Lebih Baik Memberi daripada Menerima?

oleh -206 views
Mengisi amplop sumbangan. Dok: brilio.net.

“Lha, kalau jagong 100 atau 200 ndak apa-apa, ini jagongnya 1 juta. Nanti kalau dia punya gawe lalu mengundangku dadakan terus mengembalikannya bagaimana?”

Ungkapan ini adalah penggalan obrolan ringan di suatu ruangan pada Minggu kemarin. Semula, kami ngobrol tentang hajatan pada masa pageblug, khususnya jagong di masyarakat umum di Negeri Kahyangan.

Sepinya orang hajatan, digambarkan dengan istilah “ora ana apa-apa.” Namun obrolan menghangat ketika terpantik sebuah kejadian satu keluarga yang sedang syukuran, “namun” tetap menerima sumbangan dari tetangga. Istilahnya “nampa.” Keluarga itu mengundang tetangga dengan waktu yang dirasa mepet oleh teman ini.

Dari obrolan itu, tiba pada celoteh pengalaman teman yang, katanya, beberapa kali mendapat undangan dua atau tiga hari sebelumnya. Sepertinya, ia merasa gelisah terkait dengan ngamplopnya.

“Isa nubruk-nubruk ta?”

Saya membuka masker dan menyeruput teh panas di meja. Saya mengangguk mendengarnya, lalu nyeletuk, “Jadi kalau disumbang 1 juta, besuk juga mengembalikan nilai yang sama, ya?”

Ia hanya mengangguk dan tersenyum, luber makna.

Sebenarnya urusan angka-angka begitu, saya cuek. Tak terlalu suka membincangkannya dan benar-benar buta data. Tapi obrolan itu mengganggu matematika nalar, logika “harus sama angkanya” ini.

Di situ, pepatah “Lebih Baik Memberi daripada Menerima” tampaknya harus dilihat kembali. Saya mendapat kesan, kalau “memberi” statusnya selalu dilihat di atas “menerima.” Kesannya orang yang memberi itu lebih tinggi satu tangga, aktif, baik, dan julukan lain yang setara dengan itu. Sedangkan orang yang menerima di posisi sebaliknya, satu tingkat di bawah levelnya, pasif, hanya menengadahkan tangan, hina, dan sejenisnya.

Tapi kenyataannya tak seperti itu juga, kan? Dari obrolan tentang jagong, si penerima bisa berarti ia punya daya lebih membuka diri, bahkan punya energi untuk menghitung belasan kali agar bisa mengembalikan.

Begitu pula tentang memberi, ia bisa diartikan membuang turahan. Memberi untuk mengubah data bisa berarti menyuap, memberi dengan pamrih dipilih bisa berarti… Nah, itu saya sedang mencari artinya.

Kalau jelang pilkada?

Halah, mbok tema ini jangan diarahkan ke situ!!! Ha, ya sama-sama senang kan? Misalnya ada kandidat bupati yang nyah-nyoh memberi?

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.