara terus-menerus. Hal ini juga mengendurkan daya tahan dan sikap kritis masyarakat.

Dari pihak pelaku politik uang, tentu bisa dipertanyakan kreatifitasnya dalam kampanye. Tanpa bersikap sok moralis, kita juga bisa mempertanyakan nilai moral yang dianut si pemberi amplop. Lantas kita bisa menakar dan menganalis secara sederhana, pemimpin seperti apa yang akan dihasilkan jika sebelum terpilih justru memberi contoh dengan politik uang? Keputusan politik seperti apa yang akan dihasilkan jika dilakukan melalui politik uang? Bukankah nantinya sila keempat Pancasila hanya akan jadi panggung bermain sandiwara?

Politik uang selalu melahirkan penyalahgunaan jabatan. Bentuknya bisa macam-macam, semisal korupsi, lelang jabatan, tukar guling proyek dan lain-lainnya. Inikah yang kita kehendaki di pemerintahan daerah Gunungkidul? Dampak lebih luas lagi, politik uang dapat merusak sendi kehidupan sosial di Gunungkidul. Masyarakat menjadi terpola dan memiliki mindset bahwa segala hal bisa diukur dengan uang. Nilai-nilai goton royong, ritual dan budaya lantas diukur dengan hukum ekonomi, untung dan rugi.

Politik uang dengan mudah memancing kecemburuan sosial di masyarakat. Kecemburuan sosial seperti saling tuduh, saling mengolok-olok, iri hati dan sebagainya. Situasi dan kondisi macam ini bisa berakibat lahirnya konflik horizontal ditengah masyarakat.

Saya hanya berharap, semoga para penerima amplop itu sekedar ingin “ngerjain” si pemberi amplop. ***





Tentang Penulis: Wahyu Widayat

Wahyu Widayat
Fasilitator pelatihan kepemimpinan, motivasi dan komunikasi. Hobi fotografi dan menulis. Pernah bekerja di perusahaan pertambangan di Papua dibidang HRD and Leadership Development. Saat ini aktif dibidang pendidikan dan pemberdayaan sosial di Gunungkidul.